Peluang dan Tantangan Dakwah 2045, untuk Perempuan Hebat

Spread the love

Oleh. Rut Sri Wahyuningsih

(Institut Literasi dan Peradaban)

MuslimahTimes.com – Alhamdulillah, saya kembali mendapat kesempatan istimewa menjadi moderator acara keren besutan Narasipost.com. Bertajuk “Peluang dan Tantangan Dakwah Menuju Indonesia 2045”. Event ke-4 NP ini menghadirkan pemateri beken Teteh Surani Ningsih, ST. Beliau ibu dari tiga anak, aktif menangani proyek-proyek bisnis syariah dan tetap fokus pada dakwah, luar biasa!

Dalam benak saya dan begitu juga pertanyaan emak-emak di media sosial terkait judul tersebut, ” Apa iya kita masih hidup di tahun itu, 20 tahun dari sekarang kurang lebih?” Dan itulah bukti naifnya kami, meski berstatus pengemban dakwah.

Dunia memang sedang dikocok sebagaimana seorang ibu sedang “napeni” (memisahkan beras dengan kotoran dengan alat dari bambu=jawa.pen), melihat putarannya terus memudar pada sesuatu yang terbesar, kekuatan yang luput hari ini untuk diberikan porsi terbesar dalam hidup kaum Muslim, yaitu kapitalisme. Dimana pelakunya bukan lagi Eropa, Amerika dan sekutunya, tapi Cina.

Liciknya, kita tenggelam dalam narasi basi komunisme, PKI, atheisme dan lain-lain yang digelontorkan para corong Barat, yang jelas-jelas sedang panik karena sang kapitalis timur sedang unjuk gigi. Kita sibuk menangkis hal itu, dengan tatabu'( mengikuti berita), secara lisan dan dengan pemikiran. Inilah proxy war, yang memang harus diadakan agar kondisi sesuai dengan yang mereka inginkan.

Menit demi menit berlalu, pemaparan Teh Surani mampu menghipnotis hampir 100 ibu-ibu di ruang zoom, tak ada yang menguap bahkan mengerjapkan mata sekalipun. Sebab materinya berdaging semua, bahkan salah satu peserta berkomentar ‘bersayur empat sehat lima sempurna’. Pemaparan Teteh Surani sangat apik, meski ada sedikit trouble secara teknis, tapi secara umum mampu membawa angan melayang, otak mendidih dan perasaan teraduk.

Apa bedanya kapitalis Barat dan Timur? begitu pertanyaan pancingan Teteh Surani, mengapa Uni Eropa “ngambek” hingga ada pelarangan ekspor nikel dari Indonesia? mengapa pemerintah ngotot Omnibus Law segera ketok palu? mengapa minyak dan batu bara tak lagi jadi primadona?

Pertama, karena posisi Indonesia strategis, ada di perempatan persis, mungkin inilah alasan toko waralaba Indonesia yang terkenal bersebelahan berani berjajar-jajar di tempat-tempat strategis? karena pasti ramai dan pas buat pasar. Yah, dengan tegas Teteh Surani berkata bahwa Indonesia adalah pasar, bonus demografi adalah potensi pasar, bukan ahli apalagi penemu teknologi, catat!

Kedua, kapitalis Barat hanya mau mengeksplorasi bahan mentah pembuat baterai listrik dan konco-konconya dan bangun smelternya di negaranya. Sedang Cina bersedia bangun di Indonesia, itulah mengapa Opung Luhut begitu mesra, diikuti menteri-menteri yang lain, berharap remah rengginang dari kaleng Khong Guan jatuh, padahal watak kapitalis tidak akan beda meski yang satu berkulit merah dan yang satu bermata sipit.

Inilah juga jawaban atas pertanyaan, “Mengapa barang tambang menjadi primadona baru yang akan segera menjadi rebutan mereka, yaitu bahan baku baterai, yaitu nikel dan Indonesia memiliki 30% cadanganny?” Itu yang sudah diketahui melalui penelitian, padahal disinyalir masih banyak sumber yang belum diketahui.

Inilah pula yang jadi jawaban, “Mengapa ormas Islam yang aktif segera dieksekusi meskipun alasan penangkapan dan pembubarannya tak jelas?” Merekalah duri dalam daging yang akan senantiasa mendidihkan kesadaran bahwa Sumber Daya Alam itu milik Indonesia dan harus dikelola secara mandiri oleh negara. Bukan dijual, ditawarkan bahkan dihibahkan kepada korporasi.

Kita tak sadar bukan? Mendengar hal itu, badan jadi gemetar, kalau tak nyadar sedang di depan monitor zoom, mungkin sudah nangis guling-guling. Ya Allah, betapa tak maksimalnya kami menempatkan diri kami sendiri agar layak menghuni surgaMu. Tatabu’ kami apa adanya, tak sabar mengupas berita dalam berita, analisa ala kadarnya padahal umat telah menanti untuk disadarkan, sudah terlampau lama mati suri, kezaliman sudah tak tertahankan lagi.

Liberalisasi akan masif menyerang beberapa aspek strategis di Indonesia, semua demi sebuah prediksi beberapa tokoh pemikir Barat dan Timur yang jenius bahwa masa depan manusia di dunia bukan lagi fuel tapi listrik.

Materi mendekati akhir pembahasan, rasa penasaran belum tertuntaskan, Alhamdulillah Pimred Narasipost.com, Mom Andrea, memberi kode ada waktu tambahan 30 menit dan meskipun hingga akhir masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab namun setidaknya sudah menyalakan lampu ide di banyak kepala malam ini, termasuk saya. Untuk segera menajamkan pena dan membumikan ide Islam idelogis lebih gencar dan meluas.

Sebagaimana closing statemen Teteh Surani, yakni mengunci pemahaman agar semakin menancap yaitu,”Pahami berita di balik berita” . Ringan diucapan namun berat diamalkan. Namun dengan kekuatan komitmen tentu semua bisa kita libas. Sertakan Allah dalam setiap aktivitas. Dan satu yang paling penting, bersiaplah menjadi ibu yang terbaik sebagaimana ibunda Solahudin Al Ayyubi yang sudah memprediksi putranya kelak menjadi pembebas Al-Aqso.

Kitalah ibu pilihan Allah yang memiliki bekal dan senjata terbaik untuk mempersiapkan anak kita sebagai pemilik generasi 2045. Bukan untuk perjuangan kita hari ini, namun untuk mereka. Maka, logika yang seharusnya dibangun adalah persiapkan diri sebaik mungkin mulai hari ini agar anak-anak kita mengenal Islam lebih baik, agar ia kelak siap menghandle peradaban dan kemajuan yang diramal oleh banyak orang. Merekalah yang pegang kendalinya sebagaimana Solahudin Al Ayyubi yang mempercayai prediksi orang banyak dengan gemilang.

Sungguh misi yang luar biasa. Semoga Allah memudahkan urusan kita dan sampai berjumpa di even Narasipost.com berikutnya, Wallahu a’ lam bish showab.