Tiga Tanda Tanya

Spread the love

Oleh. Choirin Fitri

MuslimahTimes— Sob, tak ada satu manusia pun yang bisa hidup tanpa berpikir. Why? Coz, saat mau melakukan apapun otomatis akal kita akan bekerja memikirkan apa yang akan kita lakukan.

Coba aja cek! Saat kamu bangun tidur, benda apa yang bakal kamu cari pertama kali? Survei membuktikan kalau benda pipih bernama HP-lah yang banyak dicari. Benar enggak sih?

Terus, kalau udah ketemu gawainya mau ngapain? Matikan alarm? Cek medsos? Atau apa? Pasti butuh mikir ya untuk semua ini.

Untuk hal yang kecil aja, Sob kita butuh mikir. Apalagi untuk hal yang besar. Kira-kira kita mau easy going aja atau mikir dulu?

Coba deh pernah enggak berpikir siapa sih yang nyiptain kita? Untuk apa pula kita hidup di dunia ini? Terus, setelah dunia ini berakhir, kita gimana?

Heeemmm, kayaknya pertanyaan berat banget ya ini? Pertanyaannya ringan kok, Sob. Jawabannya yang berat jika kamu ngganggap berat. Sebaliknya, jika kamu mau pelan-pelan berpikir jawabannya akan seringan kapas. Asyikkan?

Tiga tanda tanya besar ini mau tak mau kudu dijawab. Jawabannya bakal menentukan masa depan kita di dunia ini. Jadi orang yang kece badai baiknya atau malah buruknya enggak ketulungan. So, yuk pelan tapi pasti kita jawab satu per satu.

Siapa sih yang nyiptain kita, alam semesta, dan kehidupan ini? Patung? Enggak mungkinlah ya, dia kan benda mati. Manusia pula yang membentuknya. So, jika ada yang meyakini Tuhannya patung, berarti harus dicoret dari daftar pencipta. Oke?

Mungkin roh nenek moyang yang diyakini aliran kepercayaan sebagai Tuhan mereka. Berarti sudah mati dong? Enggak logis banget kalau nyiptain kita, alam semesta, dan kehidupan yang nyatanya masih hidup plus bisa dinikmati sampai sekarang. So, coret dari daftar pencipta. Oke?!

Berarti cuma satu kemungkinan yang tak terbantahkan. Kita, alam semesta, dan kehidupan ini Allahlah Penciptanya. Allah Swt. yang Maha Pencipta. Buktinya apa? Buktinya bahwa kita enggak mungkin ada dengan sendirinya. Alam semesta ini pun tak mungkin tiba-tiba ada. Kehidupan ini pun juga begitu, dia butuh pencipta. Maka, hanya Allah yang memenuhi kriteria ini.

Allah bersifat azali. Dia Rabb yang tak berawal dan berakhir. Abadi. Selain itu Allah memiliki sifat wajibul wujud alias wajib adanya. Tanpa keberadaan Allah, kita, alam semesta, dan kehidupan ini enggak bakal ada. Yakin?!

Oke, fiks pertanyaan pertama terjawab dengan sempurna. Lanjut, pertanyaan kedua. Lalu, untuk apa kita hidup? Untuk foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga? Wuih, enak betul.

Prinsip anak muda kekinian ini emang enggak jelas. Secara logika aja udah patah. Enggak ada itu ceritanya orang yang mudanya foya-foya tetiba tua kaya raya. Why? Coz, jadi orang kaya itu butuh perjuangan. Enggak tiba-tiba kaya, kecuali dapat warisan. Itu pun sangat jarang pakai banget. Iya enggak?

Lebih aneh lagi, ingin masuk surga eh diminta taat susah amat. Inilah paradoks prinsip hidup para pemuda yang enggak banget untuk dilanggengkan. Sepakat yes?

Nah, terus hidup untuk apa dong? Allah yang menciptakan kita tentu sudah memberikan clue terbaik buat hidup kita. Enggak mungkin Dia membiarkan kita tanpa petunjuk. Maka, Dia telah membuat buku petunjuk terbaik yakni Al-Qur’an. Di dalamnya udah ada jawaban untuk pertanyaan kedua ini.

Yuk, langsung cek ‘n ricek surah Adz-Dzariat ayat 56! Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Dari ayat ini Allah sudah memberikan jawaban yang gamblang dan tak terbantahkan bahwa hidup kita untuk beribadah kepada-Nya. Bukan pada yang lainnya. Hanya pada Allah semata kita beribadah.

Pertanyaannya, ibadah itu apakah hanya salat, puasa, zakat, dan haji aja? Enggak, Sob. Itu masih ruang lingkup rukun Islam. Kita masih punya rukun iman yang juga bagian dari ibadah.

Kita pun masih harus banyak belajar syariat Allah yang juga terkategori ibadah dalam hal pergaulan, bisnis, makanan-minuman, pakaian, pemerintahan, hukum, deelel. So, ibadah enggak sesempit yang kita kira yes. Ada banyak macamnya. Tinggal kitanya aja mau enggak mempelajarinya.

Oke, jika pertanyaan kedua telah sukses terjawab berarti harus beralih ke pertanyaan berikutnya. Tepatnya pertanyaan terakhir. Ke mana kita setelah kehidupan ini berakhir?

Sob, semenjak kita hidup berapa kali sih menyaksikan kematian? Orang-orang yang kita sayangi meninggal. Hewan yang akan kita masak dan makan pun kudu dimatikan dulu. Barang-barang yang kita miliki juga tetiba rusak atau mati. Ini menjadi bukti bahwa semua berujung pada kematian. Termasuk kita. Iya enggak?

Aduh, bicara mati itu emang menyedihkan ya, Sob? Tetapi, mau tak mau kita kudu membicarakannya. Kita kudu menjawab pertanyaan ketiga ini.

Setelah mati kita enggak hanya berkalang tanah. Di kubur, lalu sudah. Kita bakal dimintai pertanggungjawaban oleh Allah yang menciptakan dan mengatur kita . Sudahkah hidup kita sesuai dengan apa yang Dia mau atau sebaliknya?

Jika kita mengikuti rule alias aturan yang Allah berlakukan, kita bakal mudah mempertanggungjawabkan seluruh kehidupan kita. Berbanding terbalik jika kita enggan memakai aturan-Nya. Bisa dipastikan kita kelak bakal susah saat menghadap-Nya.

Apalagi, Sob sejatinya kematian hanyalah pintu gerbang kita masuk kehidupan kita berikutnya. Ada dua kampung akhirat yang telah Allah siapkan untuk menyambut kita. Surga dan neraka. Tak ada yang lain yang bisa kita pilih.

Bagi kamu yang di dunia ini indent alias memesan surga berarti taat pada Allah yang wajib dilakukan. Apapun yang Dia perintahkan dijalankan. Apapun yang Dia larang, tinggalkan. Insyaallah, denga izin-Nya surga bakal diberikan sebagai tempat tinggal kita kelak.

Beda banget jika kita memilih maksiat. Neraka siap menampung raga kita yang rapuh dan bisa melepuh di dalamnya. Nauzubillahimindzalik. Ngeri banget, Sob!

So, tak layak rasanya kita memilih neraka sebagai ujung perjalanan kehidupan kita di dunia ini. Bersemangatlah meraih surga yang kata Allah seluas langit dan bumi yang tersedia bagi mereka yang bertakwa.

Allah berfirman dalam surah Ali-Imran ayat 133:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

Sob, tiga tanda tanya besar udah kita jawab bersama. Saatnya kita eksekusi dalam kehidupan yes! Yuk, sama-sama mengejar surga dengan takwa! Tanpa tapi, tanpa nanti. Oke?!

Batu, 2 November 2022