Ramadan Wujudkan Dua Junnah

Spread the love

Oleh: Hamsina Halik (Revowriter Mamuju)

 

MuslimahTimes-Bulan Ramadan yang begitu dinanti oleh umat islam dari seluruh penjuru dunia, tak teras sudah memasuki 10 Ramadan kedua. Beragam aktivitas ibadah telah menyibukkan manusia, mulai dari yang wajib hingga yang sunnah. Seperti, shalat tarawih, baca quran, menghadiri majelis-majelis ilmu, buka bersama, dll.

“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu pernah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (TQS al-Baqarah [2]: 183).

Sebagaimana apa yang terkandung dalam ayat diatas, tentu kita sangat berharap Ramadan kali ini bisa mewujudkan ketakwaan individu. Menjadikan ramadan sebagai momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, yaitu melaksanakan syariahNya secara kaffah. Inilah ketakwaan hakiki itu.

/Puasa Ramadan adalah Junnah/

Puasa ramadan adalah junnah (perisai) sebagaimana dalam hadis Rasulullah SAW,

“Puasa adalah Perisai. Karena itu janganlah seseorang berkata keji dan jahil. Jika ada seseorang yang menyerang atau mencaci, katakanlah, ‘Sungguh aku sedang berpuasa,’ sebanyak dua kali” (HR. Bukhari & Muslim)

Yang dimaksud perisai adalah pelindung, yang akan melindungi dan menghalanginya untuk mengikuti godaan syahwat yang terlarang di saat puasa. Yang halal di bulan biasa menjadi terlarang di bulan Ramadan. Harus menahan diri. Misalnya, makan dan minum, berjima’ bagi pasangan suami istri di siang hari. Semua itu terlarang selama puasa di bulan Ramadan, kecuali setelah berbuka.

Bukan hanya itu, puasa di bulan Ramadan pun akan melindungi dirinya dari perbuatan dan perkataan yang keji, yang tak diridai Allah SWT. Sehingga ketika seorang yang menganiaya dirinya, secara lisan ataupun fisik, tak akan membalas dengan balasan serupa. Justru akan berkata, “Aku sedang berpuasa.”
Bahkan di akhirat pun, puasa akan menjadi perisai dari api neraka, yang akab melindungi dan menghalangi dirinya dari api neraka pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

“Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman, puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya” (H.R. Ahmad)

Idealnya, pasca ramadan lahir sebuah tatanan baru yang dipenuhi dengan suasana keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Bukan sebaliknya, hadir kembali suasan kerusakan seolah ramadan tak pernah hadir. Jika, di bulan Ramadan berhasil menahan diri dari perkara yang dihalalkan di luar bulan Ramadan, terlebih lagi untuk menahan diri dari hal-hal yang di larang oleh Allah SWT. Sebulan lamanya berpuasa dan menahan diri, sudah semestinya membawa perubahan yang luar biasa kepada semua orang yang melaksanakan puasa Ramadan.

Hanya saja, ketakwaan disini bukanlah sekadar ketakwaan individu terwujud. Namun, juga ketakwaan secara kolektif. Yaitu, ketakwaan keluarga, masyarakat dan negara. Berbagai problematika kehidupan yang ada, bukan hanya persoalan individu semata, tetapi juga menyangkut persoalan masyarakat dan negara. Dengan adanya ketakwaan masyarakat dan negara, hukum-hukum Allah akan diterapkan. Maka, segala problematika umat akan diselesaikan sesuai pandangan syara’.

/Imam adalah Junnah/

Seorang imam atau pemimpin yang menerapkan hukum-hukum Allah SWT juga disebut sebagai perisai. Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah perisai, orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepada dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sejak keruntuhan khilafah pada 3 Maret 1924, umat Islam kehilangan institusinya yang berfungsi sebagai pelaksana syariat. Tak ada lagi khilafah dibawah kepemimpinan seorang khalifah yang melindungi agama, harta dan darah kaum muslim. Wilayah umat Islam yang luas disekat menjadi negara-negara kecil yang tidak berdaya. Umat pun terpecah belah dalam kungkungan nasionalisme. Sebab, khilafah juga dikatakan sebagai perisai umat.

Maka, sudah selayaknya menjadikan ramadan kali ini sebagai momen untuk mewujudkan perisai umat, yaitu adanya seorang imam yang akan senantiasa hadir melindungi umat Islam. Menjadikan bulan Ramadan sebagai bulan perjuangan. Berjuang untuk menerapkan kembali syariat Allah. Menegakkan khilafah dibawah kepemimpinan seorang khilafah.
Sejarah Islam telah membuktikan bagaimana Rasullah SAW dan para sahabat dahulu menjadikan ramadan sebagai bulan perjuangan dan kemenangan. Sebagai contoh, Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan tahun 2 Hijriyah. Pada perang ini, 313 pasukan Islam berhadapan dengan 1.000 pasukan kaum musyrik.

Peristiwa Fathu Makkah juga terjadi pada bulan Ramadhan, yakni pada tahun 8 Hijriyah. Rasulullah saw. beserta 10.000 pasukan yang bergerak dari Madinah akhirnya mampu menguasai Makkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun.
Peristiwa perjalanan pasukan kaum Muslim di bawah pimpinan Rasulullah ke Tabuk juga terjadi pada bulan Ramadhan. Pasukan yang berjumlah 30.000 orang tersebut bergerak dari Madinah pada saat musim panas yang sangat terik menuju Tabuk yang dikuasai oleh pasukan Romawi. Meskipun pada akhirnya pertempuran tidak terjadi, Rasulullah SAW telah menanamkan keberanian pada pasukan kaum Muslim untuk menghadapi pasukan Romawi yang saat itu terkenal sangat tangguh.

Di era kekhilafahan pun demikian, diantaranya pada 28 Ramadhan tahun 92 Hijriyah, pasukan kaum Muslim di bawah pimpinan Thariq bin Ziyad dikirim oleh Khilafah Bani Umayyah untuk membebaskan Andalusia di Spanyol. Thariq memimpin pasukannya menyeberangi laut yang memisahkan Afrika dan Eropa tersebut. Akhirnya, Andalusia berhasil dibebaskan dan selama 8 abad menjadi pusat peradaban yang tinggi di bawah naungan Islam.
Tanggal 6 Ramadhan 223 H, Khalifah al-Mu’tashim menaklukkan Amuriyah, untuk membalas kekurangajaran tentara Romawi terhadap seorang wanita Muslimah yang jilbabnya ditarik. Benteng Amuriyah yang angker itu pun berhasil ditaklukkan.

Pada 15 Ramadhan 658 Hijriyah pasukan kaum Muslim dibawah pimpinan Sultan Qutuz dari Dinasti Mamluk Mesir berhasil mengalahkan pasukan Mongol di ‘Ain Jalut daerah Palestina.

Pada 15 Ramadhan 1294 Hijriyah sebanyak 34.000 orang pasukan kaum Muslim Khilafah Ustmaniyah di bawah pimpinan Ahmad Mukhtar Basya berhasil mengalahkan tentara Rusia yang berjumlah 740.000 orang dalam peperangan Yakhliz.

Di 26 Ramadhan 928 H, Kota Belgrad berhasil ditaklukkan oleh Khalifah Sulaiman al-Qanuni. Mereka pun mendirikan shalat Jumat pertama di kota itu. Itulah berbagai peristiwa yang semuanya terjadi di bulan Ramadan. Khilafah ada untuk melindungi umatnya.
WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.{}

[Mnh]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *