Tujuh Puluh Tujuh

Spread the love

Oleh. Nurul Ajriah

MuslimahTimes.com – Lahir dan besar di pulau terpencil membuat Irzan menjadi sosok laki-laki tangguh, laki-laki pekerja keras, dan laki-laki yang tidak pernah menyerah hingga kata sukses ada di genggamannya.

Irzan Arsya Ar-rasyid pemuda berbakat yang saat ini lagi naik daun, sosoknya yang hampir setiap pekan muncul dilayar kaca, begitupun di sosial media (instagram, facebook,whatshap).

Semua sosmed milik warga Adonara terkhusus desa dimana Irzan tumbuh besar, setiap saat menampilkan wajah laki-laki yang bernomor punggung 77 ini. Kecepatan kakinya ketika mengocek si kulit bundar membuat mata terbelalak ketika menontonya, tak heran jika banyak anak muda mengidolakanya.

Laki-laki kelahiran Dewata’a 14 april 1997 ini memulai karier sebagai pemain bola sejak usianya masih sangat muda, yakni 14 tahun. Ia meninggalkan kampung halaman dan memulai mengejar mimpi di kota besar. Irzan remaja belum terlalu mengerti apa itu perpisahan, karena ke kota pun Irzan diantar orang tuanya, sesampai di kota Irzan tinggal bersama kerabatnya.

Tok, tok,tok“, bunyi pintu kamar Irzan.

Masuk pintunya tidak dikunci” seru Irzan.

Eh ibu, ada apa, Bu?

Ibu menghampiri Irzan yang sedari tadi sibuk memasukan pakaian dalam kopernya.

Gimana udah beres semua?

Udah Bu, baju-bajunya cuman tinggal yang itu.” sambil menunjuk bola yang ada di pojok kamarnya.

Tapi udah nggak muat. ” lanjut Irzan.

Di tinggal aja ya, Nak, insya Allah sampai di sana ibu beliin yang baru” jawab ibu.

Oke bu, terima kasih.” seru Irzan.

Sama-sama sayang.” jawab ibu.

Bu, besok berangkat jam berapa?” Tanya Irzan.

Insya Allah jam 08.00 pagi. ” jawab ibu.

Besok tepat tanggal 14 Januari, Irzan berangkat ke kota untuk melanjutkan studinya.

Kehidupan Irzan yang sangat sederhana membuatnya tumbuh menjadi sosok yang rendah hati, cepat tersentuh dengan sesuatu yang berbau melankolis, punya rasa iba yang tinggi. Irzan yang sopan membuat orang-orang senang berada di dekatnya.

Mulai kehidupan dirantau tanpa ayah dan ibu terkadang membuat Irzan ingin menyerah, tetapi ia terlihat kuat di saat fisik mulai melemah, tetap tersenyum meski hati sedang terluka. Irzan tipe yang pandai menyembunyikan kesedihanya, di saat hatinya terluka wajahnya tampak tersenyum baik-baik saja, hingga sulit dibedakan saat senang atau sedih.

Irzan merantu saat itu dirinya baru tamat sekolah menengah pertama, dengan tujuan mau melanjutkan sekolah menengah keduanya di sekolah bola. Gayung pun bersambut Irzan diterima di salah satu sekolah bola di kota tempat tinggalnya saat itu, dengan begitu impian menjadi atlet sepak bola mulai terwujud.

Hari-hari Irzan adalah bola. Tidak bisa di pisahkan antara Irzan dan bola. Bola adalah dunianya Irzan, begitu cintanya dengan bola, Irzan kecil ketika tidur selalu membawa bola bersamanya.

Selain bola, Irzan juga sangat mencintai keluarganya terutama ibu dan ayahnya. Menurut Irzan, ayah adalah sosok yang sangat tegas, penyayang, orang pertama yang mendukung karier Irzan, ayah sangat berharap Irzan sukses berkarier di dunia sepak bola. Begitupun Irzan ingin membahagiakan orang-orang yang dia sayang dengan mengabulkan cita-cita besar ayahnya.

Alhamdulillah hari ini Irzan sudah menjadi atlet sukses di tanah air. Ia menjadi satu-satunya anak Adonara yang masuk di club bergensi di industri sepak bola Indonesia. Namun sayang, kebahagian ini hanya dirasakan oleh Irzan tanpa ayah, support system nomor satunya.

Ayah Irzan meninggal dunia ketika Irzan sedang menanjak di dunia sepak bola. Ketika Irzan sampai ke puncak sosok ayah sudah tiada. Irzan baru menyadari arti dari sebuah perpisahan, bukan perpisahan antarkota ataupun pulau, ini perpisahan abadi, perpisahan antara dua alam yang berbeda. Hari-hari Irzan sangat terpuruk hingga ingin menyerah, namun Irzan sadar bahwa setiap yang bernyawa akan kembali kepada sang pemilik nyawa dan sudah waktunya ayah kembali.

Sejak ayahnya pergi, Irzan menjadi sosok yang pendiam dan religius. Irsan mulai memperbaiki salatnya yang dulunya masih bolong-bolong, alhamdulillah sekarang sudah full 5 waktu. Ia juga mulai belajar menjadi anak yang sangat memahami ibunya, menjadi adik yang menghormati kakaknya, menjadi kakak yang menyayangi adiknya.

Perpisahan memang menyedihkan, namun tidak boleh larut dalam kesedihan, jadikan perpisahan sebagai pembelajaran untuk kehidupan yang terus berlanjut dan itu yang dilakukan Irzan hingga hari ini.