Muslimah Berpolitik: Narasikan Solusi Islam, Suarakan Perubahan

Spread the love

Oleh. Nay Beiskara

(Tim Muslimahtimes.com)

Muslimahtimes– Perempuan memiliki peran yang strategis dalam membangun sebuah masyarakat, termasuk membentuk opini. Karena itu, dalam sistem pongah dan zalim yang saat ini diterapkan dalam kehidupan, perempuan -wabil khusus jurnalis muslimah- dituntut untuk turut berkontribusi menyuarakan perubahan. Bukan sekadar perubahan, tapi perubahan ke arah yang dikehendaki Islam.

Dalam rangka menyatukan persepsi mengenai peran muslimah, terutama dalam kiprah politiknya, maka Forum Tokoh Muslimah Peduli Bangsa (FTMPB) menyelenggarakan Diskusi Terbatas pada Senin (21/2/2022) melalui platform media sosial zoom meeting. Diskusi Terbatas ini dihadiri oleh puluhan tokoh dan perwakilan jurnalis muslimah dari berbagai media yang fokus menyuarakan Islam sebagai solusi problematika umat.

Dua narasumber yang turut hadir dalam agenda ini merupakan orang-orang yang telah puluhan tahun  malang melintang di dunia pertelevisian dan kepenulisan. Narasumber pertama adalah Rachma Sarita, SH., seorang mantan presenter Metro TV, Youtouber, dan pernah menjadi Caleg pada 2019. Selain berkiprah di Metro TV, beliau pernah aktif di TVRI dan sejumlah stasiun televisi nasional. Sedangkan narasumber kedua, yakni Asri Supatmiati, S.Si. Beliau merupakan seorang jurnalis dan mantan redaktur di Harian Radar Bogor selama 20 tahun. Keresahannya akan kondisi negeri dan masih sedikitnya jumlah muslimah yang berjuang menyampaikan opininya melalui tulisan, menginspirasi beliau untuk membentuk sebuah komunitas menulis, Revowiter.

Forum yang mengangkat tema “Peran Politik Perempuan” ini, dimoderatori oleh Reta Fajriah dari FTMPB. Diskusi berlangsung hangat dengan pemaparan pandangan oleh narasumber pertama, Rachma Sarita, SH. mengenai peran muslimah dan media sosial di era digital seperti saat ini. Beliau mengungkapkan, peran perempuan dalam politik adalah dengan mengedukasi atau mencerdaskan masyarakat di tengah gempuran dari tim Buzzer yang beliau anggap “membodohi masyarakat”. Salah satu caranya adalah dengan bermain di platform Youtube. Tambahnya lagi, Youtube menjadi media terkuat, lebih merdeka, dan lebih kritis, untuk menyampaikan ide atau gagasan, bahkan kritikan terhadap kebijakan pemerintah dibanding dunia pertelevisian.

Beliau juga menyampaikan bahwa banyak perempuan di luar sana yang sebenarnya peduli akan nasib negeri. Namun, bisa jadi tidak ada yang mampu mengarahkan mereka. Akhirnya, mereka kebingungan tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Mereka pun menjadi skeptis dan apatis dalam menyikapi setiap isu dan permasalahan yang mendera rakyat. Dengan jumlah perempuan saat ini yang luar biasa besar, menurut Rachma, mereka dapat melakukan sesuatu untuk perubahan dan memperjuangkan nasib rakyat.

Mantan presenter TVOne ini juga tak lupa memotivasi seluruh jurnalis muslimah yang hadir agar jangan takut bersuara dan jangan berhenti bersuara di tengah orang-orang yang mulai lelah bersuara. Tetapi, ketika bersuara janganlah kita lupa mengemasnya dengan apik, yakni menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Sehingga banyak masyarakat yang tercerahkan dengan apa yang kita sampaikan.

Tak kalah seru, narasumber kedua, yaitu Asri Supatmiati, S.Si, menjelaskan bagaimana media dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan pencerdasan politik pada seluruh perempuan. Beliau menekankan bahwa apa yang kita narasikan haruslah memberikan sudut pandang yang khas, yakni Islam. Karena Islam ternyata luas sekali. Kala kita mengkritik, maka kita harus mampu membuat narasi mengenai isu aktual yang dikaitkan dengan persepsi Islam. Inilah yang dimaksud dengan penyadaran politik perempuan.

Asri juga melanjutkan, Islam merupakan way of life yang mengatur segala aspek kehidupan dan terbukti mampu menyediakan solusi terhadap permasalahan aktual di dalam negeri. Sebagai seorang muslimah yang sadar politik, tujuan yang harus dipahami adalah bukan hanya mencerdaskan perempuan, tapi juga mampu membentuk opini umum di tengah-tengah masyarakat bahwa Islam bisa menjadi solusi.

Founder dari Shaleha Institute ini pun mengutip dari salah satu buku yang menyatakan, kewajiban perempuan itu meliputi lima hal, yakni kewajiban diniyah, syakshiyyah, baitiyah, ijtimaiyah, dan wajibud daulah. Perempuan bukan hanya wajib menjalankan perannya sebagai hamba, melaksanakan kewajiban mengurus rumah tangganya, dan menghiasi dirinya dengan kepribadian Islam, tapi juga berkewajiban memikirkan masalah umat, dan berupaya memuhasabahi penguasa.

Dalam hal kaitannya dengan media, para jurnalis muslimah harus mampu mengembalikan peran media yang saat ini dikuasai kapitalis kepada fungsi media sebenarnya, yakni sebagai saran informasi, kendali sosial, dan mencerdaskan umat. Jurnalis muslimah juga harus mengkaji bagaimana cara bernarasi tanpa harus terganggu dengan UU ITE. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menghadirkan kekuatan literasi, harus berhati-hati dalam pemilihan diksi, validasi data dan informasi, bertanggung jawab terhadap konten agar hoaks dapat dihindari.

Sebagai penutup, Ustazah Irena Handono sebagai Ketua FTMPB meramu kesimpulan dari kedua narasumber bahwa pers merupakan alat perang atau pedang yang harus dijadikan oleh setiap muslimah sebagai media penyadaran diri tentang peranannya dalam perjuangan. Selain itu, beliau menekankan urgensi penyampaian dakwah dengan seni tersendiri. Tujuannya tidak lain agar mampu menarik simpati dan mengubah persepsi masyarakat yang kita ajak kepada kebaikan. Terakhir, dari para peserta menginginkan agar agenda seperti ini dapat diadakan kembali demi terwujudnya kesamaan pemikiran, visi, dan misi di setiap jurnalis muslimah di seluruh penjuru negeri.