Urgensi Tontonan Untuk Generasi Milenials

Spread the love

Oleh Anita Irmawati

 

#MuslimahTimes — Sinetron Dari Jendela SMP menjadi sorotan khusus Komisi Penyiaran Indonesia. Sinetron kontroversi yang tayang perdana pada 29 Juni 2020 lalu ini menuai teguran, pasalnya konten serial yang diadaptasi dari novel dinilai terlalu vulgar dan tidak pantas diangkat ke layar kaca lantaran terdapat kisah kehamilan di luar pernikahan pada seorang gadis belia. Komisioner KPI Pusat Nuning Rodiyah mengatakan, saat ini sinetron tersebut masih dalam pengkajian terkait konten dan juga teks, demi memastikan tayangan tidak melanggar Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Jika didapati pelanggaran, maka drama yang diadaptasi dari novel karya Mira W itu bakal segera diberi sanksi. (Tagar News, 01/07/20)

Bahkan KPI telah menerima pengaduan dari masyarakat, KPAI dan beberapa lembaga yang konsen terhadap isu perlindungan anak. Yang diadukan adalah muatan cerita yang tidak ramah anak, penggambaran cerita yang mengarah pada potensi menginspirasi menikah muda, substansi cerita tentang hubungan di luar nikah usia SMP, dengan klasifikasi program R 13+.(Tagar News, 05/07/20)

Sebelumnya film Dua Garis Biru yang pernah diangkat ke layar lebar bertema kehamilan di luar pernikahan juga menuai kritik dan kontroversi. Hingga akhirnya resmi dilarang tayang.  Adegan tak pantas turut mewarnai bahkan film tersebut digandrungi para remaja milenials dengan alasan pendidikan seksual. Degradasi moral kian terjadi, era milenials menjadi tumbal kekacauan peradaban dunia.Tak heran tonton zaman sekarang dijadikan tuntunan bagi para milenials yang justru menjerumuskan.

Tontonan Miris Buat Aqidah Generasi Terkikis

Zaman digital menjadikan semua aktivitas dapat direkam, bahkan cerita khayalan pun mampu diperankan. Bukan sekadar khayalan bak kartun lucu nan menggemaskan. Namun adegan tak pantas ditayangkan jutrus berhamburan menerkam generasi milenials. Tontonan miris jutsru membanjiri dunia industri perfilman. Sayangnya tontonan jadi tuntunan.

Dunia perfilman dibanjiri peran yang dimainkan para milenials. Romansa percintaan yang merangsang gharizah nau menuntut dipenuhi. Tak jarang adegan kemesraan turut memicu terjadinya pergaulan bebas yang berujung pada seks bebas dan kehamilan diluar pernikahan. Tontonan bukan lagi sebagai hiburan namun milenials menjadikan sebagai tuntunan dan standard kehidupan. Mulai dari fashion (pakaian), tempat yang dikunjungi, makanan, hingga challenge tak bermoral turut mewarnai kehidupan remaja saat ini.

Tak jarang muatan tontonan pun diluar nalar dan mengikis aqidah generasi milenials, mulai dari penggunaan pakaian yang tak menutup aurat hingga kebebasan dan pemisahan agama dari kehidupan. Aqidah makin terkikis habis. Jati diri sebagai muslimah sudah jarang nampak dimuka umum. Alhasil kacau balau kehidupan sudah melekat menjadi label remaja masa kini. Bahkan mereka dimaklumi dan dianggap kelaziman dengan dalih sedang mencari jadi diri.

Tontonan Bukan Tuntunan !

Sesuatu yang dilihat jelas dan diraba nyata oleh indra tentu membuat implus. Dari reseptor inilah dilanjutkan pada syaraf sensorik yang diolah oleh otak dan diteruskan oleh syaraf motorik sebagai penggerak tubuh untuk bertingkah laku melakukan segala sesuatu. Begitupula rangkaian gerak dan informasi yang diolah oleh otak. Tak jarang semua yang dilihat tersimpan di bawah alam sadar dan menjadikan gerakan refleks yang dilakukan secara tak sadar.

Bukan tanpa sebab gerakan refleks ini selalu berulang-ulang kali dilakukan, karena tak sengaja tersimpan. Serupa dengan tontonan yang kini menggempur pemikiran milenials. Hal serupa dilakukan persis seperti yang ditontonnya. Tak jarang tuntunan tak bermoral justru paling mendominasi milenials. Apalagi jika disuguhkan tontonan tak bermutu nan tak layak tayang yang membuat degradasi moral.

Akibatnya kisah kasih remaja dipenuhi dengan realitas tak pantas. Pergaulan bebas hingga pemurtadan yang tak kasat mata disaksikan. Segala konten ditiru demi menjulang popularitas. Tak aneh jika tontonan ngetrend jadi tuntunan agar bersinar dan dikenal di dunia sosial media. Namun justru memalingkan fungsi akal yang sejatinya untuk menemukan tuntunan sejati dalam pembentukan jati diri.

Potensi Besar Menentukan Pilihan

Manusia memiliki potensi luar biasa yang Allah berikan sekaligus sebagai pembeda dari binatang, yakni akal. Pengunaan akal mesti diperhatikan dalam menemukan konsep dan tujuan kehidupan. Karena sangat berperan penting dalam proses berpikir yang justru melibatkan panca indra yang didapatkan dari fakta.

Akal adalah pemindahan gambaran suatu kenyataan (objek) ke dalam otak melalui panca indra, disertai pengetahuan sebelumnya tentang kenyataan tersebut, sehingga dapat ditafsirkan. (Taqiyuddin an-Nabhani, Mafahim Hizbut Tahrir, hal 32)

Bahkan berakal menjadi derajat tertinggi yang Allah sebutkan dalam memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya. Tak heran jika berakal menghantarkan pada kebenaran dalam memeluk keyakinan.

“Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (QS. An-Nahl : 12).

Peranan akal sangat dibutuhkan apalagi dalam proses berpikir pada manusia. Bahkan proses berpikir inilah yang menentukan apa yang akan dilakukan. Terdapat empat komponen yang turut berperan dalam membangun pemikiran, yakin fakta, panca indra, otak, dan informasi sebelumnya yang menunjang pemikiran. Alhasil, jadilah akal sebagai produk pemikiran yang menjadi landasan dalam berprilaku.

Bukan Hanya Baligh, Jadilah Akil Baligh

Tingkah laku remaja selalu dikaitkan dengan baligh semata, sayangnya syarat akil baligh sudah banyak diabaikan hingga akal tak lagi digunakan secara total dalam penentuan berprilaku. Padahal seharusnya remaja milenials menjadi akil baligh bukan sekadar baligh.

Akil baligh (Bahasa Arab: ‘aqala = berakal, mengetahui, atau memahami; balagha = sampai). Akil baligh adalah seseorang yang sudah sampai pada usia tertentu untuk dibebani hukum syariat (taklif) dan mampu mengetahui atau mengerti hukum tersebut. Orang yang akil baligh disebut mukalaf (dibebankan hukum syara). (Republika.co.id, Ensiklopedia Hukum Islam 12/07/12)

Rasulullah SAW bersabda, “Diangkatkan pena (tidak dibebani hukum) atas tiga (kelompok manusia), yaitu anak-anak hingga baligh, orang tidur hingga bangun, dan orang gila hingga sembuh.” (HR Abu Dawud)

Namun pada faktanya remaja saat ini hanya sekadar baligh secara biologis kebanyakan dari mereka belumlah berakal. Maka dari itu sangat mudah, hal yang dilihat bisa menjadi tuntunan yang akan dilakukan. Padahal mereka telah dibebani dengan hukum syara yang Allah tetapkan sekaligus perhitungan berupa imbalan antara pahala dan dosa atas semua konsekuensi yang dilakukan.

Namun tetap proses pembentukan karakter akil (berakal) ini mesti ditunjang dengan lingkungan yang mendukung. Mulai dari skala keluarga, lingkungan, dan negara dalam mendukung para remaja menjadi seseorang yang berakal. Walaupun pada faktanya, saat ini beberapa keluarga sudah memberlakukan kurikulum rumah dengan tuntunan Islam, atau lingkungan dengan desain islami dalam interaksinya. Tetapi hal ini tidak bisa dilakukan secara global dalam skala nasional, apalagi perbandingannya sangat kecil dimasyarakat yang memudahkan tergerus oleh hegemoni.

Disinilah peran negara dalam berlangsungnya kehidupan dunia. Mendukung generasi muda dan mencetaknya menjadi seorang hamba Sang Pencipta yang berakal. Dengan memberlakukan kebijakan mulai dari filter pada tontonan, mengatur pergaulan antara pria dan wanita, hingga menerapkan aturan Islam secara global.

Tontonan tak layak tayang karena bertentangan dengan aturan Islam sudah tak dapat ditemui lagi. Apalagi dengan pergaulan bebas yang kini marak ditemukan pasti tak akan ditemukan saat Islam diberlakukan. Begitupula generasi muda turut berbenah diri menjadikan baligh sekaligus akli (berakal).

Alhasil, tetap peran negara sebagai perisai utama ketahanan ummat manusia. Aturan yang dipakai saat ini akan berpengaruh terhadap generasi mendatang. Karena negara dan generasi milenials sangat berkaitan erat, apalagi saat nanti generasi milenials yang akan melanjutkan peradaban dunia. Artinya urgensi tontonan sangat berpengaruh dalam mencetak dan membentuk peradaban dunia dimasa yang akan datang. Wallahu’alam bisahwab.[]

(Visited 42 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *