Moderasi Beragama Bukan Tuntutan Zaman

Spread the love

Oleh. Ummu Syakira

Muslimahtimes.com — Akhir-akhir ini moderasi beragama terus diwacanakan dengan berbagai cara hingga ke akar rumput. Padahal jika masyarakat mau menelaah sungguh-sungguh ide moderasi beragama (hingga muncul stempel Islam moderat ) ini adalah ide yang berbahaya dan tidak sesuai tuntutan zaman.

Asal Muasal Ide Moderasi Beragama (Islam Moderat)

Pasca kejadian WTC tahun 2001 , lembaga think tank AS RAND Corporation pada tahun 2007 mempublish laporan yang berjudul Building Moderate Muslim Networks. Laporan yang disusun oleh Cheryl Benard cs ini menjabarkan strategi mereka untuk membangun jaringan yang mereka sebut muslim moderat dan liberal. Dijelaskan dalam dokumen tersebut bahwa kemenangan tertinggi AS hanya bisa dicapai ketika ideologi Islam terus dicitraburukkan di mata mayoritas penduduk di tempat tinggal mereka. Salah satu caranya adalah dengan labelisasi “fundamentalis”, “ekstremis”, “radikal”,dan semacamnya.

RAND Corporation juga menyarankan pemerintah AS agar memberikan dukungan kepada lembaga atau individu yang mempromosikan gagasan Islam moderat sebagai partner dalam membatasi gerakan Islam dan mereduksi bahayanya. Lembaga atau individu itu berasal dari kalangan ulama, mubaligh, media massa, aktivis/LSM, ormas, lembaga pendidikan- termasuk pesantren, intelektual, influencer, dan lain-lain.

Maka, tak heran di Indonesiapun kini moderasi beragama atau Islam moderat gencar dikampanyekan. Untuk level Indonesia, Kemenag telah menetapkan indikator keberhasilan moderasi dalam empat poin, antara lain (1) komitmen kebangsaan; (2) toleransi, termasuk menghargai kesetaraan dan bersedia bekerja sama; (3) antikekerasan, termasuk kekerasan verbal, dalam mengusung perubahan yang diinginkan; (4) penerimaan terhadap tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamaannya
Konsep Moderasi Beragama dan Bahayanya.

Justifikasi ide moderasi beragama agar diterima umat yaitu merujuk pada Quran Surah Al Baqarah 143.

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Demikian pula kami telah menjadikan kalian ummatan wasathan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian

Kata wasathan di sini ditafsirkan sebagai pertengahan, yaitu tidak liberal juga tidak radikal.  Padahal, tafsir kata wasathan di sini jauh dari pemaknaan tersebut. Dalam tafsir Imam al-Qurthubi dijelaskan: “Wasath adalah al-‘adl (adil). Asalnya, yang paling terpuji dari sesuatu adalah awsath-nya. Artinya, bukan dari wasath yang merupakan pertengahan antara dua hal (dua kutub)”. Lalu Ibn Katsir juga menjelaskan di dalam Tafsîr Ibn Katsîr, “Wasath adalah al-khiyâr wa al-ajwad (yang terbaik, pilihan dan paling bagus)”. Maka gelar umat ini sebagai umat terbaik tak bisa dilepaskan dengan risalah yang didatangkan kepada umat Islam, yaitu risalah Islam. Ibnu Katsir berkata, “Ketika umat ini dijadikan sebagai ummatan wasathan, Allah mengkhususkan mereka dengan syariah paling sempurna, manhaj paling lurus, dan mazhab paling jelas.”

Kesimpulannya, sikap wasath bukanlah sikap kompromistis, moderat dan selalu mengedepankan jalan tengah. Yang dimaksud sikap wasath adalah sikap adil, yaitu menempatkan segala sesuatu sesuai posisi dan ketentuannya menurut syariat. Sikap wasath juga sikap menegakkan risalah Islam, karena karakter sebagai umat wasath itu dikaitkan dengan risalah Islam. Sikap wasath itu tak lain adalah sikap melaksanakan dan terikat dengan ketentuan Allah, yaitu syariah . Jadi jelas bahwa Al-Baqarah 143 tidak bisa dijadikan dalil moderasi beragama maupun umat berislam moderat.

Islam moderat, maupun ide moderasi beragama ini jelas berbahaya bagi umat, berikut sederet bahayanya antara lain:

1) Istilah Islam Moderat justru menjauhkan umat dari pemahaman Islam yang sebenarnya. Istilah ini dijadikan alat untuk membendung derasnya tuntutan umat akan penegakan islam kaffah. Yang alih- alih malah dicapai radikal.

2)Islam moderat yang dibawa moderasi beragama justru menyusupkan paham pluralisme yang memandang semua agama benar. Ide ini tidak hanya sekedar menerima pluralitas, akan tetapi umat harus mengakui dan memahami pihak lain yang berbeda dan tidak boleh ada truth claim, merasa diri sendiri yang paling benar.

3). Islam moderat juga digunakan untuk membuat umat takut terhadap seruan dakwah yang mengajak umat mengemban ideologi Islam. Sehingga islamofobia bisa semakin menjadi. Akhirnya umat tetap dalam zona nyaman kehidupan yang kapitalisme sekuler. Dan asing pun bahagia karena penjajahan mereka atas aset- aset umat aman terkendali. Mengapa? Karena selama umat menerima nilai- nilai Barat seperti demokrasi- ham- sekulerisme- kapitalisme maka umat tidak akan menentang penjajahan asing atas nama investasi, kerjasama internasional seperti IMF dan aneka konvensi- konvensi.

Islam Sejati yang Bagaimana?

Sejak awal kemunculannya, Islam tidak pernah terkotak- kotakkan antara yang sunni- syiah atau moderat- radikal. Islam ya Islam. Islam adalah agama yang sempurna dan sudah lengkap, meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.
Demikian sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw.:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلاَّ هَالِكٌ

Aku telah meninggalkan kalian dalam keadaan yang terang-benderang, malamnya bagaikan siang harinya. Setelahku tidak akan ada yang tersesat kecuali orang yang celaka.” (HR Ahmad)

Kesempurnaan Islam inilah yang dianggap membahayakan dominasi pemikiran dan sistem kapitalisme Barat atas dunia. Bagaimana tidak? Islam punya solusi atas semua masalah. Syariat Islam sudah sempurna, mulai dari bangun tidur sampai bangun negara ada hukum syariatnya. Dengan diterapkan secara kaffah, maka syariat Islam akan memberi maslahat bagi seluruh umat manusia bahkan seisi bumi.

Tuntutan Zaman Sekarang

Pandemi Corona sedikit banyak telah mengubah wajah dunia tapi tidak dengan ideologinya, kapitalisme global yang merajai dunia. Kapitalisme global plus pandemi membuat krisis ekonomi tak terelakkan linier dengan kriminalitas. Budaya serba bebas bertopengkan ham memperburuk keadaan masyarakat. Pergaulan bebas, pelecehan, pemerkosaan, beraneka penyimpangan seksual terjadi setiap hari. Manusia terkadang bisa lebih rendah perilakunya dari binatang. Sampai ada yang bilang dunia saat ini bukan tempat aman untuk anak kecil, jadi mending childfree saja. Astaghfirullah!

Hari ini masyarakat benar-benar merindukan perubahan. Mereka ingin solusi atas masalah hidup mereka yang sebenarnya hampir-hampir sama saja di segala penjuru bumi (Apa pun suku bangsa dan agamanya). Andai umat bisa melihat secara objektif bahwa Islam kaffah yang diterapkan dalam sebuah pemerintahan adalah solusi beraneka problematika hari ini. Dalilnya banyak. Konsepnya bertebaran di sosmed. Roadmapnya ada. Pakar-pakarnya sampai yang level profesor juga banyak. Umat hanya tinggal bersatu dan meyakini bahwa inilah yang kita butuhkan. Inilah yang akan jadi segala solusi masalah dunia hari ini. Bukan Islam moderat dan kawan-kawannya yang semakin menjauhkan umat dari konsep Islam yang sebenarnya. Jadi, say no Islam moderat! Islam moderat bukan tuntutan zaman malah bisa dibilang virus yang berbahaya untuk umat di segala zaman. Say yes Islam kaffah, yang solutif, yang modern- sesuai tuntutan zaman.
****