Mewujudkan Kepemimpina yang Adil dan Amanah. Mungkinkah?

Spread the love

Oleh : Yulida Hasanah

#MuslimahTimes –– Bulan ramadan memang bulan perjuangan. Buktinya, di bulan  puasa ini tak menyurutkan langkah kaki para tokoh muslimah dari berbagai kalangan untuk mengahadiri Forum Ukhuwah Tokoh bertemakan “Mewujudkan Pemimpin Adil dan Amanah”. Sebuah forum yang diadakan pada hari Ahad, tanggal 19 Mei 2019 bertempat di Meeting Room Ayam Bakar Wong Solo Kabupaten Jember ini memberikan warna politik yang khas bagi arah perjuangan politik muslimah di daerah tersebut.

Acara yang dikemas rapi, dipandu oleh Pembawa Acara sekaligus Host, Ustazah Azizah dan pemaparan materi oleh pemateri tunggal Ustazah Nauroh Alifah S.Si ini, sangat jelas dan memancing para peserta forum antusias bertanya dan memberikan tanggapan pada sesi diskusi.

Ustazah Alifah, membuka materi beliau dengan mengutip perkataan seorang ulama besar bernama Fudhail bin iyadh, “seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku kan tujukan doa tersebut pada pemimpinku”. Inilah sikap seorang ulama yang memahami bahwa kehadiran pemimpin yang baik yaitu pemimpin yang adil dan amanah, akan mampu mempengaruhi baiknya urusan rakyatnya, mulai dari urusan generasi, urusan sekolah, urusan keluarga, semua itu tergantung pada baik tidaknya seorang pemimpin.

Namun, apakah bisa pemimpin yang adil dan amanah ini mampu diwujudkan dalam demokrasi?. Beliau mengajak para tokoh yang hadir untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tersebut.

Demokrasi dengan asas sekulerismenya yang memisahkan syari’at Islam dalam pengaturan kehidupan , dengan pilar liberalismenya berupa empat kebebasan : kebebasan beragama, kebebasan berpendapat, kebebasan bertingkah laku dan kebebasan kepemilikan yang dijunjung tinggi. Tidak hanya itu, demokrasi juga tegak dengan penguasa kapitalisnya yang mereka tak kan bisa berkuasa jika tak memiliki modal besar menuju istana kekuasaannya. Demokrasi yang saat ini dipercaya sebagai kendaraan terbaik dalam melanjutkan kepemimpinan sebuah negara ternyata memiliki tujuan penjajahan ke negeri-negeri muslim.

Selain itu, beliau juga menyampaikan bukti bahwa demokrasi ini tidak akan pernah mewujudkan kepemimpinan yang adil dan amanah dengan sejarah umat Islam di Indonesia, di mana demokrasi telah melakukan pengkhianatan besar terhadap umat ini ketika merumuskan bentuk dasar negara pasca kemerdekaan. Hal itu terjadi ketika Piagam Jakarta dikhianati. Soekarno tidak pernah memberikan alasannya mengapa Piagam Jakarta tidak dijadikan sebagai dasar hukum dalam UUD 1945, dengan adanya pencoretan sepihak semua kata-kata Islami dari Pembukaan dan batang tubuh UUD.

Inilah yang semakin memperkuat bahwa hanya dengan kepemimpinan Islam, pemimpin yang adil dan amanah bisa terwujud. Hal ini bukan sekedar janji palsu.  Di bulan ramadan ini, Allah memerintahkan orang-orang yang beriman kepada Allah dan mengimani seluruh apa yang diturunkan olehNya dengan tujuan agar kita menjadi orang yang bertaqwa. Ketaqwaan yang dimaksud adalah mematuhi seluruh perintah Allah dan mejauhi seluruh laranganNya, dan bangunan taqwa inilah yang mendasari terwujudnya kepemimpinan Islam.

Dan syarat Kepemimpinan Islam ada empat : pertama, Aturan atau sistem yang diterapkan adalah bersumber dari Alquran, as sunnah, ijma’ sahabat dan qiyas (dalil syari’at). Kedua, dipimpin oleh seorang Khalifah atau Imamah. Ketiga, Keamanannya berada di tangan umat Islam, bukan asing/aseng. Keempat, wilayah batas teritorial negara tidak statis, sebab bukan berlandaskan pada nation state, namun rahmatan lil ‘alamin.

Selain itu, dalam kepemimpinan Islam, Kholifah memiliki tiga tugas utama, yaitu :

  1. Sebagai pihak yang wajib menerapkan Syari’ah secara Kaffah
  2. Menjaga harta rakyat, termasuk kepemilikan umum berupa sumber daya alam milik rakyat.
  3. Menjaga ketaqwaan rakyat.

Tak lupa, beliau juga memaparkan tentang syarat diangkatnya pemimpin dalam Islam yang mudah dan murah. Seorang Atheis bernama Michael Hart dalam Buku 100 Tokoh paling Berpengaruh di Dunia telah meletakkan Rasulullah Muhammad Saw dalam urutan pertama. Bahkan sejak berdirinya kepemimpinan Islam di Madinah sampai runtuhnya khilafah Turki Ustamani kurang lebih 1300 tahun Islam mempimpin dunia. Para sejarawan menyebutkan, 700 tahunnya sebagai the golden age. Jelas ustazah Alifah, semakin membuat para peserta rindu dengan kepemimpinan Islam.

Hari semakin siang, setelah melewati dua sesi diskusi, ada pertanyaan menarik dari salah satu peserta Forum Ukhuwah Tokoh waktu itu, beliau bertanya, “langkah apa yang harus kita lakukan agar kepemimpinan Islam itu kembali kita bangun?”.  Jawaban dari pertanyaan tersebut juga menjadi materi terahir yang beliau ulas.

Ada empat langkah yang harus ditempuh untuk membangun kepemimpinan Islam.

Pertama, melakukan aktifitas politik umat bersama jamaah dakwah politik dalam rangka mencerdaskan umat dengan Islam Kaffah, Islam sebagai Ideologi.

Kedua, bergabung dan bekerjasama dengan partai politik Islam yang berjuang menegakkan sistem Islam (Khilafah) berdasarkan metode kenabian dan akan memilihkan pemimpin untuk seluruh kaum muslim di dunia (Khalifah).

Ketiga, membahas ide-ide kepemimpinan dan syari’ah Islam secara kaffah, khususnya yang mengatur kemaslahatan umat sebagai bekal dakwah.

Keempat, meraih dukungan Ahlu Quwwah melalui pemikiran dan kesadaran politik Islam.

Inilah empat langkah yang ustazah Alifah sampaikan, beliau juga menawarkan kepada peserta forum untuk bisa melangkah bersama melaksanakan empat langkah ini.

Terkahir, pesan beliau kepada semua peserta tokoh yang hadir hari itu, “ semoga ramadan kali ini, mampu menjadi batu pondasi bagi kemenangan Islam dan kita diingatkan kembali untuk merenungi firman Allah SWT dalam surat Thaha ayat 123-124 yang artinya ‘Jika datang kepadamu petunjuk dariKu, maka ketahuilah barang siapa mengikuti petunjukKu, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatanKu, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta’.”

Mendengar closing statement yang disampaikan ustazah Alifah tersebut, para peserta semakin rindu memiliki pemimpin yang adil dan amanah di dalam naungan kepemimpinan Islam bernama Khilafah.

Sebelum ditutup dengan do’a. Para tokoh yang hadir diajak menyanyikan sebuah nasyid berjudul ‘adakah kau lupa’ yang membuat air mata rindu tak terasa mengalir.

‘Adakah kau lupa, kita pernah berjaya’

‘Adakah kau lupa, kita pernah berkuasa’

‘mengarungi  2/3 dunia, merentas benua, melayari samudera’

‘keimanan serta ketaqwaan, rahasia mereka gapai kejayaan’

‘Bangunlah wahai anak bangsa kita bina kekuatan jiwa’

‘tempuh rintangan perjuangan’

‘Gemilang generasi yang silam, membawa arus perubahan’

‘Keikhlasan hati dan nurani, ketulusan jiwa mereka berjuang’

‘Sejarah telah mengajar kita, budaya Islam di serata dunia’

‘Membina tamadun berjaya, merubah mengangkat maruah’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *