Tekad Menulis demi Dakwah Politis

Spread the love

Oleh. Asha Tridayana, S.T.

 

Muslimahtimes.com–Goresan pena akan menghasilkan bermacam makna. Karena pemikiran yang berjubel di kepala dapat tertuang dalam bentuk kata-kata sehingga setiap orang pun dapat memahaminya. Tidak cukup hanya lisan, tetapi juga membutuhkan tulisan agar pemikiran yang disampaikan dapat terekam dan terhindar dari lupa.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jagalah ilmu dengan menulis.” (Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Termasuk dalam dakwah, berbagai media pun digunakan sebagai bentuk upaya maksimal. Goresan pena menjadi salah satunya karena bisa jadi melalui tulisan, seseorang tersadar dan menuju perubahan ke arah kebaikan. Terlebih sebagai umat terbaik seperti firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat Ali Imran ayat 110 : “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”

Maka, sudah semestinya berupaya melakukan yang terbaik pula dalam menjalankan segala perintah-Nya tidak terkecuali dalam dakwah. Di samping itu, dakwah tulisan menjadi begitu penting mengingat kondisi saat ini. Terlihat bahwa media sosial menjadi semakin ramai digunakan oleh semua kalangan. Banyak sekali konten tulisan yang berseliweran, tidak jarang yang justru menyesatkan. Sebagai pengemban dakwah tentu tidak boleh lengah. Tidak lain dengan menjadikan tulisan sebagai senjata ampuh menangkis segala tipu daya musuh-musuh Islam.

Tidak dimungkiri, jalan dakwah memang sangatlah berat. Tidak cukup hanya niat, tetapi juga membutuhkan kemauan kuat. Seperti dalam hal menulis yang ditujukan sebagai salah satu ikhtiar dakwah. Begitu banyak godaan yang dirasakan saat ingin memulainya, di antaranya perasaan malas dan merasa tidak memiliki cukup waktu untuk menulis sesuai deadline. Kesibukan mengambil peran besar dalam deretan alasan enggan menulis. Akibat kesulitan mengelola waktu, pengemban dakwah akhirnya mengesampingkan menulis.

Belum lagi, ketika niat sudah bulat justru kesulitan datang saat sedang menulis, seperti kehabisan kata-kata atau mempunyai beragam ide namun sulit mengutarakannya. Bahkan gangguan tidak terduga yang membuat proses menulis terjeda hingga kehilangan alur dan berakhir di tengah jalan. Atau gangguan-gangguan lain yang mungkin terjadi karena memang setiap manusia mempunyai kesibukan dan amanah lain yang mesti diupayakan pula.

Dari sekian rintangan dalam menulis, sebetulnya hanya satu yang mendasarinya. Tidak lain adalah kemauan. Karena seberapa banyak ilmu yang didapat ataukah seberapa luang waktu yang dimiliki jika tidak ada kemauan maka tetaplah enggan untuk menulis. Kemauan menjadi kunci dan dasar untuk menulis. Setiap orang pasti mampu menulis sekalipun awalnya mungkin masih terbatas. Sedikit kosa kata, minim ide bahkan alur yang belum terarah. Namun, hal itu dapat dipelajari seiring seringnya menulis. Apalagi sekarang banyak sekali kelas menulis yang turut membantu memecahkan segala kendala yang dihadapi para penulis.

Tulisan ini pun dibuat sebagai upaya menggugah semangat para penulis bahwa sebenarnya menulis itu tidak sesulit yang dibayangkan. Jika kesulitan dalam hal waktu, maka mengelola waktu dan skala prioritas solusinya. Ketika terbatas pada kosa kata ataupun ide maka dengan banyak membaca dan berlatih menulis. Hal ini akan menambah gambaran tentang cara menulis. Sementara jika ganguan yang muncul adalah perasaan malas, maka segeralah memohon perlindungan Allah Subhanahu wa ta’ala. Kuatkan niat dan kemauan demi melawan rasa malas ini, disamping membutuhkan support system yang mengelilingi agar terjaga dari kejumudan.

Memang semuanya memerlukan proses, tidak ada tulisan yang sempurna. Namun, selama ada kemauan untuk memulai maka tidak ada yang tidak mungkin. Di samping itu, teruslah mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar selalu mendapatkan petunjuk dan rida-Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman : “Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar Ra’d : 11)

Beragam cara memang harus ditempuh agar tercapai sebuah tulisan yang syarat isi dan tujuan. Apalagi demi dakwah Islam tersebar dan dipahami di tengah masyarakat. Bersama dalam barisan pengemban dakwah, semoga setiap tulisan menjadi salah satu wasilah perubahan hakiki. Tentunya juga menjadi hujjah ketika tiba saatnya menghadap Allah Subhanahu wa ta’ala karena segala perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya. Tidak lupa semoga para penulis selalu diberikan keistikamahan.

Wallahu’alam bishowab.