Sabar dan Ikhlas Menerima Takdir

Spread the love

Oleh. Hana Annisa Afriliani, S, S
(Penulis Buku dan Aktivis Dakwah)

 

MuslimahTimes– Salah satu wujud kesempurnaan iman seorang Muslim adalah rida terhadap segala ketetapan Allah Swt atas dirinya. Sebab sejatinya Allah Sang Maha Pemilik Skenario Kehidupan, tentu segala sesuatu yang telah ditetapkan Allah atas kita adalah yang terbaik bagi kita. Meskipun mungkin kita menganggapnya hal tersebut adalah buruk. Hal tersebut menjadi bukti akan pengetahuan manusia yang sangat terbatas.

Allah Swt berfirman:
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Beriman kepada ketetapan Allah Swt, yakni qodho dan qodar adalah bagian dari rukun iman. Terkait qodho, terbagi atas dua, yakni qodho yang berada dalam lingkaran kekuasaan manusia dan qodho yang berada di luar kekuasaan manusia.

Qodho yang berada di dalam lingkaran kekuasaan manusia artinya manusia masih bisa memilih. Contohnya, punya pacar atau tidak, manusia sesungguhnya punya pilihan. Jadi bukan takdirnya ia memiliki pacar. Contoh lain, seseorang yang dilahirkan sebagai laki-laki, lantas dia berpenampilan seperti perempuan dengan alasan itu adalah ketetapan Allah. Jelas pernyataan tersebut tak dapat dibenarkan. Karena dia sendiri yang memilih demikian. Karena sejatinya Allah telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrahnya masing-masing.

Begitupun ketika seorang perempuan yang sudah baligh tidak mau berhijab, bukan berarti dia belum ditakdirkan berhijab. Karena sejatinya berhijab atau tidak itu adalah pilihannya.

Manusia telah dianugerahkan akal untuk berpikir. Dengan akal itulah ia bisa membedakan benar dan salah. Dengan akal itu pulah ia akan mampu menangkap hidayah. Maka manusia akan dipertanggungjawabkan atas pilihan-pilihan hidupnya. Dalam ranah qodho yang berada dalam lingkaran yg manusia masih menguasainya, manusia harusnya mampu menggunakan potensi akalnya untuk berpikir. Sehingga dengannya ia mampu menjatuhkan pilihan sebagaimana syara menggariskannya.

Adapun terkait qodho yang berada di luar kekuasaan manusia, maka manusia tidak punya pilihan atasnya. Allah sudah menetapkannya secara mutlak. Maka tak ada hisab atasnya. Misalnya, warna mata, bentuk tubuh, suku bangsa, musibah, ajal, lahir, dll itu adalah hal-hal yang sudah Allah tetapkan. Manusia tidak dihisab atas kekurangsempurnaan bentuk tubuhnya. Maka jangan gagal paham, banyak orang yang fokus memperbaiki sesuatu yang tidak dihisab sampai-sampai menabrak hukum syariat, demi terlihat sempurna di hadapan manusia. Misalnya, operasi plastik demi wajah yang cantik, sulam alis, mengikir gigi, implan payudara, dll. Padahal semua itu tak akan dihisab di hadapan Allah.

Untuk qodho yang di luar kuasa manusia, maka kita harus bersikap pasrah, ikhlas, dan rida terhadapnya. Baik ataupun buruk. Yakinkan di dalam diri kita bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang telah Allah tetapkan atas diri dan hidup kita adalah yang terbaik bagi kita. Maka tentu, kita tak akan mudah mengeluh apalagi berprasangka buruk kepada Allah.

Misalnya saat kita ditimpa oleh musibah, maka bersabar adalah cara terbaik untuk menyikapinya. Begitupun saat kita kehilangan orang-orang yang kita cintai karena berpulang kepada Allah, maka ridalah terhadapnya. Tak perlu terlalu lama meratapi bahkan sampai menggugat atas ketetapanya dan menuding Allah tak adil. Naudzubillah…tentu hal tersebut akan dapat menciderai iman jika dilakukan.

Begitulah hakikatnya seorang Muslim akan senantiasa dihadapkan pada ketetapan-ketetapan Allah. Oleh karena itu, murnikan keimanan kita kepada Allah dengan senantiasa bertaqorub kepada Allah. Sehingga hati kita akan senantiasa tenang dalam menyikapi qodho, khususnya dalam qodho yang kita tidak menguasainya. Wallahu’alam bi shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *