Neoliberalisme Mengeruk Asa

Spread the love

Oleh: Indah Yuliatik

(Komunitas Setajam Pena)

Muslimahtimes– Kemarau merupakan musim yang terjadi di daerah tropis. Umumnya terjadi pada bulan April sampai bulan September, rentang bulan ini curah hujan sangat minim hingga tidak terjadi sama sekali. Efek dari musim kemarau ini juga tidak dapat disepelekan. Kekeringan, krisi air, kebakaran lahan hutan dan lahan kosong menjadi bencana musiman setiap tahunnya. Wilayah Jawa Timur tidak luput dari bencana ini, hampir sebagain wilayah di Jawa Timur berdampak musim kemarau.

Dilansir dari detik.com (11/10/19), Kekeringan akibat kemarau panjang masih melanda Pacitan. Puluhan desa mengalami krisis air bersih. Kini warga bersama Forkompimda menggelar salat istisqa. Mereka berharap hujan segera turun. Ratusan orang duduk bersila seraya menundukkan kepala. Sementara mulut tak berhenti merapalkan kalimat tayibah. Halaman Polres Pacitan yang bersebelahan dengan jalan raya pun mendadak hening. Semua khusyuk dalam doa.

Ratusan personel gabungan diterjunkan untuk mengantisipasi Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Gunung Arjuno meluas ke wilayah Kabupaten Malang. Tim berasal dari unsur kepolisian, TNI AD, BPBD, Tahura, dan relawan. Apel siaga siang tadi digelar bersamaan dengan terbentuknya tim gabungan Karhutla Gunung Arjuno di Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB). Yakni di Dusun Ngujung, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. (detiknews, 13/10/19)

Krisis air, kekeringan dan kebakaran hutan mengindikasikan bahwa bumi mengalami kerusakan yang amat parah. Kerusakan ini karena pengaturan sistem yang salah, berada di sistem sekular keadaan bumi menjadi rusak. Peneliti Frances Seymour, peneliti World Research Institute (WRI) menyatakan penyebabnya karena laju deforestasi yang sangat cepat, pemanasan global dan iklim ekstrem, bukan karena tekanan populasi manusia yang kian meningkat.

Deforestasi yang amat cepat ini terjadi karena tekanan politik globalisasi dengan agenda neoliberalisme yang hegemoni. Mengakibatkan pengerukan Sumber Daya Alam di negara-negara yang memiliki kekayaan melimpah. Liberalisasi hutan, tambang hingga pembangunan kawasan ekonomi khusus dan energi baru terbarukan tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Kondisi ini, diperparah dengan eksploitasi mata air oleh pebisnis air minum kemasan, pencemaran sungai dan liberalisasi air bersih perpipaan. Semua ini memiliki ruang yang subur dan luas dalam sistem kehidupan sekular. Khususnya sistem ekonomi kapitalisme dan sistem politik demokrasi yang melegalkan kelalaian negara.

Sementara itu, penanggulangan dan pencegahan dalam bingkai neoliberal telah gagal. Karena begitu banyak peraturan perundang-undangan dan program yang telah dijalankan pemerintah. Termasuk agenda SDGs dan pembentukan Dewan Sumber Daya Air Nasional. Juga pelaksanaan agenda dari forum tingkat regional dan internasional. Seperti forum kerangka kerja perubahan iklim tahunan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – UNFCCC (United Nation Framework Convention on Cilmate Change) dan forum PBB untuk kehutanan (The Committee on Forestry – COFO) yang sudah berlangsung 24 kali, tidak ada efeknya sama sekali. Puluhan juta jiwa tetap tidak ada akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik. Kian parah serta makin meluas tiap kali musim kemarau datang.

Menurut BMKG ancaman kekeringan tahun ini tidak hanya Jawa Timur, tapi juga sebagian besar Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Maluku Utara, Bagian Selatan Papua Barat dan Papua sekitar Merauke. Ratusan ribu warga terdampak kekeringan, harus berjalan berkilo meter untuk mendapatkan se-ember dua ember air, gagal panen hingga minum air kubangan.

Berkebalikan dengan Islam sebagai sistem sempurna dari Sang Pencipta, memberikan solusi jitu untuk problem manusia yang kompleks sekalipun, termasuk masalah bencana kebakaran dan kekeringan ekstrem. Sistem Islam dengan Khilafahnya membuat mekanisme penampungan air saat musim hujan sehingga bisa digunakan saat musim kemarau. Tuntunan bersuci dengan air, yaitu kebutuhan wudu dan mandi, membuat Khilafah membuat sarana pemandian umum terpisah laki-laki dan perempuan, mudah ditemukan di manapun, baik di desa dan kota. Ini membuktikan kebutuhan air tercukupi dengan maksimal oleh Khilafah.

Kota-kota Islam pada masa keemasan Islam, sudah memiliki sistem manajemen yang memasok air untuk mengalirkan air ke semua tujuan. Di Samarra, air dibawa oleh hewan dan saluran pengumpan, yang mengalir sepanjang tahun. Keahlian ini disponsori oleh Zubaida, istri Khalifah Harun al-Rashid untuk memasok Mekah dengan air. Baghdad, dengan populasi lebih dari 800.000 (abad ke 10) dilayani oleh sistem kanal yang memberikan akses kota ke laut. Pada tahun 993, terhitung 1500 pemandian umum.

Seluruh dunia Muslim, ditandai dengan air yang mengalir di sungai, kanal, atau qanat (saluran bawah tanah) ke kota. Air disimpan dalam tangki, untuk disalurkan melalui pipa-pipa di bawah tanah ke berbagai tempat. Seperti, tempat tinggal, bangunan umum dan kebun. Air yang berlebih mengalir keluar dari kota ke sistem irigasi.

Kota Suriah dan Damaskus paling disukai karena memiliki sistem air yang luas dan lengkap. Sungai Barada, Qanawat, dan Banyas memasok kota melalui dua set kanal bawah tanah, satu untuk air tawar, yang membawa air ke masjid, sekolah, pemandian, air mancur umum, dan rumah pribadi, dan yang lainnya untuk drainase.

Samarkand memiliki sistem perpipaan timah. Air dialirkan melalui saluran berjajar. Ahli geografi al-Istakhri (pertengahan abad ke-10) mengatakan bahwa di kota, ada persediaan air untuk yang kehausan, dan jarang sekali ia melihat penginapan, sudut jalan, atau lapangan tanpa pengaturan air es. Dia menambahkan bahwa air bersirkulasi dan dialirkan ke pasar pipa timah.

Muslim di Barat, di Marrakech, air dialirkan ke kota untuk minum dan irigasi melalui saluran bawah tanah, terutama dari pegunungan yang berjarak dua puluh mil ke selatan. Di Fes, ahli geografi Ibn Hawqal, pada abad ke-10, mencatat pasar dicuci setiap hari, sementara tiga abad kemudian, diamati, sebagian besar rumah disilangkan oleh ‘sungai’, dan di setiap rumah, terlepas dari ukurannya, ada air mancur yang mengalir. Air di kota juga digunakan untuk mencuci jalan dan beroperasi antara 300 dan 400 kincir air.

Kota-kota besar di wilayah Timur memiliki saluran air mengalir; dan di mana-mana dapat ditemukan banyak kolam dan pemandian. Banyak pemandian seperti itu (dialirkan dari mata air mata Tiberias) masih berfungsi pada tahun 1914, selama 24 jam sehari. terdapat hostel bagi para pelancong yang datang dari negeri yang jauh untuk bermalam dengan hangat dan nyaman.

Hanya dengan sistem Islam yang diturunkan dari pencipta, kesejahteraan umat manusia dapat terwujud. Terjaganya Sumbar daya alam bumi hingga terjaminnya kehidupan semua makhluk ciptaan Allah SWT. [nb]

(Visited 9 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *