Sehidup Sesurga

Spread the love

Karya: Choirin Fitri

Muslimahtimes.com – Aku bukan pujangga
Aku tak pandai merangkai kata
Apalagi berbagi cerita cinta

Aku hanyalah seorang lelaki
Yang ingin hatinya dimengerti
Oleh sesosok bidadari

Bidadari dunia yang kurindu,
Maukah kau bersamaku?
Sehidup sesurga yang kumau

Suamimu, Arul

Sebuah puisi terselip di antara seikat bunga mawar merah. Kusesap harumnya hingga dadaku bergetar. Rasa cinta pada sosok yang telah 3 bulan ini mempersuntingku seakan membuncah. Ada saja cara dia menunjukkan sikap romantisnya.

Hari ini ia mengirimkan kurir ke rumah. Padahal, satu jam lagi ia bisa pulang. Tapi, begitulah ia. Ada saja caranya membuat hatiku dag dig dug, penuh cinta.

Maghrib telah berkumandang. Namun, sosok laki-laki yang senantiasa kutunggu kedatangannya tak kunjung tiba. Aku mulai gelisah. Tapi, kutepis dengan menyegerakan salat dan merangkai doa.

Dering telepon selulerku berbunyi nyaring. Aku terkesiap saat seorang laki-laki di seberang yang menggunakan hp suamiku mengatakan bahwa telah terjadi kecelakaan kerja. Suamiku salah satu korbannya.

Aku terduduk lemas. HPku meluncur ke lantai dengan suara yang tak kukenal masih menggema. Lalu, sebuah alamat RS tampak muncul dari aplikasi hijauku.

Pakaian keluar rumah seorang muslimah, jilbab dan Khimar segera kukenakan. Kuraih kunci motor matic lengkap dengan tas kecil di sampingnya. Kulajukan motorku dalam pilu setelah mengabari Papa Mama mertua. Hanya mereka yang kupunya di kota ini.

Seorang berseragam sama dengan yang biasa suamiku kenakan menyambutku di koridor RS, “Ibu, istrinya Pak Arul?”

Aku hanya mengangguk.

“Lewat sini, Bu!”

Ia memberikan jalan ke sisi kanan RS dan mengikutiku, “Ruang paling ujung, Bu. Di sana Pak Arul sedang ditangani dokter.”

Sebuah ruangan dengan tulisan berhuruf kapital “KAMAR OPERASI” dengan lampu merah menyala terpampang di depan netraku. Aku kembali lemas. Bahkan, rasanya ragaku tak mampu menjejak tanah.

“Maaf Bu, permisi saya bantu ibu duduk di kursi ini,” kedua tangan laki-laki teman suamiku hendak menyentuh pundakku.

“Tidak perlu. Saya bisa sendiri,” sahutku langsung berdiri dan duduk di kursi tunggu.

HP berdering. Suara Mama bergetar memintaku memberi tahu keberadaanku. Tak lama Mama telah memelukku erat dengan isak tangis yang bersahutan. Lalu, gelap.

Saat aku sadar aku telah berada di ruang perawatan. Mama duduk di samping ranjangku.

“Ma, Mas Arul bagaimana?” tanyaku gelisah. Nyeri sekali rasanya kepalaku. Perutku pun terasa mual. Aku baru ingat bahwa sebagian ini aku tidak enak makan. Mungkin penyakit maagku kambuh.

“Kamu tenang dulu ya, Nak! Ini diminum susu hangatnya. Kamu harus kuat. Ada janin yang hidup dalam rahimmu,” ucapan Mama mantap dan mampu membuatku menerbitkan seulas senyum.

“Maasya Allah. Alhamdulillah,” ucapku penuh syukur sambil berusaha memasukkan susu ke perutku.

Papa masuk ke ruangan dengan wajah pucat masai. Ada air mata yang berusaha ditahannya, “Ma, Vi operasinya gagal. Arul tidak tertolong.”

Seperti ada kekuatan yang mendorongku untuk turun ranjang dan berlari menuju ruang operasi tempat Mas Arul dirawat. Aku menerobos masuk. Dan, tampak seorang perawat akan menutup wajah suamiku yang tampak tersenyum damai.

“Mas, mas, mas, kau mendengarku, Mas! Allah mengabulkan keinginanmu, Mas. Aku hamil, Mas. Bangun, Mas! Ayo, kita besarkan bersama anak kita, Mas! Jangan biarkan aku sendiri, Mas! Mas, mas, mas,…”

Seorang perawat menarikku sambil bicara agar aku bersabar dan ikhlas. Mama memelukku erat. Aku tergugu. Aku belum mampu menerima 2 kabar yang bersebrangan ini. Suamiku kehilangan nyawa sedangkan saat bersamaan aku baru tahu ada janin yang hidup dalam rahimku.

Sepekan sudah sejak penggenap agamaku meninggal. Aku berusaha ikhlas atas apa yang ditakdirkan Allah untukku meski bukan hal yang mudah. Tapi, aku yakin bahwa Dia tidak akan mengujiku melebihi kemampuanku.

Secarik kertas terjatuh dari buku harianku. Kupungut dan tampak tulisan yang tak asing. Tulisan suamiku. Dua ayat ditulis indah di atas kertas berwarna biru.

Az Zukhruf: 69-70

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاٰيٰتِنَا وَكَانُوْا مُسْلِمِيْنَۚ

69. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka berserah diri.

اُدْخُلُوا الْجَنَّةَ اَنْتُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ تُحْبَرُوْنَ

70. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.”

“Bidadari duniaku, maukah kau membersamaiku di surga-Nya kelak?”

Pertanyaan itu sukses membuat bulir airmataku tertumpah. 9 hari yang lalu tanggal yang ia tulis di secarik kertas itu. Berarti ia sengaja menyelipkannya sebelum meninggal. Seakan-akan ia tahu bahwa malaikat Izrail telah mendekatinya.

“Ya Allah, sampaikanlah aku mau sehidup sesurga bersamanya!”

Batu, 25 Juli 2021