Pejuang Subuh

Spread the love

Pejuang Subuh

Karya: Choirin Fitri

Muslimahtimes.com – Garis merah menghiasi cakrawala. Warna hitam pekat masih mendominasi. Rembulan dan gemintang setia menghiasi. Ayam jantan bersahutan menyambut hari baru.

Sayup-sayup terdengar suara azan. Suara yang dibenci kaum rebahan. Suara yang enggan didengar kaum berselimut. Suara yang membuat pecinta malas enggan beranjak.

Tidak bagi Pejuang Subuh. Mereka selalu rindu kumandang azan Subuh. Bahkan, sebelum Subuh bertandang mereka telah siap menyambutnya. Baju Koko rapi dengan diri yang telah bersuci atau mukenah cantik dikenakan.

Kubuka pintu rumah yang mulai repot dimakan usia. Peci hitam yang senantiasa menemaniku meski telah buluk tetap kukenakan. Baju koko hadiah juara azan tahun lalu menjadi pakaian terbaikku untuk mengahadapnya. Lainnya, hanya pakaian buruh sawah yang lusuh.

Langgar Al Ikhlas. Sebuah papan nama yang ditempel di dinding sebelah pintu tampak berwarna pudar. Cat hijau yang menjadi latar tampak mengelupas di sana sini. Bahkan, tulisan Al Ikhlas pun yang harusnya berwarna emas sudah kehilangan cahaya warnanya.

Belum tampak satu batang hidung pun saat kaki kananku menjejak di lantai. Seperti hari-hari lainnya, aku adalah penghuni pertama rumah Allah ini ketika waktu Subuh tiba. Hanya dengan suara azankulah penduduk desa lainnya akan berdatangan menemaniku berjamaah.

Setiap selesai mengimami salat Subuh Haji Syukur selalu melakukan ritual yang menarik. Mata tuanya akan menutup sekejap. Bibirnya komat-kamit membaca ta’awudh dan basmalah. Jemari tangannya yang memegang Al-Qur’an terjemah otomatis membuka mushaf dengan cepat.

Sebelum membaca ayat yang pertama kali tampak, Haji Syukur akan menampakkan raut wajah berbeda-beda. Kadang diawali dengan senyum bahagia. Ini dilakukan saat bertemu ayat rahmat. Tiba-tiba menunduk dan tak jarang berurai air mata ketika bertemu ayat tentang neraka atau azab. Kadang pula datar tanpa ekspresi yang pasti.

Aku selalu penasaran dengan ayat yang akan dibacakan pada jama’ah. Apakah ayat azab? Ayat rahmat? Ayat peringatan? Ataukah ayat sains teknologi?

Wajah Haji Syukur tampak serius. Sebuah ayat Al-Qur’an beserta terjemahannya ia lantunkan,

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

“Kalau ada yang tahu surat dan ayat berapa yang kubaca tadi kuhadiahi uang saku warna hijau ini,”

Selembar uang kertas diletakkan tepat di hadapanku. Rezeki yang lumayan jika mendapatkannya. Anehnya, saat kupandang kanan kiri tak ada yang menjawab.

“Eeeehhhhmmmmm, surat Al Ankabut ayat 45 njih Pak Haji?”

“Betul. Iki uang buat sampean,”

Senyum sumringah mengiringi lembar uang hijau ke tanganku. Aku menerimanya dengan ucapan terimakasih dan senyum lebar.

“Kalau memang salat itu mencegah perbuatan keji dan munkar kenapa saat ini banyak pejabat yang agamanya Islam dan salat, tapi korupsi?” pertanyaan dari Bapak paruh baya berbaju Koko merah bata.

“Ada pula lho, Pak Haji, yang rajin salat tapi nggak mau nutup aurat kalau ke mana-mana,” kata jamaah samping kananku..

“Ada pula yang masih suka judi,” kataku tiba-tiba.

“Itu karena mereka tidak memahami makna salat yang sesungguhnya,”

“Maksudnya pripun to, Pak Haji?” tanya Bapak berpeci putih.

“Allah itu memerintahkan pada kita untuk menegakkan salat. Saat salat kita selalu berjanji pada Allah dalam doa ifitah. Inna sholatii wa nusukii wa mahyaayaa wa maaatii lillahirobbil aalaamiin. Salatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah bukan untuk yang lain. Nggeh mboten?”

Semua jamaah mengangguk tanpa mengiyakan. Pak Haji berujar, “Nah, harusnya di luar salat ikrar ini dijalankan. Sayangnya karena Islam saat ini hanya dijadikan agama ritual, maka saat beraktivitas yang lain, kaum muslimin tidak mau memakai aturan Allah.”

“Kalau bukan agama ritual. Islam itu agama apa Pak Haji?” tanyaku penasaran.

“Islam itu agama yang sempurna. Dari bangun tidur sampai bangun negara ada aturannya. Dari perkara remeh tentang keluar masuk kamar mandi hingga keluar masuknya barang seperti ekspor impor ada aturannya. Wes pokoknya paket komplit,”

“Kok ya saya baru tahu ya Pak Haji?” tanya bapak-bapak berbadan subur.

“Soalnya kamu jarang ikut subuhan,” jawab Pak Haji sambil menepuk pundak laki-laki muda di sebelah kiriiku, “Besok-besok yang rajin biar makin paham sempurnanya ajaran Islam!”

Laki-laki di sebelahku menunduk dan mengangguk lemah. Haji Syukur mengajak kami beristighfar dan membaca doa akhir majelis. Satu per satu jama’ah Subuh beranjak meninggalkan rumah Allah ini.

Batu, 20 Juli 2021