Pengemban Dakwah Harus Bercermin Dari Wanita Mulia, Asma Binti Abu Bakar

Spread the love

Oleh: Novida SariĀ 

(Ketua Forum Muslimah Peduli Generasi Mandailing Natal)

MuslimahTimes– Tak bisa dipungkiri pemahaman dan gaya hidup liberalisme yang menjangkiti kaum Muslimin hari ini kian tertanam kuat, kecintaan akan liberalisme inipun ditopang oleh sistem kapitalisme, didukung oleh penguasa dan pejabat negeri kaum Muslimin, disebarkan oleh kaki tangan mereka yang haus akan segala hal yang berbau materi. Semua ini membuat tugas para pengemban dakwah menjadi kian berat. Kalaulah bukan karena tujuan hidup yang merindukan kebahagiaan hakiki di kampung akhirat, tentu banyak para pengemban dakwah yang menyerah dan hilang satu per satu dari peredaran dakwah.

Sebagaimana yang pernah dihadapi oleh wanita mulia yang lahir 27 Tahun sebelum Hijriah ini, Asma binti Abu Bakar ra tidak mengenal kata lelah dan takut dalam membantu agama baru yang dianutnya, meskipun agama ini dimusuhi oleh masyarakat kota Mekkah yang mengidap penyakit liberalisme akut pada waktu itu.

Tanpa memperdulikan dunianya, ia hadir menjadi wanita yang membantu Rasulullah Saw dalam hijrahnya. Meski dalam kondisi hamil besar, berjalan kaki mendaki gunung Tsur sanggup ia lakukan guna memberikan bekal dan informasi penting kepada ayah tercinta dan juga junjungannya Rasulullah Saw padahal nyawanya yang menjadi taruhannya kalau tertangkap kaum kafir Mekkah. Iapun diberi gelar ”Dzatun Nithaqaini” (wanita yang memiliki dua ikat pinggang) oleh Rasulullah karena menyobek ikat pinggangnya menjadi dua yang digunakan untuk mengikat bekal makanan dan untuk dirinya.

Peran asma binti abu bakar juga sangat besar memberikan ketenangan di keluarganya, sepeninggal hijrah ayahanda dan rasulullah dengan membawa seluruh hartanya yang berjumlah sekitar 5.000 hingga 6.000 dinar ia ikhlas demi tegaknya agama Allah swt. Tampak saat ia menenangkan sang kakek, abu quhafah yang buta saat mempertanyakan harta yang ditinggalkan oleh abu bakar, dengan tenang Asma mengambil batu kerikil dan meletakkannya di lubang angin, tempat ayahnya pernah meletakkan uang, kemudian menutupinya dengan selembar baju. Membimbing tangan sang kakek yang buta menunjukkan mereka cukup harta sehingga keluarga besarnya merasa tenang.

Ketika Rasulullah saw dan Abu Bakar berhasil hijrah, maka seluruh keluarga Abu Bakarpun segera menyusul hijrah ke madinah termasuk asma binti Abu Bakar. Meski dengan kondisi fisik yang kian payah karena usia kehamilan yang semakin tua, hijrah adalah sesuatu yang dirindukan.

Karena kota mekkah bukanlah tempat yang aman bagi orang-orang yang telah menganut agama Islam. Jarak antara Mekkah dan Madinah yang terbentang sepanjang 450 km dengan angkutan unta dan berjalan kaki masa itu. Asma dan rombonganpun singgah di Quba, kota yang berjarak 5 km dari sebelah tenggara kota Madinah. Di Quba inilah asma binti abu bakar melahirkan Abdullah bin Zubair.

Kelahiran Abdullah bin Zubair begitu disambut dengan suka cita oleh seluruh kaum muslim di Madinah. Mereka mengarak Abdullah bin zubair di kota madinah. Sebagai bukti bahwa sihir mandul yang pernah dihembuskan oleh orang-orang yahudi bagi seluruh masyarakat madinah tidak berlaku dengan izin Allah swt.

Apa yang dilakukan oleh wanita cerdas ini sudah seharusnya menjadi teladan kaum muslimin hari ini khususnya para pengemban dakwah Islam. Kehamilan dan kemiskinan bukanlah menjadi alasan untuk lemah apalagi mundur dalam perjuangan. Apa jadinya umat ini jika para pengemban dakwahnya melempem dan tergerus oleh arus kapitalisme yang semakin hari semakin nampak kegagalannya. Kalaulah Ridho Allah memang menjadi tujuan utama, buktikanlah dalam kehidupan bahwa kita benar-benar mencintai Allah dengan mengemban perintah yang dilaksanakannya. Bukankah syariat secara menyeluruh yang menjadi solusi atas gaya hidup liberalisme ini? Dan bukankah dengan Khilafah, kapitalisme akan terkubur?

(Visited 23 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *