Panic Buying, dari Lemah Iman hingga Buruknya Pengurusan Penguasa

Spread the love

Panic Buying, dari Lemah Iman hingga Buruknya Pengurusan Penguasa

Oleh: Lailla Rahmadani (Aktivis Muslimah Papua)

Muslimahtimes – Sejak kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi di Indonesia diumumkan, pada awal Maret lalu, telah memicu kepanikan di tengah-tengah masyarakat. Salah satu fenomena yang muncul setelah pengumuman itu adalah panic buying. Apotek hingga mini market ‘diserang’ masyarakat.

Ramai di media sosial, foto-foto yang menunjukkan antrian panjang di supermarket di berbagai daerah, terutama di Jakarta. Masyarakat mulai panic buying kebutuhan sehari-hari, masker, hand sanitizer hingga bahan baku jamu. Akibatnya, terjadi kelangkaan masker dan hand sanitizer di mana-mana. Jika pun ada, harganya sudah meroket dengan tidak wajar.(CNNIndonesia.com, 8/3/2020)

Panic buying tidak hanya terjadi di Indonesia. Beberapa pekan sebelumnya, kejadian tersebut telah melanda negara-negara lain yang telah terkonfirmasi memiliki positif virus corona. Bahkan, di negara maju seperti Amerika Serikat, Perancis, Jepang, dan Australia pun sempat terjadi panic buying di berbagai supermarket. Sehingga hal ini menganggu rantai pemasokan. (CNNIndonesia.com, 5/3/2020)

Ketua Pusat Krisis UI Dicky Palupessy mengungkapkan perilaku membeli barang secara berlebihan dalam satu waktu atau panic buying di tengah merebaknya wabah virus corona (Covid-19) didasari oleh kecemasan yang tinggi sehingga mengakibatkan kehilangan untuk mengendalikan perasaan diri atau kehilangan sense of control. Dicky mengatakan secara psikologis, merebaknya virus corona menguatkan pikiran kita akan kematian. Ketika kita diingatkan tentang kefanaan tersebut, maka orang bisa menjadi lebih impulsif, termasuk impulsif pada membeli barang. (CNNINdonesia.com, 22/3/2020)

Kepanikan masyarakat ditengah Pandemi seperti saat ini adalah hal yang wajar. Selain karena faktor lemahnya keimanan dan ketaqwaan Individu masyarakat, juga di sebabkan oleh ketidakpercayaan masyarakat pada Negara (pemerintah) dalam menjamin pemenuhan kebutuhan dasar rakyat. Mulai dari tidak adanya bukti konkret terkait ketersediaan logistik, tidak adanya himbauan tegas tentang pemerataan distribusi dan kenaikan harga barang, serta adanya penimbunan pasokan barang oleh orang-orang yang mencari keuntungan dalam kesempitan. Apalagi hingga saat ini, tak jelas bagaimana pemerintah akan menangani virus yang semakin luas penyebarannya. Akhirnya, masyarakat mengambil langkah mandiri untuk memenuhi kebutuhan dalam menghadapi mewabahnya Covid-19.

Physical distancing yang berlakukan pun tak bisa ditaati, sebab bagi rakyat miskin “lebih baik mati diluar rumah karena corona dibanding mati di rumah karena kelaparan”. Sebab memang belum ada jaminan mereka bisa makan jika hanya di rumah. Negara seolah berlepas tangan atas hajat hidup rakyat.
Inilah buruknya hasil pengurusan hidup rakyat dengan sistem Kapitalisme sekuler yang diemban negeri ini. Negara tak mampu memberikan jaminan kebahagiaan bagi rakyatnya. Rakyat pun tetap dalam kecemasan panjang sebab miskin keyakinan pada Sang Pemberi Hidup. Lupa bahwa Allah swt. Yang berkuasa atas segala sesuatu.
Padahal Islam yang mengajarkan bahwa segala sesuatu datangnya dari Allah, termasuk Covid-19, makhluk mikron tak kasat mata ini pun ciptaan-Nya. Dan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu sesuai dengan qodarnya. Allah telah menciptakan api mempunyai qodar (khosiyat) membakar. Allah pun telah menciptakan virus dengan qodar dapat menjangkit pada inang hingga menyebabkan sakit. Allah juga telah menciptakan manusia dengan qodar memiliki akal untuk memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Maka sikap yang harusnya ada pada diri orang-orang yang beriman dalam mengahadapi Pandemi adalah tawakal, menyandarkan diri hanya pada Allah swt serta Ridho terhadap semua ketentua-Nya, sebab tak ada bencana/musibah yang menimpa seseorang kecuali atas izin Allah. Allah swt. berfirman :
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah maka Allah akan berikan petunjuk ke dalam hatinya.” (QS. at-Taghabun:11)

Kaum Muslim hendaknya semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan bertaubat, memperbanyak doa dan zikir kepada-Nya, serta sabar melalui setiap ujian, termasuk pandemi yang saat ini melanda.

Di sisi lain, Islam memerintahkan kaum muslimin untuk maksimal dalam ikhtiar, yakni dengan berusaha menghindarkan diri dari tertular penyakit dan melakukan berbagai upaya pencegahan. Termasuk ikhtiar yang adalah melakukan karantina atau isolasi atas wilayah yang terkena wabah. Rasul saw. bersabda :
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
“Jika kalian mendengar wabah di suatu wilayah, janganlah kalian memasukinya. Jika terjadi wabah di tempat kalian berada, janganlah keluar darinya” (HR al-Bukhari).

Islam pun memerintahkan agar penduduk wilayah yang dilanda wabah untuk berdiam di negeri/wilayahnya dan juga berdiam di rumahnya. Ketika seseorang tetap berdiam di wilayahnya dan berdiam di rumahnya, tidak keluar kecuali untuk keperluan yang penting sekali, seraya dia bersabar mengharap rida Allah SWT dan meyakini akan qadha’ Allah maka untuk dia ada pahala setara dengan pahala syahid. Rasul saw. bersabda tentang tha’un:
أَنَّهُ كَانَ عَذَابًا يَبْعَثُهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، فَجَعَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، فَلَيْسَ مِنْ عَبْدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ، فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ -في رواية أخرى لأحمد: فَيَمْكُثُ فِي بَيْتِهِ- صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لَمْ يُصِبْهُ إِلَّا مَا كَتَبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ، إِلَّا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ الشَّهِيدِ
“Tha’un itu merupakan azab yang Allah timpakan kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah jadikan sebagai rahmat untuk kaum Mukmin. Tidaklah seorang hamba, saat tha’un terjadi, berdiam di negerinya—dalam riwayat Imam Ahmad yang lain: lalu dia berdiam di rumahnya—seraya bersabar dan mengharap ridha Allah, dan dia menyadari bahwa tidak menimpa dirinya kecuali apa yang telah Allah tuliskan untuk dia, kecuali bagi dia pahala semisal pahala syahid.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Protokol isolasi wilayah dan isolasi/karantina diri di rumah oleh tiap-tiap orang warga wilayah itu mungkin yang sekarang disebut lock down, baik parsial maupun total. Protokol ini penting sekali untuk memutus rantai penyebaran penyakit dari satu wilayah ke wilayah lainnya dan dari satu orang ke orang lainnya.

Pelaksanaan semua protokol itu merupakan tanggung jawab syar’i semua anggota masyarakat. Hukumnya wajib.(BuletinKaffah Edisi 134). Islam juga mengajarkan masyakatnya “peka”, saling berempati dengan saudaranya yang lain. Masyarakat dianjurkan untuk saling membantu agar kelangsungan hidup mereka dan keluarganya bisa terjamin. Saling meringankan beban saudaranya. Dengan itu mereka bisa berdiam di rumah dan tidak harus pergi ke luar rumah. Semua itu demi kebaikan masyarakat seluruhnya.

Islam juga menuntut negara (Pemerintah) mengurusi urusan rakyat secara layak, termasuk pemeliharaan urusan kesehatan mereka. Bahkan Islam mewajibkan Negara menjamin pelayanan kesehatan untuk seluruh rakyat secara gratis.

Dalam Islam, pemerintah wajib menjamin perawatan dan pengobatan semua orang yang sakit, khususnya yang terkena Covid-19. Pemerintah harus menyediakan semua alat kesehatan yang dibutuhkan secara memadai, termasuk APD yang sangat dibutuhkan oleh paramedis. Pemerintah juga wajib menjamin birokrasi, protokol dan prosedur yang diperlukan berjalan. Pemerintah juga harus mewujudkan suasana yang nyaman dan aman bagi paramedis sehingga mereka dapat menjalankan tugas perawatan dan pengobatan sebaik mungkin.

Islam mengharuskan pemerintah membuat kebijakan sehingga protokol physical distancing atau social distancing bisa berjalan secara efektif. Mengedukasi dan mendorong—jika perlu mengharuskan—semua masyarakat untuk menjalankan protokol physical distancing atau social distancing tersebut.

Islam juga mengharuskan pemerintah juga hendaknya segera mengambil tindakan dan kebijakan untuk memutus rantai penyebaran Covid-19 ini secepat mungkin. Bukan justru kelambanan serta ketidakjelasan kebijakan dan tindakan yang dirasakan masyarakat seperti saat ini.

MasyaAllah, demikianlah Diinul Islam, sistem yang mengatur kehidupan manusia dengan sempurna. Islam begitu detail menuntun manusia bagaimana mengatasi semua persoalan kehidupan. Termasuk bagaimana menghadapi wabah penyakit.

InsyaAllah, wabah bahkan krisis apapun akan mampu diatasi ketika masyarakat dan Negara yang saling menopang, saling mendukung, saling bersinergi dengan satu landasan yang sama, yakni ketaqwaan pada Allah swt.

Semoga Allah SWT memberikan pertolongan-Nya sehingga Pandemi yang melanda bumi ini bisa segera berakhir. Amin ya Rabbal ‘alamin.[]

(Visited 17 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *