Merencanakan Husnul Khatimah

Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah
(Founder Salehah Institute)

MuslimahTimes.com–Ameer Azzikra, putra ulama kondang Ustaz Arifin Ilham, meninggal dunia pada usia 20 tahun. Selama hidup ia berjuang melawan pneumonia akut dan infeksi ginjal. Kepergian seorang suami yang baru menikah selama 6 bulan ini, tak hanya menyisakan duka bagi sang istri dan keluarga besar, juga masyarakat yang mengenalnya.

Begitulah, tak ada batasan usia jika Allah memanggil. Tak ada kematian yang terlalu muda, karena yang masih muda belum tentu hidup sampai tua. Karena itu, menjadi renungan untuk kita semua, agar senantiasa siap menghadapi kematian. Penting untuk merencanakan husnul khatimah. Antara lain dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mengingat Kehidupan Setelah Mati

Jika kita ingat bahwa hidup di dunia hanya sebentar dan masih ada kehidupan sesudah mati, maka kita senantiasa berusaha berada dalam kondisi ketaatan kepada Allah Swt. Kita tidak pernah meninggalkan yang wajib, berusaha melakukan yang sunah dan menjauhi yang makhruah serta yang haram.

Kita memohon kepada Allah agar kelak dipanggil ketika dalam keadaan sedang bertaat, dan bukan bermaksiat. Misal, kita memohon agar wafat dalam ketaatan kepada Allah, meninggal saat sujud dalam salat, meninggal saat umrah atau haji, saat menuntut ilmu, zikir dan ketaatan-ketaatan lainya.

Biasanya, manusia meninggal dunia pada kondisi yang memang sehari-hari dia dominan memanfaatkan waktunya untuk itu. Misal, ada Qari’ atau pembaca quran yang wafatnya saat membacakan ayat suci Al-Qur’an dalam pembukaan suatu acara. Ada guru yang meninggal dunia saat mengajar. Demikianlah, apa amalan kita yang paling banyak kita terjakan, maka kemungkinan besar kita akan meninggal dunia pada saat kita sedang melakukan itu.

2. Memilih Amal Rahasia yang Terbaik

Di antara sekian banyak amal saleh yang harus dilakukan secara pribadi, kita bisa fokus memilih salah satu amalan yang paling dominan dan kita persembahkan yang terbaik. Pilihan amal pribadi yang paling mudah kita lakukan sesuai kemampuan. Amalan yang paling menyenangkan, yang kita sama sekali tidak merasa keberatan melakukannya. Amalan yang ketika kita melakukannya, kita asyik tenggelam di dalamnya.

Amal ini, hendaklah menjadi amalan rahasia pribadi kita, yang tidak kita ceritakan ke siapa-siapa. Kita tidak jadikan amal ini sebagai bahan branding dalam rangka membentuk citra diri. Ini benar-benar adalah amal yang khusus kita persembahkan kepada Allah Swt. Bukan untuk dipublikasikan.

Misal, ada seseorang yang sangat menikmati salat tahajud, maka itu amalan pribadi terbaiknya. Meskipun, dia juga rajin sedekah, rajin puasa sunah maupun yang lain. Namun, ia senantiasa menjaga salat malam dan mempersembahkannya sebagai amal terbaik yang diharapkan menjadi pemberat timbangan amal di yaumul hisab.

Demikian pula, ada yang sangat menikmati tilawah quran, maka jadikan tilawah berkualitas menjadi penghantarnya sebagai amalan terbaik. Mungkin ada juga orang yang selalu puasa sunah, maka persembahkan puasa yang terbaik. Ada juga yang sangat hobi bersedekah, sehingga sedekah menjadi amalan yang paling dia nikmati di antara jenis amal taat lainnya.

Bukan berarti kita fokus hanya mengerjakan satu amal taat, tapi kerjakan semua, namun pilih satu yang kita azamkan sebagai persembahan amal terbaik di hadapan Allah Swt.

3. Miliki Proyek Amal Jariah Terbaik

Kita memiliki keterbatasan waktu dan energi. Tidak mungkin sanggup mengerjakan segala hal. Pilih salah satu proyek amal jariyah terbaik, yang sesuai keahlian dan kemampuan. Sebuah proyek yang bermanfaat untuk umat. Proyek mulia yang kita persembahkan secara cuma-cuma. Hanya berharap pahala dan amal jariah semata.

Misal, seorang hafidz Qur’an memilih proyek mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu secara gratis. Seorang pengusaha sukses membuka pendidikan bisnis gratis untuk pemuda-pemuda pengangguran. Seorang dokter memiliki klinik yang khusus digratiskan untuk pasien tak mampu. Demikian seterusnya. Jadi, proyek ini benar-benar harus berorientasi pada tersebarnya manfaat bagi umat.

Mungkin akan ada bonus berupa materi. Mungkin akan ada publikasi atas proyek ini. Tidak mengapa, karena semakin luas publikasinya, semakin banyak yang tahu, maka akan semakin banyak orang yang mendapatkan manfaat dari proyek amal saleh ini. Dan, semakin banyak yang bisa kita berikan kepada umat, maka semakin banyak amal jariah kita.

Semoga dengan perencanaan tersebut, kita dan orang-orang yang kita sayangi, tidak menangisi dan menyesali kepergian kita, jika saat itu tiba.(*)