Naluri Ibu Dibunuh oleh Sistem

Spread the love

Oleh. Hafizah Mujahidilla

Muslimahtimes.com–Ibu sejatinya adalah seorang yang penuh dengan cinta dan kasih. Sosok ibu juga identik dengan kelembutan dan penyayang. Namun, apa jadinya bila ternyata seorang ibu tega menghabisi nyawa anak-anaknya dengan tangannya sendiri. Bagaimana bisa buah hati yang telah ia kandung selama 9 bulan lamanya, ia lahirkan dengan bertaruh nyawa, hingga ia besarkan dengan peluh dan lelah, namun dengan mudahnya ia bunuh?

Seperti kisah nyata yang menyayat hati baru-baru ini. Dialah Kanti Utami, ibu muda yang melakukan tindakan pembunuhan terhadap ketiga anak kandungnya sendiri. Dilansir dari Detik.com (21/3) – Kanti Utami (35), seorang ibu di Brebes, Jawa Tengah (Jateng) menggorok tiga anaknya sendiri. Satu anaknya tewas dengan luka sayat di leher, sementara dua lainnya dilarikan ke rumah sakit (RS).

Kanti diduga mengalami depresi berat sehingga tega melakukan hal keji tersebut. Ia tak ingin melihat anaknya seperti masa kecilnya dulu. Pada saat masa kecilnya pelaku seringkali di bentak, dipukul bahkan dikurung sehingga ia tak ingin melihat anaknya sedih seperti ia dahulu. Selain depresi, pelaku juga dikabarkan tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari suaminya, sehingga depresi itu kian lama kian membesar sehingga menghilangkan akal dan hati nuraninya.

Di sinilah pentingnya peran seorang suami di dalam sebuah rumah tangga. Menjaga kewarasan seorang istri juga merupakan tanggung jawab suami. Dan hal ini akan berdampak pada anak, ketika ibu bahagia maka anak juga bahagia, ketika ia sedih maka anak juga akan sedih dan jika istri depresi maka anak bisa menjadi korban atas pelampiasan kekesalan, kemarahan dan kesedihan yang ia rasakan. Padahal manusia di berikan akal untuk berpikir dan bertindak, apalagi seorang ibu yang memiliki rasa kasih sayang yang lebih dominan, sudah pasti seorang ibu akan menyayangi anaknya, namun hal seperti ini kerap terjadi di negeri ini.

Inilah potret dari buruknya sistem sekuler yang diterapkan di negeri ini, sehingga negara tidak dapat memberi pemahaman dan edukasi yang terbaik ke tengah-tengah masyarakat terutama kaum ibu. Keahatan kian hari kian marak. Sistem sekuler dan ekonomi kapitalis dapat melatarbelakangi terjadinya itu semua. Sistem sekuler yang di terapkan di negeri ini tidak dapat memberikan sebuah solusi.

Sulitnya perekonomian dan rendahnya pemahaman masyarakat terhadap peran orang tua dan keluarga menjadikan banyak kaum ibu mengalami stress. Di satu sisi ia harus membantu perekonomian keluarga dengan bekerja, di sisi lain ia harus menjalankan peran dan amanahnya sebagai seorang ibu. Berbeda dengan sistem Islam. Islam akan memberi mengedukasi masyarakat dengan pemahaman dan tsaqafah (ilmu agama) Islam, yang akan membentuk masyarakat agar memiliki aqliyah (pola pikir) dan nafsiyah (pola sikap) yang islami. Sehingga hal yang menyebabkan depresi, dapat diantisipasi, karena sudah di bentengi oleh iman dan pemahaman yang kokoh. Seperti di zaman Khalifah Umar bin Khattab, ketika seorang ibu yang sedang dilanda kesusahan ekonomi dan si buah hati yang terus merengek meminta makanan sedangkan di satu sisi ia bingung dan tidak memiliki makanan yang harus dimasak, sehingga direbuslah batu itu berharap ada keajaiban, meskipun itu mustahil. Banyak ujian yang terus menerpa, tak lantas membuat sosok ibu itu berubah menjadi sosok yang kejam, bukan pisaulah yang menjadi akhir dari semua cerita, tapi keimanan dan pemahaman yang membuat kita bertahan dan terus bersabar. Hingga datanglah Khalifah Umar yang menolongnya dan memberikan mereka gandum untuk diolah dan dimakan.

Inilah sebuah sistem dan seorang pemimpin yang khas, yakni sistem pemerintahan Islam. Sebuah sistem yang menjamin akan kesejahteraan rakyatnya dan sosok pemimpin yang bertanggung jawab untuk rakyatnya, yang peka terhadap kondisi rakyat.