Resesi Mengancam Negeri, Bagaimana Menghadapi?

Spread the love

Oleh : Henyk Nur Widaryanti S. Si., M. Si.

Muslimahtimes – Ancaman resesi kini mengintai negeri ini. Setelah negara tetangga Singapura mengalami resesi. Topan resesi mulai menyapa perekonomian negeri. Meski ada yang mengatakan, resesi akibat pandemi ini tak akan sedahsyat tahun 1998. Tapi semua orang harus waspada dengan kondisi ini.

Sebagaimana yang telah kita ketahui. Setelah negara-negara dunia berjibaku melawan virus corona, akhirnya mereka harus menelan pil pahit. Ekonomi mereka terancam mengalami resesi. Mulai dari Jepang, Jerman, Italia, Hongkong, Singapura hingga Korea Selatan mengalami pukulan telak dalam menghadapi pandemi.

Standar resesi dunia

Resesi adalah kondisi dimana produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara berada pada nilai negatif dalam kurun waktu dua kuartal atau lebih, dalam satu tahun.

Sedangkan Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad memaparkan, ada beberapa tanda munculnya resesi. Yaitu, pendapatan menurun, kemiskinan bertambah, penjualan khususnya motor dan mobil anjlok, dst. Di perbankan dengan meningkatnya kredit macet atau non performing loan (NPL). Sedang di pemerintahan dapat dilihat dengan naiknya utang luar negeri.(detik.com, 18/7/20)

Akibat resesi

Akibat fatal adanya resesi salah satunya adalah adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran. Sebagaimana yang terjadi di Singapura saat ini. PHK tercatat mengalami peningkatan. Sehingga tingkat pengangguran di Singapura pun meningkat.

Dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja (MOM) Juni, tingkat pengangguran naik dari 2,3% menjadi 2,4%. Tingkat pengangguran di antara warga Singapura naik dari 3,3% menjadi 3,5%. Di antara penduduk- atau warga negara Singapura dan penduduk tetap- dari 3,2% menjadi 3,3%.

Hal ini terjadi karena banyak perusahaan yang melakukan efisiensi pengelolaan anggaran. Karena minimnya pendapatan saat diberlakukan lock down akibat covid 19. (cnbcindonesia.com, 18/7/20)

Resesi mengancam negeri

Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede perekonomian Indonesia telah menunjukkan pelemahan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia terlihat melambat. Jika tahun lalu sempat mencapai 5,05 persen. Maka di kuartal pertama tahun 2020 ini menjadi 2,97 persen.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Riset Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah, perekonomian dalam negeri sedang mengalami kontraksi, hal ini sudah terlihat di kuartal II-2020 dan menurutnya akan berlanjut ke kuartal III-2020. Kondisi ini tentu akan mempengaruhi keadaan masyarakat.

Beberapa dampak yang akan dialami Indonesia tentu tak jauh beda dengan negara tetangga. Dengan minimnya atau bahkan minusnya pertumbuhan ekonomi, berarti menunjukkan menurunnya tingkat permintaan dan penawaran. Ini menyebabkan perusahaan formal maupun non formal sepi pendapatan. Untuk bertahan hidup di masa seperti ini, mereka akan melakukan PHK.

Jika perusahaan banyak melakukan PHK, maka jumlah pengangguran negeri ini akan meningkat. Hal ini akan berdampak pada penurunan pendapatan masyarakat. Penurunan ini pun akan membuat masyarakat mengurangi kebutuhan belanjanya. Bahkan parahnya, masyarakat berpenghasilan menengah menjadi penduduk rentan miskin, mungkin dapat turun kelas menjadi masyarakat pra sejahtera. (kompas.com, 20/7/20)

Bersiap menghadapi resesi

Agar dapat bertahan dalam kondisi ini, maka masyarakat haruslah bersiap menghadapi resesi. Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira dalam mempersiapkan kondisi ini masyarakat tidak boleh boros. Agar dapat bertahan hidup dikala resesi benar-benar terjadi.

Hal yang senada juga disampaikan oleh Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Masyarakat harus bisa berhemat dan menjaga kesehatannya dari covid 19. Karena sebab utama resesi adalah wabah covid 19.

Pada kenyataannya juga belum ada pernyataan pemerintah tentang bagaimana sikap seharusnya masyarakat dalam menghadapi resesi ini. Hanya saja dari kebijakan yang ada, terlihat rakyatlah yang harus berusaha menjaga dirinya. Walau sudah ada beberapa bantuan yang diberikan, sayangnya tidak semua bantuan mengalir pada pihak yang berhak menerima. Sehingga masyarakat yang harus bertahan dalam kondisi itu.

Sebenarnya, hanya melakukan antisipasi saja juga belum cukup. Perlu adanya solusi tuntas dan berkualitas. Masalah utama kegagalan menghadapi pandemi ini karena menggunakan sistem kapitalis. Dengan hanya bersandar pada pertumbuhan ekonomi, PDB, dan kepentingan serta keuntungan materi sistem kapitalis terbukti telah gagal bertahan.

Maka, kita perlu mencari sistem alternatif dan solutif. Tidak hanya itu, penting sekali mendorong masyarakat memahami cacat bawaan sistem kapitalisme yang menghasilkan krisis. Termasuk resesi yang terjadi saat ini.

Hanya Islam satu-satunya sistem yang dapat menyelesaikan masalah ini. Karena Allah sudah menjamin kemurnian dan menjadikan Islam sebagai solusi dari segala masalah. Tinggal pekerjaan rumah besar bagi kita untuk meyakinkan masyarkat bahwa sistem Islam, terutama sistem ekonominya dapat menyelesaikan resesi ini. Wallahua’lam bishowab.

(Visited 32 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *