Pasar Rasulullah Untuk Kemandirian Umat

Spread the love

Oleh: Desi Anugrah Muthmainnah
(Pemerhati Kebijakan Publik)

Muslimahtimes– Ketika Rasulullah saw mengawali peradaban Islam di kota Madinah, yakni pasca hijrah dari Mekkah, kala itu perekonomian sudah dikendalikan oleh kaum Yahudi. Mereka menguasai pasar-pasar besar dan pusat-pusat produksi pertanian di Khaibar. Alhasil, kaum Yahudi yang mengendalikan perekonomian Madinah dari hulu sampai hilir hingga jalur distribusinya.

Pasar Bani Qoinuqo’ milik Yahudi adalah salah satu pasar terbesar yang ada, sekaligus menjadi kekuatan mereka. Dengan cara-cara yang penuh tipuan (gharar dan jahalah) dan praktek riba yang akut, kaum Yahudi berhasil menjerat semua pemilik barang-barang produksi agar masuk ke pasar mereka. Inilah kenapa Yahudi mampu menguasai perekonomian Madinah kala itu.

//Masyarakat Madinah Sebelum Hijrahnya//

Rasulullah saw, tidak bisa lepas dari lingkaran setan ekonomi ribawi ciptaan Yahudi. Yang tidak mau ikut sistem ekonomi Yahudi, maka jangan harap bisa masuk dalam pasar-pasar penting di Madinah.
Melihat kondisi ekonomi yang tidak menguntungkan umat dan jauh dari syariat, Rasulullah saw menerapkan strategi jitu untuk melemahkan dominasi Yahudi. Dua strategi penting yang saling berkaitan beliau terapkan.

Pertama, meningkatkan etos kerja dan produktifitas kaum Muslimin. Kedua, menciptakan pasar baru untuk transaksi kaum Muslimin.

Dalam strategi pertama, Rasulullah saw memerintahkan para sahabat untuk menggarap lahan-lahan pertanian Madinah yang kosong dan ditelantarkan oleh penduduk setempat. Sebelumnya, masyarakat Madinah telah merasa puas dengan hanya bekerja kepada pihak Yahudi saja. Mereka sudah merasa tercukupi dari produk-produk Yahudi. Kalaupun ada yang menanam, hanya untuk kebutuhan sendiri saja. Sehingga masyarakat Madinah sangat tergantung dengan produk Yahudi.

Beliau bersabda; “Barang siapa yang menghidupkan tanah yang mati, maka tanah itu menjadi miliknya” (Hadist Riwayat Al Bukhori).

Seruan ini lantas disambut oleh para sahabat beliau. Mereka segera menaati apa yan menjadi perkataan Rasulullah. Ada Ali bin Abi Thalib, yang menghidupkan lahan di dekat mata air Yanbu’. Zubair bin Awwam yang mengambli sepetak tanah yang tak terurus di Madinah. Dan tentu saja diikuti oleh sahabat-sahabat lain. Mereka bersemangat hidup mandiri dan produktif dengan mengembangkan kawasan pertanian baru di Madinah.

Meluasnya kawasan pertanian yang menjadi sumber produksi baru di Madinah, sebut saja Wadi Al-Aqiq, Wadi Bathhan, Wadi Mahzuz, Wadi Qanah, Wadi Ranuna, Wadi Al Qura, Wadi Waj, Wadi Laij, dan lainnya, telah menghasilkan produk-produk pertanian yang menjadi mata pencaharian utama penduduk. Produksi dari lahan-lahan baru ini sanggup mengalahkan produk-produk Yahudi, dalam segi kualitas dan kuantitasnya.

Perhitungan yang matang dari Rasulullah saw, bahwa produksi adalah bagian paling dasar dari siklus ekonomi. Tak akan ada transaksi dan pasar tanpa adanya barang-barang produksi. Maka poin inilah yang menjadi titik awal Rasullullah dalam melemahkan dominasi dan arogansi Yahudi.

Dilanjutkan dengan strategi kedua, yakni pendistribusian produk-produk kaum Muslimin yang telah dihasilkan. Untuk strategi yang kedua ini Rasulullah saw kemudian membuat pasar sendiri. Beliau tidak mau ikut dalam pusaran sistem pasar yang dikendalikan Yahudi. Barang-barang produksi milik kaum muslimin tidak lagi dijual di pasar Bani Qoinuqo’ buatan Yahudi.

Sebagai langkah awal, mula-mula, Rasulullah saw mendirikan tenda-tenda di sebelah pasar Qoinuqo’ yang dikhususkan untuk transaksi kaum Muslimin. Terang saja hal itu memicu kemarahan kaum Yahudi. Ka’ab Al-Asyraf pemimpin kaum yahudi menghancurkan tenda-tenda milik kaum muslimin dan menyuruh mereka untuk kembali berdagang di pasar Qoinuqo’. Rasulullah saw tidak terpancing dengan tindakan Ka’ab, demikian pula dengan kaum muslimin yang lainnya mengikuti arahan beliau. Dengan tegas beliau kemudian menyatakan, “Demi Allah, aku akan membangun pasar yang akan membuatnya lebih marah lagi.”

Demikianlah, Rasulullah saw kemudian kembali membangun pasar yang agak jauh dari pemukiman penduduk. Pasar yang sepenuhnya menerapkan syariat Islam. Penuh kejujuran, tanpa ada riba dan ongkos-ongkos yang mencekik para pedagangnya. Kawasan pasar ini dikemudian hari dikenal sebagai Pasar Manakhah.

Pasar buatan Rasulullah saw berupa tanah lapang, sangat luas, dan tidak dibuat dengan bangunan permanen. Tidak ada pajak, sewa tempat, pungutan, atau kutipan apapun di pasar ini guna menjaga harga tidak naik di tingkat pembeli. Uniknya, siapa saja kaum muslim boleh berdagang di pasar ini, tidak boleh ada yang mengkapling-kapling tanah pasar untuk sendiri. Pasar ini berdiri di atas tanah wakaf.

Setiap orang berhak berdagang di sebelah mana saja, sama seperti orang duduk di Masjid bebas di sudut mana saja. Pengambilan tempat berdasarkan pada urutan datang. Siapa yang pertama kali datang, dia berhak untuk memilih tempat di pasar.

Nilai tambah yang sangat istimewa dari pasar ini adalah sangat ketat dalam menjaga pelaksanaan syariat muamalah Islam. Prinsip-prinsip transaksi Islam sangat diperhatikan. Di pasar ini tidak boleh ada riba, judi, gharar, dan kemungkaran yang lain. Diharamkan adanya kecurangan jual beli, seperti mencampur produk dengan barang haram, mengurangi timbangan, dan penipuan lainnya.

Tidak main-main, Rasulullah saw mengangkat Umar bin Khattab ra, sang singa Allah, sebagai pengawas pasar. Umar bin Khattab ra yang sangat wara’ menjamin pelaksanaan muamalah dengan sebaik-baiknya. Beliau diberi kewenangan untuk menindak segala bentuk kecurangan yang terjadi tanpa pandang bulu.
Sehingga tak mengherankan jika pasar Rasulullah saw yang penuh berkah dan jauh dari kemungkaran ini semakin diminati oleh banyak kalangan. Baik kaum muslimin maupun non muslim berbondong-bondong bertransaksi di dalamnya. Sejalan dengan waktu, pasar ini sanggup menggusur dominasi kaum Yahudi di sektor perekonomian.

//Sejarah Berulang, Umat Berjaya Kembali//

Sejarah berulang kembali di masa dan tempat yang berbeda. Kondisi yang kita alami saat ini di Indonesia serupa dengan kondisi yang terjadi di awal masa nubuwwah. Perekonomian umat didominasi produk-produk dari negara asing, khususnya yang berafiliasi dengan kaum Yahudi.

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim, masih banyak tergantung dengan asing dalam perekonomiannya. Ketergantungan Indonesia atas produk dan keuangan dari negara Yahudi pun terbilang akut. Umat Islam juga banyak yang tak menyadari hal ini. Persis keadaan sebelum Rasulullah saw hijrah ke Madinah. Maka, berkaca dari sejarah pasar Rasulullah sudah sepantasnya kita menapaki kembali kedua strategi yang dilakukan Rasulullah saw dalam menaklukkan ekonomi Yahudi.

Memang, suasananya berbeda. Saat itu perekonomian ditopang oleh produk-produk pertanian. Belum ada kecanggihan komunikasi. Belum ada modernisasi transportasi. Belum ada diversifikasi pengolahan produk. Dan belum ada sarana-sarana hebat seperti sekarang.

Namun pada intinya, strategi ekonomi yang di jalankan Rasulullah saw itu bertumpu pada Peningkatan Produksi Dalam Negeri (Hadist menghidupkan tanah mati) dan Penerapan Sistem Muamalah Islam (pendirian pasar Rasulullah saw tandingan pasar Bani Qoinuqo’).

Maka, beranikah pemerintah Indonesia melakukan strategi ekonomi yang tidak populer, seperti yang dilakukan Rasulullah saw? Hasilnya sudah nyata. Kedua strategi itu sanggup menggusur hegemoni dan dominasi ekonomi liberal buatan Yahudi. Bukankah itu juga yang terjadi sekarang?
Hadist Rasulullah saw dalam strategi ekonominya, dapat diimplementasikan sebagai Undang-Undang atau peraturan pemerintah untuk peningkatan produksi dalam negeri dan kewajiban memakai produk dalam negeri. Khusus produksi dari lini pertanian, sebagai khittoh Indonesia negara agraris, harus mendapat perhatian khusus. Kebangkitan Indonesia sebagai negara Maritim pun juga diawali dari strategi ini.
Selanjutnya, yang tidak kalah penting, Pemerintah Indonesia harus berani membuat pasar sendiri. Pasar yang berbasis pada sistem ekonomi Islam, tanpa kecurangan, tanpa korupsi, tanpa penindasan. Kuat dalam pondasi produksi.

Kenapa harus muamalah Islam, bukan hukum muamalah yang lain, seperti halnya muamalah demokrasi, muamalah liberal, atau bahkan muamalah sosialis? Sebab muamalah Islam adalah satu-satunya sistem muamalah yang menyeluruh. Sistem yang menyentuh sisi Ketuhanan dan sisi Kemanusiaan. Para pelaku sejati dalam muamalah Islam, akan selalu bertanggung jawab atas segala tindakannya dalam bermuamalah. Mereka akan dituntut untuk paham fiqih (tata cara) ber-ekonomi. Yang Muslim akan senantiasa berhati-hati dalam muamalahnya, dan yang non muslim pun akan merasakan keberkahannya juga.

Maka bukan tak mungkin jika Indonesia bisa menjadi negara pelopor ekonomi Islam kuat dan mandiri. Yang mampu mematahkan dominasi perekonomian ribawi ala Yahudi. Dan tidak lagi menjadi bidak yang dimainkan kekuatan ekonomi liberal. Umat Islam akan mampu berjaya kembali dalam naungan sistem Islam kaffah. Allahu ‘alam bis showab

(Visited 267 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *