Multaqo Ulama Menolak OBOR

Spread the love

 

Oleh : Erna Hermawati S.S

Penolakan proyek OBOR (One Belt One Road) muncul dari berbagai kalangan. Salah satunya muncul dari para tokoh agama. Ini bisa terlihat dari adanya multaqo ulama Ahlisunnah Wal Jamaah (Aswaja) di pondok pesantren Darussalam, Wanaraja, Garut pada Ahad 12 Mei 2019 lalu.

Ketua panitia acara ini adalah K.H Toha Holil yang merupakan cucu K.H Maimun Jubair Bangkalan, Madura, Jawa Timur (trans89,13/05/2019). Acara tersebut dihadiri oleh seribu peserta lebih, yang terdiri dari ulama, kyai, habaib, pengasuh pondok pesantren dan Muhibbin dari seluruh Indonesia (shuatul ulama,12/05/2019).

Telah diketahui bersama bahwa proyek OBOR ini adalah obsesi presiden Tiongkok Xi Jinping untuk menggunakan simpanan devisa cina yang melimpah (US$ 3,1 triliyun per November 2018). Cina membuka kran pinjaman pada berbagai negara dengan bunga yang rendah (sekitar 2 % – 3 %).

Dana tersebut umumnya digunakan untuk dana proyek infrastruktur. Namun, titik kritisnya adalah jika negara yang bersangkutan tidak mampu memenuhi jadwal pembayaran utang, maka Cina akan menuntut konsesi atau ganti rugi lainnya. Hal ini sebagai bentuk penghapusan utang (detik.com,16/11/2018).

Mengingat proyek OBOR ini sangat berbahaya, maka para ulama pun berkumpul untuk menolak proyek OBOR ini. Sejak dulu, para ulama memang selalu menjadi garda terdepan perjuangan menolak bentuk-bentuk dominasi asing. Proyek OBOR ini dikhawatirkan menjadi bentuk kolonialisme ekonomi (debt colonialism).

Begitulah seharusnya para ulama. Ulama adalah pewaris nabi. Tentunya di bulan Ramadhan yang diberkahi ini perjuangan para ulama semakin bernilai. Perjuangan untuk membela agama Alloh SWT, mempertahankan keutuhan tanah air agar tidak ada celah kolonialisme asing dalam bentuk apapun.

Wallahua’lam.

[Mnh]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *