Abdullah bi Rawahah, Sang Mujahid dan Sang Penyair

Spread the love

 

 

Oleh: Erna Hermawati S.S

 

Jika kita membaca siroh islam khususnya siroh sahabat rasul, kita akan menemukan berbagai sosok karakter manusia yang unik dan bermacam-macam. Membuat kita semakin sadar bahwa mereka adalah manusia bumi. Bukan manusia-manusia langit. Maksudnya, mereka sama seperti kita. Memiliki potensi hidup yang sama; memiliki kebutuhan hidup dan naluri-naluri layaknya manusia sekarang. Semakin mempelajari siroh mereka, kita akan menemukan berbagai macam masalah hidup berikut solusinya, sehingga kita sekarang tinggal mengamati, meniru atau memodifikasinya selama dijalur yang syari’.Sebenarnya kita disediakan gambaran dan informasi awal tentang bagaimana menyelesaikan masalah atau memandang sebuah peristiwa.

Adalah Abdullah bin Rawahah diceritakan oleh Syaikh Khalid Muhammad Khalid dalam kitab 60 Siroh Sahabat Rasul saw . Tentunya, nama Abdullah bin Rawahah sangat dikenal umat Islam sebagai mujahid yang syahid bersama sahabat-sahabatnya di Perang Mu’tah. Beliau syahid setelah menggantikan Ja’far bin Abu Thalib yang juga menggantikan panglima sebelumnya, Zaid Bin Tsabit. Dia memang dikenal sebagai pelindung Islam yang terpercaya. Tatkala di Madinah, dia adalah orang yang paling mewaspadai sepak terjang dan tipu daya muslihat Abdullah bin Ubay. Abdullah bin Ubay adalah pemimpin golongan munafik yang telah dipersiapkan oleh penduduk Madinah untuk diangkat menjadi raja sebelum Islam hijrah kesana ( 60 Siroh Sahabat Rasul saw, hal. 216).

Selain sisi seorang mujahid, ternyata beliau adalah sosok seorang penyair. Dikisahkan bahwa Rasululloh menyukai dan menikmati syair-syairnya. Sampai pada suatu hari, nabi pun bertanya pada Abdulloh bin Rawahah, “ apa yang kamu lakukan jika hendak bersyair?” Abdullah menjawab “ aku berkonsentrasi, lalu bersyair”. Sementara itu, ketika Rasul saw berthawaf di Baitulloh pada umroh Qadha, Abdulloh bin Rawahah berada didekat beliau sambal melantunkan syair:

“Tuhan, kalau bukan karena-Mu, kami pasti tidak akan mendapat hidayah

Tuhan, kalau bukan karena-Mu, kami pasti tidak akan bersedekah,

Berikan kami kedamaian

Berikan kami keteguhan

Kami tidak mau menemui kehancuran

Oleh tangan tiran dan sewenang-wenang”

Maka, kaum muslim pun mengulang-ulang syairnya yang indah itu.

Namun, Abdullah bin Rawahah amat berduka sewaktu turun firman Alloh, ” Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat” (Asy-Syu’ara: 224). Akan tetapi, dukanya terobati saat turun firman Alloh, “kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal sholih dan banyak menyebut Alloh serta mendapat kemenangan sesudah menderita kedzaliman.” (Asy-Syu’ara:227). ( 60 Siroh Sahabat Rasul saw: 217-218).

Abdulloh bin Rawahah sebagai muslim yang menjadikan Islam sebagai kaidah dan landasan berpikirnya tentu sangat khawatir dirinya tergolong penyair yang diikuti orang dan dibenci Alloh karena tergolong sesat. Dia berusaha menundukan dirinya agar patuh pada perintah Alloh. Kemudian, Alloh menurunkan ayatnya yang menyampaikan bahwa penyair-penyair yang beriman dan beramal sholih serta banyak menyebut Alloh swt sebagai pengecualian penyair yang dibenci Alloh.

Tentu zaman sekarang pun, ada orang-orang yang memiliki kemampuan bersyair. Ada juga orang-orang yang memiliki kecenderungan untuk menikmati syair. Dari siroh diatas, kita bisa mengambil pelajaran bahwa membuat syair dengan misi mengingat Alloh dan mengajak pada Islam itu diperbolehkan. Siapapun boleh menjadi penyair. Siapapun bisa menikmati syair. Namun tentu kita harus ingat, sebagai muslim harus menjadikan kaidah Islam sebagai landasan berpikir. Sehingga kita sebenarnya bisa memilih, mana syair yang mengajak pada Islam atau syair yang mengajak menghambakan pada makhluk Alloh swt.

Zaman sekarang pemikiran yang mendominasi adalah pemikiran sekulerisme. Sehingga, syair yang banyak beredar pun dibangun diatas landasan itu. Syair dibangun atas dasar kebebasan berekspresi yang meniadakan ruang al Khaliq didalam karyanya. Miris sekali. Generasi muda asyik masyuk dalam syair yang melemahkan dirinya, memuja lawan jenisnya atau bahkan sesama jenis. Padahal, Islam telah membebaskan manusia dari penghambaan terhadap sesama.

“ Adapun orang yang melampui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggalnya. (QS An-Naazi’at:37-39)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *