Nasehat di Punggung Truk

Spread the love
Oleh. Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban)
#MuslimahTimes — Nasihat bisa datang dari mana saja, dari musuh sekalipun, atau dari punggung sebuah truk yang melintas di jalanan. Tulisan itu terbaca demikian: “Ikhtiar tanpa doa sombong, doa tanpa ikhtiar bohong”.
Dan itu fakta.  Sebagai orang beriman, tentu kita tahu bahwa pemberi rezeki adalah Allah Swt. Bertaburan ayat dan hadist yang menegaskan hal itu. Salah satunya firman Allah dalam QS.Adz-Dzariyat: 58 yang artinya: “ Sesungguhnya Allah , Dialah Maha Pemberi Rezeki  yang  mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
Imam Al-Ghazali  menjelaskan arti Ar-Razzaq yakni, “Dia (Allah)  yang  menciptakan rezeki  dan  menciptakan yang mencari rezeki, serta Dia pula yang mengantarnya kepada mereka  dan menciptakan sebab-sebab sehingga mereka dapat menikmatinya.”  
Namun, hari ini tak sedikit yang kemudian mempercayai hoki, tanggal baik, mimpi dan lain sebagainya sebagai pengantar rezeki. Padahal sekali-kali tidak! Allah lah Sang pemberi rezeki, menakarnya, mencukupkannya, mengurangkannya pada siapapun yang Dia kehendaki. Tugas manusia hanya mengimaninya saja. Salah satunya adalah dengan berdoa meminta keringanan dan keberkahan saat berangkat menjemput rezeki. 
“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rezeki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Majah, no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadis ini sahih)
Saat ikhtiar tanpa disertai doa, memang sama dengan sombong. Apalah kita jika dibandingkan dengan kekuasaan Allah di alam semesta dan seisinya ini? Bahkan ucapan yang masih di dalam hati pun Allah tahu.  Namun banyak dari kita yang justru menjadi penentang Allah yang nyata. Mencari rezeki dengan melanggar apa yang diharamkan Allah.
Lihat bagaimana pemerintah kita dengan enteng melegalkan UU Investasi Industri Minuman Keras, beberapa hari kemudian ketika telah terjadi kegaduhan kemudian dengan enteng pula dicabut. Apakah syariat adalah permainan? Sungguh ini adalah bentuk kesombongan yang nyata. Dan ketika pemimpin tak lagi mengenal halal dan haram maka kemudharatanlah yang terjadi.
Sebaliknya ketika kita hanya berdoa tanpa berikhtiar juga bisa dikatakan bohong, meskipun Allah telah menetapkan rezeki bagi kita, bukan berarti kita diam tanpa bergerak atau berusaha. Bagaimanapun hukum sebab akibat tetap berlaku dan istimewanya bagi kaum muslim, ikhtiar apapun akan dinilai ibadah jika itu dengan menyebut nama Allah Swt. 
Kisah Khalifah kedua kaum muslimin ini kiranya bisa menggambarkan  makna nasihat kedua,  yaitu tentang berdoa tanpa berikhtiar. Suatu saat Khalifah Umar bin Khattab pergi melihat keadaan rakyatnya. Khalifah melewati sebuah masjid. Di dalamnya terlihat sekelompok anak muda sedang asyik beribadah. Diantaranya terlihat sangat khusyuk beribadah. Lalu Khalifah Umar pun masuk ke masjid tersebut.
“ Siapakah kalian,” tanya Sahabat Khalifah Umar. Salah satu diantaranya kemudian menjawab,”Kami adalah sekelompok anak muda yang berserah diri (bertawakal) kepada Allah. Sepanjang hari kami habiskan waktu untuk berdzikir, berdoa dan melakukan salat sunat.”
Mendengar jawaban tersebut Khalifah Umar berkata dengan lantang,” Hai anak muda keluarlah dari masjid dan bekerjalah! Jangan kalian menjadi pembohong. Harap tahu saja Allah tidak akan menghujankan emas dari langit.”
Mendengar bentakan Khalifah Umar, para pemuda tersebut menjadi terkejut. Padahal sebelumnya berharap akan mendapatkan pujian dari Khalifah.
“Wahai Amirul Mukminin, bukankah Allah memberi kecukupan kepada orang yang berserah diri dan Dia pulalah yang berjanji untuk memberikan jaminan rizki kepada makhluk-Nya?” ungkap salah seorang di antara pemuda itu berargumentasi.
Kata Khalifah Umar, “kalian bukan tipe orang yang berserah diri kepada Allah. Orang yang berserah diri kepada Allah adalah orang yang rajin bekerja untuk  menggali potensi alam dengan tanpa meninggalkan doa kepada-Nya.”
Kemudian Umar berkata,” Hai umat manusia carilah rizki di muka bumi, jangan kalian menjadi beban orang lain. Bekerjalah secara baik dan benar karana bekerja dengan seperti itu banyak dibutuhkan. Bila di antara kalian pandai berdagang, maka jadilah pedagang yang handal.”
Umar melanjutkan, “Janganlah ada di antara kalian orang yang duduk bermalas-malasan sambil berdoa,” Ya Allah berikanlah aku rizki yang halal, yang banyak yang membawa berkah.” Ingatlah Allah tidak akan menurunkan hujan emas dari langit. Allah memberikan rizki kepada umat manusia dengan disertai usaha, tidak datang begitu saja. Sesuai dengan usahanyalah seseorang akan memperoleh rizki.”
Selanjutnya Khalifah Umar mengutip jawaban Rasulullah Saw ketika ditanya oleh seorang Sahabat. “Ya Rasulullah amal manakah yang terbaik ?” jawab beliau,” Bekerjalah dengan tangannya sendiri.” (suaraaktual.co, 29/12/2019). Wallahu a’lam bish showab.