Nasib Pendidikan Indonesia 5 Tahun Ke Depan

Spread the love

Oleh : Mia Armillah

Muslimahtimes– Beberapa waktu lalu tepatnya pada tanggal 23 Oktober 2019, Presiden Jokowi mengumumkan susunan kabinetnya. Nama-nama dan jabatan yang ditetapkan menunjukkan bahwa pemerintah akan melanjutkan fokus agenda sebelumnya. Yaitu liberalisasi ekonomi sambil mengencangkan proyek deradikalisasi sebagai penopangnya. Presiden Jokowi menegaskan bahwa pada periode keduanya ini akan lebih tegas memerangi radikalisme. Proyek menangkal radikalisme ini ditugaskan kepada Menteri Polhukam dan Menag (detiknews, 23/10/19).

Isu radikalisme ini hakekatnya adalah gerakan untuk memojokkan Islam. Ketakutan yang berlebihan terhadap agama Islam (Islamophobia). Deradikalisasi sebenarnya sama saja dengan deislamisasi (moderasi Islam) mengarahkan umat Islam pada sekulerisme dan liberalisme. Proyek deradikalisasi ditengarai akan makin dikokohkan melalui kebijakan keagamaan dan pendidikan (Kompas, 23/10/19).

Sekolah, kurikulum, guru, siswa, pesantren, santri, madrasah, ormas, mesjid, majelis taklim, ulama akan menjadi sasaran proyek ini.

Pemilihan Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan merupakan proyek sekulerisasi sebagai deislamisasi Indonesia tahap akhir. Demikian dikatakan oleh Guru Besar Institut Teknologi Surabaya (ITS), Prof. Daniel Mohammad Rosyid dalam artikel berjudul “Descooling vs Deislamisasi”. Melalui kepemimpinan baru Kemendikbud ini dan UU Pesantren yang baru disahkan, syarat-syarat budaya bagi sebuah bangsa sekuler dan terjajah akan dilakukan secara terstruktur, sistematik dan masif. Proses deislamisasi yang dilakukan sejak masa Orde Baru semakin memperoleh kekuatan dan momentumnya di rezim ini.

Saat elite Indonesia masih menilai radikalisme sebagai ancaman bagi investasi, di tangan Medikbud ini, sistem persekolahan tidak saja menjadi instrumen teknokratik menyiapkan masyarakat industri, tapi sekaligus instrumen deradikalisasi sebagai proxy deislamisasi.

Dari paparan di atas sudah sangat jelas seperti apa wajah pendidikan 5 tahun ke depan. Sekarang saja kerusakan akibat penerapan sekulerisme dan liberalisme dampaknya begitu besar. Kemerosotan moral dan akhlak di kalangan remaja. Bagaimana kemudian sebagian besar remaja terpapar pergaulan bebas, pemakaian narkoba, tawuran atau perkelahian antar pelajar yang sudah memakan banyak korban jiwa, LGBT yang jadi pemicu penyebaran HIV AIDS (liputan6.com, 10/09/2013).

Kerusakan ini akan terus berlangsung selama 5 tahun ke depan dan kemungkinan akan semakin meningkat akibat akan diterapkannya kebijakan pemerintah dalam hal ini Kemendikbud yang akan semakin terstruktur, sistematis dan masif berupaya menerapkan sekulerisme dan liberalisme dalam bidang pendidikan.

Hal tersebut di atas tidak akan terjadi jika diterapkan pendidikan Islam. Karena dengan pendidikan Islam akan mencetak generasi berkarakter. Sistem pendidikan Islam akan dibuat berdasarkan Alquran yang berasal dari Allah. Secara aqidah, Alloh menjanjikan bahwa Islam sebagai solusi segala masalah kehidupan (Surat Al Maidah ayat 3 dan Surat An Nahl ayat 89).

Termasuk dalam masalah pendidikan. Sistem pendidikan Islam menjadikan akidah Islam sebagai asas kehidupan termasuk pendidikan dengan bertujuan untuk membentuk kepribadian Islam dan memberikan pengetahuan tentang ilmu kehidupan. Berkepribadian Islam berarti mempunyai pola pikir dan pola sikap Islam. Yang diajarkan dalam sistem pendidikan Islam adalah ilmu tsaqofah dan ilmu kehidupan. Ilmu tsaqofah Islam diberikan sebagai pengetahuan untuk mengarahkan berpikir dan bersikap islami, sekaligus membekali syariat sebagai solusi kehidupan (pengatur perilaku). Sementara ilmu kehidupan diberikan untuk bekal mengarungi dan mengelola hidup di dunia. Sehingga tidak diragukan lagi hanya sistem pendidikan Islamlah yang akan melahirkan generasi cemerlang berkarakter yaitu yang bertakwa dan berilmu. [nb]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *