Pandemi Menggila, Pemerintah Kemana?

Spread the love

Pandemi Menggila, Pemerintah Kemana?
Oleh: Ummu Azka

Muslimahtimes – Pandemi corona makin menggila. Tercatat, per tanggal 22 maret 2020 sudah 513 orang yang terinfeksi, dengan jumlah pasien meninggal sebanyak 48 orang (Detiknews.com).

Rating angka kematian ini adalah yang tertinggi di dunia. Beberapa pesohor negeri pun tak luput dari penularan. Yang terbaru adalah keluarga Menpan RB, Cahyo Kumolo. Beliau mengakui jika menantu dan dua keluarganya positif corona. Sebelumnya, ada Walikota Bogor, Bapak Bima Arya yang dinyatakan positif corona setelah pulang dari perjalanan dinasnya ke Turki. Lebih dulu, salah seorang Menteri kabinet Jokowi dinyatakan positif covid 19, yakni Bapak Budi Karya Sumadi. (disarikan dari detiknews.com)

Nama-nama pesohor di atas tentu jauh lebih sedikit ketimbang rakyat biasa yang terinfeksi. Mereka yang mungkin belum mengetahui berita tentang dahsyatnya penyebaran covid 19 di negeri ini bahkan sudah ada yang terpapar virus ini. Ya, wabah ini sudah menjadi pandemi global. Mengintai banyak jiwa, menyebar mencari inang agar bisa hidup tenang. Semua dia hinggapi tanpa memandang status dan kedudukannya. Bahkan para tenaga medis pun tak luput menjadi korban penularan covid-19 ini.

Geliat penyebaran virus yang semakin tak terkendali ini membuat kepanikan global. Beberapa negara bahkan telah menetapkan kebijakan lockdown sebagai langkah penyelamatan dari semakin meluasnya wabah. Cina misalnya, pasca lockdown, wabah ini terus berkurang dan kemudian dapat dikendalikan di negaranya. Meskipun faktanya penyebaran ke berbagai belahan dunia sudah tak lagi dapat dibendung.

Sementara itu, Prancis yang juga melakukan lockdown, tengah berupaya agar pandemi ini tak meluas dan semakin banyak rakyatnya yang selamat. Sementara di dalam negeri , penanganan terhadap covid-19 masih kalah cepat dibanding penyebaran virus ini sendiri. Rating angka kematian tertinggi, serta meningkatnya jumlah penderita setiap hari adalah di antara beberapa bukti. Hal ini ditambah dengan beredarnya fakta di lapangan terkait teknis pelayanan yang diberikan masih minim dari jangkauan. Sebagai contoh, untuk pemeriksaan awal lengkap test corona virus, dikenai harga jutaan. Tentu sebuah angka yang jauh dari jangkauan rakyat kecil. Sementara harus diakui, bahwa covid-19 saat ini sudah mengintai siapapun dan dimanapun.

Dari segi pelayanan kesehatan, para tenaga medis nampaknya belum mendapatkan perlindungan yang semestinya. APD sebagai seragam wajib para dokter dan perawat pasien corona belum mencukupi jumlahnya. Tak heran jika di beberapa wilayah, terdapat kasus penularan dari pasien kepada dokter atau perawatnya. Harga APD yang mahal dan belum seriusnya pengadaan dari pemerintah, membuat para pejuang covid-19 rela menantang bahaya demi menyelamatkan nyawa pasiennya.

Status bencana nasional bahkan lahir setelah badan kesehatan dunia (WHO) mendesak Presiden untuk segera menetapkan corona sebagai bencana nasional. Meski faktanya ia mewujud sebagai pandemi global. Lemahnya negara dalam menangani wabah, serta masih minimnya pelayanan kesehatan membuat korban terpapar virus ini terus meningkat. Alih alih memberikan segenap kesungguhan memberantas wabah ini, pemerintah malah terkesan sibuk dengan pencitraan positif terkait wabah mematikan ini dengan mengangkat duta anti corona dan selebrasi tak bermanfaat lainnya. Diperparah dengan keputusan akhir Presiden yang menyerahkan kebijakan terkait wabah kepada masing masing kepala daerah.

Inilah bukti bahwasanya negara telah gagal saat rakyat membutuhkan kehadirannya. Ini sekaligus menjadi pembenaran ketika pengurusan hajat hidup orang banyak diserahkan pada para kapitalis. Bersemangat saat mengeruk dan memanfaatkan sumber daya alam, namun abai saat rakyat dilanda kesulitan.

Sementara itu, sosok pemimpin yang dirindukan tak kunjung datang. Saat bencana menyapa yang paling dibutuhkan umat sesungguhnya sosok sentral yang dipercaya mengurusi kehidupannya, tampil sebagai pihak pertama yang memberikan perlindungan serta pelayanan optimal. Di sinilah kita mengenal sosok negarawan hebat dalam sejarah menggilanya wabah.

Yang pertama, Ubaidah bin Al Jarrah, gubernur wilayah Syam yang pada saat itu Allah turunkan ujian berupa wabah mematikan, Tha’un. Keputusannya untuk menerapkan isolasi saat wilayah Syam terkena wabah Tha’un menjadikannya sebagai pemimpin yang dikenang sepanjang masa. Sejarah mencatat bagaimana keberanian beliau menghadapi wabah bersama dengan rakyat dengan tidak meninggalkan mereka sehingga syahid terkena wabah saat isolasi menjadikan dirinya sebagai pemimpin yang berani dan siap bertaruh nyawa demi rakyatnya.

Yang kedua, Amru bin Ash. Sosok pengganti Ubaidah bin Al Jarrah ini berhasil mengurangi wabah di Syam dengan strategi brilian yang beliau keluarkan. Perintah untuk mengungsi di pegunungan dengan jarak yang berjauhan membuat penularan wabah semakin berkurang dan akhirnya berhasil hilang. Persiapan isolasi yang dilakukannya tentu tak instan. Islam selalu menyiapkan rakyatnya tentang konsep ikhtiar dan tawakkal. Umat Islam diwajibkan berikhtiar dalam menangani wabah dengan langkah isolasi sembari mereka bertawakkal kepada Sang Pemilik kehidupan, Allah azza wa jalla. Ketundukan yang optimal terhadap syara inilah yang menjadi kunci pembuka pertolongan Allah. Semoga kisah ini bisa menjadi ibrah bagi kita serta pemimpin saat ini agar bertidak cepat dan lebih serius menangani wabah, hingga rakyat tak lagi bertanya: pemerintah kemana?

(Visited 38 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *