Negara Dikuasai Kapitalis, Lalu Teriak Merdeka, Pantaskah? 

Spread the love
Oleh. Mariyam Sundari
(Pemerhati Peradaban) 
Muslimahtimes.com-Sudah sejak 76 tahun silam Indonesia memproklamisasikan kemerdekaannya. Belanda kini sudah tidak menjajah lagi setelah dalam kurun waktu cukup panjang (1602 – 1942). Yang berhasil menguasai Sumatra, Papua, Sulawesi, dan Pulau Jawa. Tapi benarkah sudah tidak ada lagi penjajahan di negeri kita ini?
Jika memang sudah tidak ada lagi penjajahan, berarti dalam negeri ini benar-benar merdeka dan berdaulat? Lalu bagaimana jika dilihat dari segi ekonomi  negara saat ini. Apakah sudah menyejahterakan rakyat? Lantas, bagaimana dengan nasib orang-orang miskin. Apakah telah terjamin kehidupannya? Juga, bagaimana dengan lapangan kerja bagi para pengangguran. Apakah benar-benar sudah tersedia dengan baik?
Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI), Burhanuddin Muhtadi, mengatakan bahwa kondisi ekonomi nasional dinilai buruk di mata responden. Trennya terus-menerus turun dibanding Mei 2020, atau kuartal I, saat menghadapi pandemi Covid-19. Sampai Desember 2021, berhenti pada Juni 2022. (tribunnews.com, 26/4/2022)
Hal ini berbanding terbalik dengan klaim pemerintah bahwa pada kuartal II 2022, ekonomi Indonesia tumbuh 3,72 persen. Dengan realisasi ekonomi Indonesia tumbuh 5,44 persen secara tahunan. Ini menandakan RI lepas dari jerat ekonomi.
Bagaimana dengan tingkat pengangguran dan kemiskinan? Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan jumlah pengangguran di Indonesia, ada sebanyak 8,40 juta orang per Februari 2022. Jumlah itu turun, sekitar 350.000 orang dari posisi per Februari 2021, yang mencapai 8,75 juta orang. Kendati demikian, BPS mencatat untuk pengangguran di Indonesia, masih tinggi dan belum kembali ke posisi sebelum pandemi. (kontan.co.id, 11/5/2022)
Belum lagi kasus pemutusan hubungan kerja (PHK). Belum lama, PHK karyawan tengah melanda para pelaku perusahaan rintisan startup. Berdasarkan data Trueup, sejauh ini pada tahun 2022 ada 356 perusahaan teknologi, termasuk startup yang melakukan PHK. Jumlah pegawai yang terkena dampak sekitar, 65.494 orang per Minggu (3/7). PHK paling banyak terjadi pada bulan Juni. (NDC Indonesia, 3/7/2022)
Lalu, di mana kemerdekaannya? Benar, secara fisik Belanda dan Jepang sudah pergi dari negeri ini, tapi secara nonfisik, kita mesti jujur untuk mengakui bahwa sebenarnya penjajahan masih terus terjadi. Juga baru-baru ini diketahui adanya kasus sejumlah pelat merah dan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang dikabarkan gulung tikar, seperti Istaka Karya, Merpati Airlines, Persero, ISN, dan lainnya. Perusahaan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah, beban utang yang melambung hingga berujung pailit.  Timbul pertanyaan, bagaimana bisa terjadi? Apakah ada yang salah dalam pengelolaan manajemen? Atau adakah segelintir orang yang menguasai perusahaan negara ini? (Kapitalis).
Fenomena di atas seakan menggambarkan, betapa negara yang kaya akan sumber daya alam ini justru menjadi rebutan para kapitalis untuk menghisap kekayaan rakyat sebesar-besarnya. Sedangkan rakyat dipaksa untuk hidup dengan bantuan sosial ala kadarnya.
Berdasarkan fakta semua ini, tentu kita akan mengatakan, bahwa kita memang belum benar-benar merdeka. Karena itu kemerdekaan sejati tidak akan pernah ada dalam sistem Kapitalis maupun Sosialis.
Kemerdekaan hakiki sejatinya, hanya ada dalam sistem Islam. Banyak yang merindukan, dan bertanya, kapan itu terjadi? Ya, saat umat bersatu, tidak saling berselisih, selalu berpikir benar, bertekad kuat, persiapan yang matang. Dan yang paling terpenting adalah saat manusia berlepas diri dari penghambaan pada manusia, menuju pada penghambaan hanya kepada Allah subhanahuwata’ala.
Ketika manusia masih rela diatur dengan aturan yang dibuat manusia, dengan menolak aturan Allah subhanahu wata’ala. Dalam hatinya tidak rela aturan Allah subhanahu wata’ala diterapkan pada segala aspek kehidupan, juga termasuk dalam masalah ekonomi, maka negeri yang kita cintai ini, tidak akan pernah merasakan merdeka. Mengapa? Ya karena kita masih terjajah oleh hawa nafsu. Terbelenggu dalam ketamakan dunia. Dan merelakan segala permasalahan itu diatur dengan aturan yang dibuat oleh manusia, yang dipandang hina. Sedangkan, aturan Allah subhanahu wata’ala yang Mahatahu dan Mahabenar kini dicampakkan. Menjadikan hidup berlebihan dalam mencintai dunia. Padahal, hidup yang sebenarnya adalah hanya kehidupan di akhirat kelak.
Oleh karena itu, tidaklah ada jalan lain, supaya benar-benar merdeka kecuali, menjadikan Islam, bukan hanya semata-mata agama dalam kepercayaan. Tapi juga menjadikan Islam sebagai sebuah sistem hidup yang sempurna, dengan penuh keyakinan, mampu menyelesaikan problematika secara keseluruhan, baik itu dalam tataran individu, masyarakat, maupun negara. Yakinlah, bahwa hanya Islam yang benar-benar membuat negara ini merdeka, berdaulat, serta mandiri, juga akan mendatangkan kesejahteraan umat. Ayo, selamatkan negeri dengan aturan yang pasti. Tunggu apa lagi! Wallahualam. []