Terkenal Tapi Sakit Mental

Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah
(Founder Salehah Institute)

Muslimahtimes.com– “Semoga hari ini membawamu ketenangan dan kedamaian.” Demikian postingan terakhir di Instagram Miss USA 2019, Cheslie Kryst (30 th), sebelum bunuh diri dari lantai 29 gedung apartemennya di New York City. Ratu kecantikan yang juga pengacara dan koresponden untuk Extra Tv ini meninggalkan surat wasiat, namun tak menjelaskan alasannya bunuh diri. “Dia punya kehidupan yang semua orang akan iri. Ini sangat menyedihkan,” kata polisi (detik).

Ya, begitulah. Kecantikan, popularitas dan kekayaan yang berlimpah tidak cukup menjaga kesehatan mental agar tetap waras. Meskipun, semua itu adalah elemen yang bisa menghantarkan pada kebahagiaan, namun tanpa kekuatan iman dan kesadaran mental, semua bisa ditinggalkan.

Menjadi pelajaran bagi kita semua agar menjaga kesehatan mental. Jangan terlalu ngotot ingin selalu cantik, kaya dan terkenal, jika semua itu justru menyebabkan sakit mental. Misalnya, wajah yang cantik, yang menjadi beban karena harus tetap merawatnya agar tidak pudar kecantikannya. Akibatnya, stres karena memikirkan bagaimana agar tetap cantik. Apalagi jika dia populer, berarti harus memuaskan penggemarnya. Tidak boleh tampil mengecewakan.

Itulah mengapa orang terkenal cenderung naik tekanan hidupnya. Akibatnya mudah depresi dan bahkan bisa bunuh diri. Ini karena tidak pandai mengelola sisi kejiwaan sehingga akhirnya sakit mental. Nah, dewasa ini makin banyak orang yang sakit mental, hingga nekat melakukan tindakan yang membahayakan, termasuk bunuh diri. Untuk itu, mari tingkatkan kepedulian pada penyakit psikis ini dengan cara:

1. Perkuat Aspek Spiritual

Sejak zaman kuno, semua orang sepakat bahwa agama adalah pendorong ketenangan jiwa dan ketentraman batin yang paling utama. Banyak survei menyebut, individu yang mempercayai Tuhan itu ada, jauh lebih tenang dan tentram dalam menghadapi ujian hidup. Karena itu, jika hidup ini tentang, kita harus mendekatkan diri pada Allah Swt, pahami agama dan amalkan. Seluruh anggota keluarga hendaknya berpegang teguh pada keimanan dan keyakinan yang kokoh.

2. Aware pada Perubahan

Di lingkungan terkecil keluarga, masing-masing anggota keluarga harus saling peduli dengan suasana hati penghuni rumah. Suami sebagai orang terdekat istri, harus yang paling tahu suasana hati istrinya. Paling paham perubahan perilakunya, yang boleh jadi itu termasuk gangguan psikis. Sebaliknya juga demikian, istri harus peduli dengan kondisi mental suaminya.

Orang tua juga harus tahu kondisi kejiwaan anak-anaknya. Apakah mereka tumbuh dalam tekanan, atau selalu ceria dan bahagia. Apakah mereka mengalami masalah berat atau tidak. Harus tahu perubahan mimik, perilaku, kebiasaan, emosional dan aktivitasnya. Agar bisa dideteksi dini jika ada perubahan yang tampaknya tidak alami.

3. Jangan Segan Berobat

Setiap tubuh manusia terdiri dari fisik dan mental. Karena itu, semua orang pasti pernah merasakan sakit fisik maupun sakit psikis, mulai yang ringan sampai yang berat. Ya, kita semua pasti pernah demam, sakit perut atau pusing, sebagai gejala penyakit fisik. Kita semua juga pasti pernah merasa sedih, tertekan, marah dan kesal yang tak terkendali. Itulah gejala penyakit psikis. Jujur dan akuilah jika kita sakit psikis, jangan menyangkal atau menyembunyikannya, karena hanya akan menambah parah.

Seperti sakit fisik yang ada dokter dan obatnya, sakit psikis juga ada psikiater yang menolongnya dan obat yang harus dikonsumsi. Oleh karena itu, jika tidak mampu melakukan proses healing atau penyembuhan sendiri, jangan segan-segan pergi ke tenaga ahli. Namun, healing yang terpenting adalah segera sadar dan ingat Allah Swt.

4. Jadilah Diri Sendiri

Salah satu sumber tekanan hidup di era sekarang adalah keinginan akan hidup dalam kondisi ideal. Baik dalam materi, kedudukan atau jabatan, status sosial maupun eksistensi diri. Akibatnya, manusia modern begitu sibuk mengejar-ngejar sesuatu agar selalu sesuai dengan apa yang diharapkan. Body goals, relationship goals dan mimpi-mimpi lainnya yang sebetulnya tidak realistis dengan kenyataan yang dihadapi. Hal Ini memicu stres massal.

Untuk itu, hiduplah sesuai dengan realitas yang ada. Syukuri yang sudah dimiliki dan jangan membandingkan hidup ini dengan siapapun. Apa yang mereka miliki, belum tentu membahagiakan kita dan sebaliknya. Hiduplah sewajarnya dan sesuai kemampuan, asalkan batin tenang dan tentram alias qonaah.(*)