Nation State Pemecah Belah Kaum Muslimin

Spread the love

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
(Institut Literasi dan Peradaban)

Muslimahtimes – Lagi dan lagi saudara seakidah mengalami kezaliman yang luar biasa. Beredar video Kapal Rohingya dengan 94 orang dan kebanyakan anak-anak berbulan-bulan terkatung katung di lautan , diselamatkan nelayan Aceh, nyeri dada merasakannya. Wahai saudarku, maafkan kami, yang hingga hari ini hanya mampu bersaksi dengan tulisan untuk menggambarkan penderitaanmu.

Masalah Rohingya , belum tuntas hingga hari ini. Mereka masih mengalami banyak penderitaan yang mungkin tak kan sanggup kita tanggung. Sesungguhnya masalah saudara muslim yang teraniaya dimanapun mereka berada adalah juga masalah bagi kaum muslimin yang ada di dunia. Mengapa tak kunjung selesai bahkan hingga muncul rasa apatis? ya, sebab para pemimpin negeri-negeri Muslim sekalipun mereka Muslim tapi banyak yang lebih nyaman sembunyi dibalik alibi negara bangsa alias Nation State. Beda negara beda urusan.

Semua berawal dari Perjanjian Sykes-Picot yaitu kesepakatan rahasia antara Inggris dan Prancis mengenai pembagian wilayah Utsmani di Timur Tengah. Perjanjian itu dirumuskan oleh François Georges-Picot mewakili Prancis dan Mark Sykes mewakili Inggris.

Setelah keduanya melakukan survei dan negosiasi, akhirnya perjanjian tersebut diresmikan pada bulan Mei 1916 atau pada puncak Perang Dunia I. Kesepakatan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa Sekutu akan memenangkan perang dan sebagai hasilnya Kekhilafahan Utsmani yang berpihak pada Jerman akan dibagi-bagi oleh Sekutu. Wilayah-wilayah yang awalnya dibawah kekuasaan Islam dipecah belah dan diberi kemerdekaan sendiri serta berhak memerintah pemerintahannya sendiri dibawah kontrol sekutu atau Inggris ketika itu.

Faktanya, dengan adanya Nation State kekuasaan kaum muslim dipecah belah, sumber daya alamnya di jarah, penduduknya di bunuh atau dimiskinkan. Dan ditumbuhkan rasa asing dan individualis kepada setiap jiwa kaum Muslim, sehingga tak ada belas kasih ataupun empati ketika melihat penderitaan sesama saudara seakidah. Aceh, menunjukkan berkali-kali bagaimana perasaan ( masyair) yang terpancar dari akidah yang benar mampu mengalahkan batasan-batasan yang dibuat manusia.

PBB sebagai manifestasi perhimpunan bangsa-bangsa di dunia pun tak berarti banyak, sebab keanggotan PBB , dalam hal ini Amerika memiliki hak veto mengatur dunia termasuk menciptakan krisis di dunia. Mengharap kepedulian para pemimpin kaum muslim adalah kesia-siaan. Mereka terkooptasi oleh sistem pemerintahan kufur buatan kafir penjajah, yang tunduk patuh pada Amerika sebagai negara pertama.

Politik luar negeri Indonesia , bebas aktifpun tak banyak berarti sebab untuk negara sendiri saja tidak berlaku. Hanya mereka yang mendatakangkan keuntungan bagi negara saja yang mendapat perlakuan manis. Seperti para Investor dan TKA asal Cina, padahal mereka tak pengaruh terhadap penurunan bunga riba APBN sesenpun.

Seluruh kaum Muslim akan berdosa jika ada Muslim yang lain masih teraniaya dan belum mendapatkan keadilan. Sebab , Rasulullah Saw menyifati kaum Muslim sebagai satu tubuh. Jika tangan sakit maka seluruh badan ikut merasakan demamnya. Sebab kepala tak lebih penting dari tangan atau kaki.

Rasulullah Salallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barangsiapa yg bangun di pagi hari namun hanya dunia yang dipikirkannya sehingga seolah olah dia tidak melihat hak Allah padanya, maka Allah akan menanamkan 4 penyakit dalam dirinya : Kebingungan yg tiada putusnya. Kesibukan yg tidak ada ujungnya. Kebutuhan yang tidak terpenuhi dan keinginan yg tidak tercapai”. (H.R ath Thabrani).

Inilah yang hari ini terjadi, kaum Muslim disibukkan oleh urusan dunia, yang padahal dunia itupun kini di kuasai oleh orang-orang yang benci Islam. Mengapa terjadi? Sebab kini kaum Muslim tak memilik pemoimpin yang peduli dan meriayah umat berdasar sistem yang benar, yang berasal dari Allah, pencita manusia.

“Dulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi sesudah aku. Yang akan ada adalah para khalifah dan mereka banyak.” Para Sahabat bertanya, “Lalu apa yang engkau perintahkan kepada kami?” Nabi bersabda, “Penuhilah baiat yang pertama. Yang pertama saja. Berikanlah kepada mereka hak mereka. Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka atas apa yang diminta agar mereka mengurusnya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibn Majah).

Kemenangan bagi kaum Muslim adalah janji Allah, Maka yang menjadi perhatian kita adalah seberapa besar kontribusi kita terhadap perjuangan umat mendapatkan keadilan. Yaitu hanya dengan Islam, kezaliman bisa dihentikan. Ini sekaligus bagian dari konsekuensi akidah yang kita beriman dengannya. Bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhamad urusan Allah adalah menjadikan Islam terterapkan secara praktis. Menggantikan ide Nation State yang tidak sesuai fitrah manusia.

Allah berfirman:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama kalian (TQS al-Maidah [5]: 3). Inilah jaminan Allah SWT dan adakah janji Allah satu saja yang diingkari? Wallahu a’ lam bish showab.

(Visited 15 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *