Mother of Mine

Spread the love

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Muslimahtimes– Katanya film Korea romantis habis, opa-opa gantengnya buat nangis. Kisahnya pasti macam Cinderella yang dipersunting pangeran berkuda putih, atau manager dengan sekretarisnya. Atau kisah lollipop anak SMA atau mendayu-dayu hilangnya separuh hati karena cinta bertepuk sebelah tangan.

Namun, kali ini beda, meski sama-sama sukses membuat saya mewek berhari-hari, latar belakang pengambilan cerita inilah yang membawa perasaan pemirsa kembali ke masa dimana kasih sayang ibu begitu nyata.

Mother of Mine adalah seri televisi Korea Selatan tahun 2019 yang dibintangi oleh Kim Hae-sook, Kim So-yeon, Kim Ha-kyung, Park Geun-soo, Nam Tae-boo dan Choi Myung-gil.

Drama keluarga yang mengangkat cerita tentang perjuangan seorang ibu yang membesarkan tiga putrinya. Di satu sisi Park Sun Ja (Kim Hae Sook) adalah ibu tunggal yang sibuk mengelolah restoran sederhana miliknya namun masih saja direpotkan oleh permasalahan putrinya terutama yang telah menikah.

Cerita dan masalah yang dipaparkan dalam drama ini merupakan kisah sehari-hari yang begitu dekat dengan kehidupan nyata masyarakat di Korea dan dikemas dengan cara unik sehingga alur cerita mengalir dan menarik untuk diikuti pada setiap episodenya.

Jika sudah profile ibu yang diangkat, saya rasa itu mewakili perasaan anak sedunia, bahwa ibu adalah makluk terindah yang diciptakan Allah untuk kita. Bak malaikat tak bersayap, memberi apapun yang kita butuhkan , bahkan sebelum meminta. Mendoakan kita ditengah pedih hatinya, tersenyum di kala kita tak peduli.

Dalam drama ini diperlihatkan bagaimana kejamnya kapitalisme memaksa seorang wanita tak punya pilihan ketika sudah berumah tangga antara karier atau merawat anak. Kebutuhan hidup yang tak pernah murah, memaksa anak pertama Park Sun Ja menjadikan ia nenek yang tersibuk di dunia.

Anak kedua pun melibatkan ibunya dalam belitan keluarga kaya yang tak ingin harkat martabat bercampur dengan ” darah” bukan konglomerat. Padahal berbagai intrik dan cara busuk mewarnai setiap anggota keluarga inti. Hingga membuat hubungan pernikahan anak keduanya berubah menjadi hubungan yang runyam. Antara tahta, harta atau wanita.

Sedang anak ketiga idealismenya menjadi penulis telah menciptakan sosok yang ambisius, kekanakan dan egois. Bertemu dengan duda yang enggan menikah karena trauma. Perjuangan ibu dengan tiga anak perempuan itu terhenti ketika didiagnosa dokter menderita kanker paru-paru stadium empat. Dan hanya memiliki waktu 3 bulan.

Disinilah perenungan banyak terjadi, bahwa hubungan keluarga tak sekedar memberi dan menerima. Namun butuh kekuatan yang lain yaitu keyakinan akan Qada dan Qadar. Allah itu nyata dan setiap jiwa telah ditetapkan rezeki, jodoh dan ajalnya. Keluarga adalah benteng terakhir ketahanan keluarga pembentuk masyarakat. Bukan justru menyakini adanya reinkarnasi.

Menjadi pelajaran bagi kita, bahwa hidup memang memberikan kesulitan namun sekaligus juga pelajaran. Bahwa setiap saat orang yang kita sayangi akan pergi, tak akan selamanya ia sekuat baja dan setegar karang. Terutama ibu, adakalanya dialah yang butuh kita hibur dan beri penghargaan lebih.

Dalam drama Mother of Mine ini menunjukkan bahwa kata mine (milikku) tak selamanya sesuai harapan. Terutama jika kita bicara arah pandang seseorang dalam kehidupan. Sebagaimana pesan Park Sun Ja kepada ketiga anaknya sebelum meninggal dunia, ” Jangan pernah engkau jadi pengangguran, bekerjalah, agar kau punya kesempatan untuk meninggikan suaramu kepada suamimu”.

Pesan yang kental dengan egoisme kapitalisme. Wanita selalu dihadapkan dengan dilema, antara bekerja dan kehidupan berkeluarga. Ujung-ujungnya pernikahan hanyalah wasilah pelegalan hubungan suami istri semata, bukan peletakan batu pertama generasi cemerlang.

(Visited 56 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *