Pembebasan Palestina Tidak Cukup dengan Retorika

Spread the love

Oleh. Jumriati Fathia (Pemerhati Publik)

Mualimahtimes.com- Sungguh derita kaum muslim Palestina sudah lebih dari 70 tahun sejak tahun 1984. Terampasnya tanah palestina oleh Israel merupakan buah pahit akibat lenyapnya persatuan umat. Sehingga umat butuh institusi yang menjadi tameng bagi kaum muslim untuk membebaskan dan mengembalikan Al Quds dari cengkeraman Zionis Israel.

Israel kembali menyerang Palestina pada Jumat (5/8) Sedikitnya 44 warga Palestina, termasuk anak-anak tewas di tengah operasi militer Israel yang membidik Jihad Islam Palestina. Kementerian daerah kantor Palestina melaporkan, sejak operasi militer Israel yang menargetkan posisi Jihad Islam dimulai pada hari Jumat, total 44 warga Palestina meninggal dunia, termasuk 15 anak-anak dan empat wanita. Sedangkan 311 orang lainnya terluka di seluruh Gaza. Tragedi ini merupakan yang terburuk di Gaza sejak perang berkecamuk tahun lalu. Israel bersikeras bahwa Jihad Islam di Gaza berencana untuk menyerang Israel selatan sebagai pembalasan atas penangkapan Saadi. Israel pun melakukan operasi yang disebut oleh militer Israel sebagai serangan “pre-emptive”. (Detik.com, 8/8/2022)

Aqsa Working Group (AWG) mengutuk sekeras-kerasnya atas agresi Zionis ini. Serangan ini, sekali lagi membuktikan bahwa mereka adalah rezim zalim yang tersisa yang harus dimusnahkan dari muka bumi. Di kutip dari Republika, co.id pada 7/8/2022, menurut AWG, klaim Zionis Israel bombardir Gaza sebagai upaya pencegahan, adalah alasan mengada-ada. Mereka seharusnya tidak boleh direspons dengan bombardir properti, korban sipil dan anak-anak.

“Agresi ini merupakan manifestasi dari arogansi kekuatan militer Israel, dan perpanjangan dari pola pikir kolonial rasis yang menganggap wilayah Palestina yang diduduki sebagai lapangan pelatihan. Dan warga Palestina sebagai target penembakan,” kata Kementerian Luar Negeri dan Ekspatriat Palestina di lansir dari Wafa News, Sabtu (6/8/2022). Dikutip dari Republika.co.id Senin (7/8/2022)

Berulang kali kekejian Israel terhadap Palestina di hadapan tanpa mengenal waktu dan sasaran. Dunia dan negeri – negeri muslim hanya bisa prihatin dan mengecam, namun hubungan baik dan normalisasi dengan Israel terus dilakukan. Para pemimpin dunia dan seluruh komunitas internasional harusnya dituntut untuk merespons kezaliman ini dengan nyata. Tidak sekadar gimmick diplomatik apalagi standar ganda, memberikan kecaman tapi terus menjalin hubungan mesra dengan Zionis. Mengutuk, memberi sanksi, dan memboikot Rusia atas invasinya ke Ukraina, tapi membiarkan kezaliman Zionis di Palestina.

Lagi-lagi Palestina dikhianati oleh negeri-negeri muslim yang seharusnya membela mereka dari penjajahan Israel malah melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Israel pada perjanjian Abraham dengan negara-negara Arab seperti UEA, Turki, Maroko, dan beberapa sekitarnya tak lain hanya demi kepentingan nasional mereka. Besarnya ketergantungan terhadap AS negera yang selama ini menjadi tameng bagi Israel, membuat dunia Islam tak berdaya membebaskan palestina dari penjajahan.

Seyogyanya tanah Palestina merupakan tanah wakaf, tanah kharajiyah milik kaum muslim hingga hari kiamat. Tanah itu dibebaskan oleh Umar Bin khathab dari tangan kerajaan Romawi pada tahun 15 H, beliau langsunh menerima tanah itu dari Syafruniyus di atas perjanjian umiriyah diantara isinia berbunyi “agar orang – orang Yahudi tidak tinggal di dalamnya”.

Maka,.masalah palestina bukan sekadar batas wilayah atau teritorial saja, melainkan penjajahan dan pencaplokan untuk membumihanguskan keberadaan etnis warga Palestina. Buah normalisasi hubungan dengan Israel hanya akan menambah kepongahan Zionis penjajah derita rakyat Palestina pun semakin larut. Karena normalisasi menurut Israel berarti mengakui pendudukan Israel di atas tanah Palestina. Ini sama halnya menyetujui semua kejahatan Israel dalam menumpahkan darah rakyat Palestina.

Sungguh penderitaan kaum muslim Palestina sudah lebih dari 70 tahun sejak tahun 1984, akibat Ketiadaan kesatuan kepemimpinan umat Islam dan praktik nasionalisme di masing-masing negeri maka tanah dan nyawa muslim tak bisa dilindungi.

Terampasnya tanah palestina oleh Israel merupakan buah pahit akibat lenyapnya persatuan umat. Sehingga umat butuh institusi yang menjadi tameng bagi kaum muslim untuk membebaskan dan mengembalikan Al Quds tanah yang diberkahi dari cengkeraman Zionis Israel. Sebagaimana yang dilakukan oleh oleh Khalifah Umar bin Khathab dan Salahuddin Al Ayubi saat merebut kembali Palestina ketika perang Hittin dari tentara Salib yang menguasai Yerusalem. Pada tanggal 27 Rajab 583 H bertepatan 2 Oktober 1187 M setelah mereka mendudukinya selama 88 tahun.