Breaking News

Narasi yang Menyesatkan Istri dalam Membangun Relasi

Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah
(Founder Salehah Institute, Pemred Muslimahtimes.com)

Muslimahtimes.com–Dunia pernikahan diguncang beragam narasi yang menyesatkan, yang merusak hakikat dari nilai sakral pernikahan. Hal ini terjadi karena rusaknya paradigma berpikir masyarakat saat ini, yang disetir oleh sistem hidup sekuler. Mindset soal pernikahan pun, berpusat pada nilai-nilai materialisme dan sekularisme. Hal Ini terutama tertanam di benak para istri dan perempuan pada umumnya, tentang bagaimana memandang relasi dengan suami.

Berikut ini beberapa narasi keliru tentang relasi suami istri yang harus diluruskan agar tidak menyimpang dari nilai-nilai Islam:

1.“Kalau nafkah suami banyak, apa pun permintaannya pasti dilayani.”

Banyak istri yang lupa untuk membangun pernikahan dengan iman yang kokoh, tetapi malah membangun relasi berbasis materi yang kokoh. Buktinya, ketaatan dan pelayanan kepada suami, bukan dimotivasi oleh semangat untuk menjalankan perintah Allah Swt, tetapi disemangati besar-kecilnya nafkah. Jika nafkah besar, istri mudah taat suami dan semangat melayaninya. Jika nafkah kecil, istri melayani suami setengah hati.

Padahal, pernikahan itu fondasinya ibadah. Melayani suami itu kewajiban yang diperintahkan Allah, tidak ada hubungannya dengan besar kecilnya uang nafkah yang dia berikan. Taatnya istri pada suami, karena ia sadar bahwa itu akan membawa pahala yang ia panen sendiri hasilnya kelak di akhirat.

Jadi, jangan dihubung-hubungkan antara besaran nafkah suami dengan ketaatan kepada Allah Swt. Insyaallah, jika tetap bersyukur, bersabar dan qona’ah dengan besaran nafkah pemberian suami sesuai kemampuannya, Allah akan memberkahi pernikahan. Inilah nilai tertinggi yang dikejar, yaitu keberkahan, bukan semata-mata kekayaan.

2. “Jadi perempuan kalau punya pendapatan besar atau sudah kaya, cari suami yang setara. Jangan menikah dengan laki-laki yang miskin.”

Pendapat ini muncul, karena saat ini banyak perempuan yang punya penghasilan sendiri. Bahkan penghasilannya melebihi para laki-laki. Mereka sibuk berkarier hingga mapan secara ekonomi. Lalu, ketika menikah dengan laki-laki yang pendapatannya minim, sering terjadi konflik dan berujung pisah. Merasa tidak setara dalam strata ekonomi.

Padahal, Islam tidak mengenal kesetaraan harta dalam pernikahan. Orang kaya tetap setara berjodoh dengan orang miskin, asalkan sama-sama satu akidah. Jadi, kesetaraan dalam pernikahan adalah kesetaraan dalam ketakwaannya. Tidak ada syarat menikah, harus dari strata sosial yang sama.

Tidak ada anjuran Allah bahwa yang kaya idealnya menikah dengan yang kaya. Lalu yang miskin, menikah dengan yang miskin. Allah menciptakan manusia beragam status sosial, ada yang kaya dan ada yang miskin, untuk saling tolong menolong dalam ketakwaan. Apabila yang kaya berjodoh dengan yang miskin, ada kemaslahatan dan keberkahan selama dilandasi keimanan.

Oleh karena itu, anak seorang pejabat sekalipun, tetap setara dalam perjodohan dengan anak seorang pembantu. Anak raja tetap setara berjodoh dengan anak dari rakyat jelata.

Tetapi jangan khawatir, hidup ini selalu mengikuti hukum alam. Sunatullahnya, kebanyakan orang akan berjodoh dengan sesama lingkaran pergaulannya. Jika ia berada di circle orang kaya, maka jodohnya kemungkinan besar sesama orang kaya. Sebaliknya, jika circle-nya orang miskin, peluang jodohnya ya dengan sesamanya. Semua itu berjalan alami. Jadi, jangan terlalu khawatir kalau-kalau berjodoh dengan yang tidak setara dalam hal harta. Apapun jodohmu, itulah pilihan Allah Swt yang terbaik.

Memang, membangun relasi dengan orang yang satu circle, tentunya lebih mudah dibanding beda circle. Misal, jika suami kaya menikahi istrinya yang juga kaya, tentu lebih mudah dalam menyamakan frekuensi. Bisa punya persepsi, kebiasaan dan gaya hidup yang sama. Sehingga, relasi bisa lebih langgeng.

Namun, jika suami kaya berjodoh dengan istri yang miskin atau sebaliknya, tetap bisa menyamakan frekuensi dengan keimanan. Janganlah yang kaya menginjak-injak harga diri pasangannya. Jangan menyiksa dan otoriter karena kekuatan uangnya. Tetap harus dihargai dan diperlakukan penuh persahabatan.

Jadi, sekali lagi, kesetaraan dalam harta bukan menjadi dalil atau landasan dalam memilih pasangan. Meskipun, tentu tidak terlarang jika memimpikan jodoh yang setara dalam status sosial. Karena itu, perbaiki status sosialmu, agar jodohmu pun baik. Perjuangkanlah nilai-nilai terbaik dalam hidupmu, termasuk nilai ekonomi, agar kelak dalam hidup sejahtera dalam pernikahan. Toh, tidak ada di dunia ini yang ingin hidup miskin, baik saat sendiri maupun setelah menikah. Tetapi, apapun kondisinya, yang penting hidup berkah.

Ali bin Abi Thalib, tidak memiliki segenggam emas untuk menikahi Fatimah Az-Zahra putri Rasulullah saw. Ia menyerahkan baju besi yang kemudian dijual oleh Rasulullah saw sebagai mahar untuk putri tercintanya. Kehidupan pernikahan mereka pun tidak ditopang kekayaan yang melimpah ruah. Sebaliknya, mereka hidup bersahaja. Tetapi, suami istri ini adalah pasangan yang kelak akan masuk surga.

Oleh karena itu, kekayaan, siapa pun pemiliknya, apakah istri atau suami, jadikan sarana untuk masuk surga. Harta dalam pernikahan, dari manapun sumbernya, selama halal, maka jadikan sebagai sarana untuk berkasih sayang dengan pasangan. Begitulah ikatan pernikahan berbasis iman, bukan berbasis materi.

3. “Suami yang penghasilannya lebih kecil dari istri, hanya menjadi beban. Cuma numpang hidup.”

Demikian narasi yang kini banyak diyakini masyarakat. Mereka mengolok-olok para suami yang kebetulan rezekinya kecil, sebagai pihak yang hanya menumpang hidup pada istri. Padahal, para suami itu juga sudah ikhtiar untuk mencari nafkah. Mereka sudah bekerja keras menjemput rezeki, namun takdir tidak juga membuat mereka kaya. Apakah salah jika punya istri yang lebih pandai mencari uang?

Ingat, rezeki itu Allah Swt yang mengatur. Rezeki suami berasal dari Allah, bukan lantaran istrinya kaya. Jika istri kaya lalu suami ikut menikmati kekayaan istri, itu rezeki dia. Itulah berkahnya pernikahan. Apabila istri berbesar hati menjadikan hartanya untuk menghidupi keluarga, itu adalah pahala baginya. Ia juga yang akan memanen pahalanya kelak di akhirat. Tidak ada yang salah jika istri menolong suaminya dalam hal harta. Terlebih untuk jalan kebaikan.

Apakah kita lupa dengan contoh pernikahan agung Ibunda Khadijah. Dikisahkan, hampir dua pertiga kekayaan Mekah milik beliau. Namun, beliau mengorbankan hartanya sampai habis untuk dakwah sang suami. Sering rumah tangganya tak punya makanan. Saat menyusui Fatimah, bukan ASI yang keluar melainkan darah.

Suatu hari sepulang berdakwah, Nabi berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur. Tak terasa air matanya menetes mengenai pipi Nabi, hingga beliau terbangun. Beliau pun berkata, “Dulu engkau wanita mulia dan bangsawan. Kini engkau dihina oleh orang lain. Semua orang menjauhimu. Kekayaanmu habis. Apakah engkau menyesal bersuamikan Muhammad?”

Khadijah berkata, “Wahai suamiku dan Nabi Allah, bukan itu yang kami tangisi. Kemuliaan dan kekayaan yang kami miliki, diserahkan pada Allah dan Rasul-Nya. Sekarang kami tak punya apa-apa, tetapi engkau terus memperjuangkan agama ini. Seandainya aku mati, namun perjuangan ini belum selesai. Maka galilah lubang kuburku. Ambillah tulang belulangku untuk dijadikan jembatan menyeberangi sungai atau lautan.”

Maksudnya, tulang-tulang itulah yang menjadi jembatan agar Nabi saw bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahnya, hingga bisa menyelamatkan umat manusia dengan Islam. Demikianlah manfaat harta istri, yaitu untuk mendukung keimanan dan ketakwaan keluarganya, termasuk suami tercinta.

Tentu dengan syarat, suami tetap ikhtiar untuk menjalankan kewajiban menafkahi. Bukan sengaja mengandalkan harta istri semata-mata. Bukan malas bekerja dan menggantungkan hidupnya pada penghasilan istri. Tak heran jika sering terjadi pertengkaran, hingga kebanyakan berujung pisah. Bercerai karena istri merasa capek hidup bersama suami yang miskin.

Oleh karena itu, jika istri dikayakan oleh Allah Swt, gunakan untuk bersedekah pada keluarga, dan memuliakan suami. Itulah harta yang berkah, bukan beban. Karena harta kalian hanya titipan Allah. Jadikan sarana untuk mewujudkan keharmonisan dalam keluarga. Bukan malah menjadi alasan untuk melepaskan ikatan pernikahan dengan suami. Na’udzubillah.

4. “Jadi perempuan harus bisa cari duit sendiri, jangan bergantung pada laki-laki”

Sungguh ini adalah ajaran Feminis Barat yang menjadikan materi sebagai pondasi untuk membangun relasi. Menjadikan para perempuan keluar dari fitrahnya untuk dilindungi dan dinafkahi oleh pihak yang bertanggung jawab padanya. Ya, dalam Islam, perempuan tidak harus mencari uang sendiri. Islam menjadikan perempuan berada dalam pernafkahan laki-laki, yaitu wali atau suaminya.

Jika nafkah yang diberikan tidak cukup, atau tidak ada yang memberi dari jalur mahram karena tidak mampu, maka perempuan menjadi tanggungan negara. Jika negara abai, seperti di era kapitalis saat ini, boleh ia mencari uang sendiri. Tetapi niatkan untuk bergantung pada Allah, bukan karena tidak mau tergantung pada laki-laki.

Terlebih setelah menikah, ada tanggung jawab dan peran lebih utama bagi perempuan, yaitu sebagai istri dan ibu. Tugasnya bukanlah mencari nafkah, namun mengurus rumah tangga suaminya. Melayani suami dan mendidik anak-anak. Adapun fakta bahwa saat ini banyak para istri yang terpaksa ikut mencari uang, adalah karena kehidupan yang tidak ideal. Sistem sekuler liberal yang cenderung materialistis, memicu terjadinya keguncangan dalam keuangan keluarga.

Jika sistem Islam yang ditegakkan, maka tegaklah sistem pernafkahan. Tuntutan agar para istri memiliki penghasilan sendiri, akan meredup dan hilang. Para muslimah juga akan senang dan tenang hidupnya, tanpa dikejar-kejar tuntunan agar mandiri secara finansial. Tuntutan yang berhembus dari dunia Barat ini, mendorong perempuan agar bertanggung jawab atas hidupnya sendiri. Barat yang tidak mengenal mekanisme pernafkahan, lantas mengapa perempuan Muslimah harus ikut-ikutan paradigma Barat yang tidak sejalan dengan ajaran Islam?(*)