‘Resesi Sex’ Hantui Negara Sekular

Spread the love

Oleh : Kanti Rahmillah, M. Si

(Anggota Revowriter Purwakarta)

Muslimahtimes– Seorang jurnalis AS menarasikan fenomena yang menjangkiti kaum milenial di negaranya dengan diksi ‘Resesi sex’. Berkurangnya gairah seksual dikalangan milenial telah berdampak pula terhadap lajunya perekonomian. Menurunnya aktivitas kencan, telah menggeser omset restoran dan penginapan. Begitupun berlian dan sewa kapal pesiar yang biasa di hadiahkan pada sang pacar, kini sepi dari permintaan.

Bukan hanya AS, fenomena ini pun menjangkiti negara maju lainnya seperti Jepang dan Korsel. Kaum muda-mudinya tidak tertarik untuk menikah. Bahkan, di Korsel telah eksis LSM yang menamakan dirinya 4B atau Four Nos (Not dating, No sex, No marriage, No child-rearing). Kelompok feminis radikal ini berjanji tidak akan berpacaran, melakukan hubungan seksual, menikah dan mempunyai anak.

Ketika mayoritas masyarakat memilih untuk tidak menikah dan mempunyai anak. Pada jangka pendek, hal demikian akan berimbas pada berkurangnya permintaan terhadap pembelian rumah, mobil, diapers, susu, bahkan taman hiburan anak-anak. Artinya, perputaran ekonomi akan terus menurun. Apalagi jika bicara jangka panjang, anti menikah akan menyebabkan berkurangnya usia produktif dan posisi negara akan bertumpuk di usia pensiun (aging population).

Aging population akan berdampak pada tingginya biaya kesehatan dan menurunnya permintaan di bidang barang dan jasa. Karena mayoritas mereka di usia pensiun, sudah tidak memiliki banyak kebutuhan. Akhirnya, suplay berkurang dan inilah yang menghambat lajunya perekonomian.

Selain masalah ekonomi, enggannya kaum milenial berkencan apalagi menikah dikarenakan faktor sosial. Era digital yang melahirkan era media sosial, telah menyebabkan orang dewasa lebih senang menyendiri daripada bergaul dengan sesamanya. Teknologi yang disodorkan seperti pornografi online, video game online hingga boneka sex yang dijajakan di pasar online, telah mengganti kebutuhan sosial mereka, yaitu kontak dengan manusia nyata.

//Cara Pandang Sekuleristik dan Materialistik//

Sebenarnya, fenomena ‘Resesi Sex’ bukan hanya sekedar permasalahan ekonomi dan sosial semata. Lebih dari itu, fenomena ini adalah efek domino dari cara pandang mayoritas penduduk barat yang matrealistik. Bahwa tujuan hidup mereka adalah untuk mengejar materi semata. Standar kebahagiaan meraka adalah saat kebutuhan jasadiahnya terpenuhi. Sedangkan alat-alat pemuas jasadiahnya hanya bisa diperoleh jika mereka memiliki uang. Maka dari itu, saling menjatuhkan, sikut-sikutan, berlomba-lomba dalam memperoleh harta dengan cara apapun adalah konsekuensi logis dari cara pandang matrealistik.

Kebebasan yang terus digaungkan peradaban barat telah mencabik-cabik fitrah mereka sebagai manusia sosial. Di tengah gempuran budaya pornografi dan anggapan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang menghambat penumpukan harta. Freesex menjadi jalan terbaik untuk mereka, pada awalnya.
Namun, setelah ekses negative freesex mewabah, yaitu HIV/Aids dan juga konflik sosial seperti cemburu, patah hati, buyiling hingga kekerasan seksual tercipta. Beralihlah pemuasan itu pada bukan manusia.

Freedom of behavior adalah salah satu nilai yang melekat pada cara pandang sekuleristik. Yaitu sebuah pemahaman yang memisahkan antara kehidupan dan agama. Agama ibarat porselen yang hanya dipajang dan digunakan sewaktu-waktu jika dibutuhkan. Adapun aturan kehidupannya, bebas dari nilai agama. Tak peduli apakah perbuatan tersebut sesuai dengan agama atau tidak, asal bahagia, mereka akan berbondong-bondong melakukannya. Inilah yang mendorong terciptanya ‘Resesi Sex’.

// Cara Pandang Islam //

Jika tujuan hidup orang-orang yang matrealistik dan sekuleristik adalah mencari sebanyak-banyaknya materi. Berbeda dengan cara pandang Islam terhadap kehidupannya. Islam memandang bahwa tujuan hidup seseorang adalah untuk beribadah kepada Allah SWT, sang penciptanya. Agama diletakan menjadi landasan dalam setiap amalnya. Apapun yang dia lakukan akan sesantiasa terikat aturan penciptanya. Karena Allah SWT adalah suatu zat yang paling mengetahui yang terbaik bagi dirinya. Sedangkan manusia yang terbatas akal dan indranya, tak cukup hebat untuk mengetahui yang terbaik untuk dirinya sendiri.

Begitupun dalam menanggapi fenomena ini’. Sesungguhnya, bahaya dari fenomena ini bukanlah sebatas melambatnya laju ekonomi. Namun lebih besar dari itu, hal demikian akan menyebabkan kehancuran peradaban manusia. Karena akan menyebabkan populasi manusia menurun dan aturan yang tercipta tak mengenal fitrahnya sebagai manusia.

Fungsi utama pernikahan dalam Islam adalah untuk keberlangsungan keturuan umat manusia. Tak akan lahir seorang bayi, jika aktivitas ini tidak ada. Namun, syariat telah mengaturnya sedemikian rupa agar manusia berprilaku sesuai dengan fitrahnya. Syariat menghalalkan pernikahan dan mengharamkan perzinahan. Karena dalam pernikahan akan terjaga nasab seseorang yang nantinya akan berimbas pada kualitas manusia yang dihasilkan. Begitupun alasan perzinahan mengapa diharamkan, karena akan menciptakan mudorot yang berkepanjangan. Nasab tak jelas yang berujung pada pertanggungjawaban nafkah yang tak jelas pula.

Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezeki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari nikmat Allah?” (Qs. An Nahl (16) : 72).

Dan Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor” (Qs. Al Israa’ :32).

Oleh karena itu, Jika aturan Islam diterapkan dengan sempurna. Islam dijadikan pijakan dalam setiap perilakunya, bukan hanya sekedar petunjuk ibadah ritualnya saja. Maka dari hukum pernikahan saja, akan tercipta pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tersebab muda-mudinya terdorong untuk bersegera menikah dan mempunyai banyak keturunan.
Perputaran ekonomi akan meroket. Usia produktif akan semakin mendominasi suatu negeri. Kaum milenial sibuk berlomba-lomba memberi kebermanfaatan pada sesama manusia. Adanya teknologi akan dimanfaatkannya untuk membangun sebuah peradaban menuju kegemilangannya.

Walhasil, apa yang dialami peradaban barat yaitu ‘resesi sex’ sebenarnya adalah fenomena yang lahir akibat dicampakannya aturan Allah SWT. Paham sekulerisme yang mengesampingkan peran agama, telah menjadi penyebab hancurnya hubungan antar manusia. Teknologi yang seharusnya memberikan kebermanfaatan pada umat manusia, malah dijadikan alat penghancur fitrahnya.

Oleh karena itu, mari kita tinggalkan ajaran barat dan beralih pada ajaran Islam kaffah yang akan membawa umat manusia pada keberkahannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *