Adiksi Game Mengancam Generasi Z dan Alpha

Spread the love

Oleh. Mariana, S.Sos

( Guru Swasta dari Kolaka- Sulawesi Tenggara)

#MuslimahTimes — Menurut Wikipedia Generasi Z merupakan generasi setelah Generasi Y, yang di definisikan sebagai orang-orang yang lahir dalam rentang tahun 1998 sampai 2010, generasi ini biasa juga disebut dengan generasi digital yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer.

 

Sedangkan Generasi Alpha atau Gen Alpha adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 2011 sampai dengan tahun 2024. Generasi yang lahir sesudah Generasi Z. Peneliti dan media populer menggunakan awal 2010-an sebagai tahun awal kelahiran, dinamai huruf pertama dalam alphabet Yunani, Generasi Alfa adalah yang pertama lahir seluruhnya pada abad -21.

 

Sebagian besar anggota Generasi Alfa adalah anak-anak Milenial. Hal ini merujuk pada survey  tahun 2008 yang dilakukan lembaga konsultan Australia McCrindle Research. Banyak anggota Generasi Alpha tumbuh dengan menggunakan smartphone dan tablet sebagai bagian dari hiburan masa kecil mereka, sehingga banyak yang terpapar perangkat sebagai gangguan atau alat bantu pendidikan yang menenangkan.

 

Dilansir oleh jabar.suara.com, 16 Maret 2021, ngeri! Ini pengakuan anak yang dirawat di RSJ akibat Kecanduan Game Online. Seorang anak yang tengah mengalami perawatan di Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat akibat kecanduan game online. Emosinya naik hingga melempar handphone jika diminta untuk berhenti main game online.

 

Hal yang sama pernah menimpa seorang bocah 12 tahun yang meninggal dunia akibat terpapar radiasi smartphone karena kecanduan game online. Maka tidak salah jika World Health Organization (WHO), memasukkan kecanduan game online ke daftar penyakit dalam laporan International Classification of Diseases edisi 11 ( ICD – 11), dengan demikian, kecanduan game resmi masuk sebagai gangguan kesehatan jiwa.

 

Dalam sebuah penelitian mengenai prevalensi kecanduan game dengan mengambil sampel di sekolah-sekolah di Manado, Medan, Pontianak dan Yogyakarta pada 2012, ditemukan bahwa 45,3% dari 3.264 siswa sekolah yang bermain game online selama sebulan terakhir dan tidak berniat untuk berhenti.

 

Untuk adiksi game ditemukan 150 siswa (10,2%) dari 1477 siswa yang mungkin mengalami adiksi. Lalu dengan analisis statistik, di dapatkan bahwa 89 (59,3%) dari 150 siswa yang mungkin mengalami adiksi parah, dan sisanya mungkin dapat masuk kategori adiksi ringan. Maka dapat diperkirakan Prevalensi orang mengalami kecanduan game diantara pemain game adalah sekitar 6,1 % di Indonesia. ( theconversation.com).

 

Dalam era digitalisasi dimana internet menjadi menu harian, hampir dipastikan bahwa kebanyakan aktivitas manusia tidak terlepas dari gadget atau ponsel canggih sebagai bentuk modernisasi dalam sains dan teknologi. Berbagai aplikasi dan game ditawarkan untuk menarik minat penggunanya.

 

Disamping itu era revolusi 4.0 telah menjadikan karir dan pekerjaan adalah prioritas penting untuk menunjang kesejahteraan hidup tak terkecuali menimpa para Ibu yang memiliki anak. Seiring dengan meningkatnya karir maka beban pengasuhan dan edukasi lebih banyak diserahkan pada asisten rumah tangga.

 

Kalaupun tidak memiliki asisten, maka ponsel canggih menjadi alternatif dalam pengasuhan anak. Pada akhirnya anak lebih dekat pada aplikasi dan game yang ditawarkan dalam smartphone daripada orangtuanya. Internet telah menjadi orangtua pengganti dalam pengasuhan dan tumbuh kembangnya generasi.

 

Maka tidak heran generasi Alpha maupun Z tengah terancam kesehatan maupun mentalnya akibat adiksi game, tontonan maupun aplikasi lainnya. Seorang anak bahkan dapat tenang dan lebih nyaman bersosialisasi dengan gadget daripada dengan orang tua atau teman-temannya. Kenyataan ini harusnya membuat orang tua miris dan prihatin pada kondisi anaknya bukannya tenang karena pekerjaannya selesai dan anaknya tidak banyak mengganggunya.

 

Sebab ini adalah tanda bahwa anak telah kehilangan rasa pada dunia nyatanya, tempat dimana seharusnya dia bersosialisasi dan membina kepribadiannya. Ketika anak kehilangan rasa pada realita maka akan berdampak sangat buruk pada mentalnya, anak akan mudah berimajinasi dan membenarkan setiap kejadian dalam game atau tontonan, bahkan lebih buruknya game atau tontonan akan dijadikan pedoman dalam bertingkah laku atau berbuat.

 

Parahnya jika game atau tontonan justru berpeluang menimbulkan kerusuhan dan kriminalitas, maka ini akan mengacaukan dinamika sosial bahkan politik. Pada akhirnya generasi Alpha maupun Z hanya korban dari permainan yang tidak edukatif yang dibiarkan tersebar dan mendapat posisi tanpa filter dan larangan, bebas akses.

 

Meski ada konten terlarang tapi apakah ada jaminan mereka tidak dapat membukanya, padahal kecanggihan teknologi memberi peluang apapun apalagi hanya sekadar membuka konten atau aplikasi.

 

Tidak sedikit anak yang adiksi terhadap game, dalam pembelajaran di sekolah lebih pasif, tenang tapi selalu gagal fokus dalam diskusi, menarik diri dari pergaulan, gangguan kecemasan, mudah marah atau emosi serta cenderung lebih memperhatikan gadgetnya daripada buku pelajarannya maupun tugas yang diberikan guru.

 

Adiksi game pada anak sudah pada tahap yang sangat serius, mengingat tidak sedikit kasus dari game ini. Apalagi ketika dunia diperhadapkan dengan serangan virus Covid-19, aktivitas lebih banyak dilakukan dirumah, maka peluang menggunakan gadget atau ponsel menjadi sesuatu yang wajib dan naik level menjadi kebutuhan primer, yang setiap orang apakah dia berposisi sebagai pelajar, pekerja atau lainnya, smartphone adalah salah satu kebutuhan utama.

 

Maka dapat dibayangkan apa yang terjadi pada generasi Z dan Alpha?, tangan dan matanya lebih banyak tertuju pada smartphone, apakah sekadar menonton atau bermain game, bahkan tidak tanggung-tanggung bermain gamenya pun dari pagi hingga pagi kembali, ancaman risiko kesehatan tentunya tidak dapat diragukan lagi.

 

Generasi terjajah dengan kesenangan melalui serangkaian permainan canggih yang menguras tenaga dan menyia-nyiakan waktu produktif untuk membina karakter dan pemikiran. Ruang kebebasan yang dihadirkan peradaban kapitalisme telah sukses membangun karakter yang hebat dalam sains dan teknologi tapi minim dari penguasaan emosi dan Spiritual.

 

Kebebasan yang berdampak pada hedonisme telah melalaikan sebagian generasi hingga terjauhkan dari nilai kehidupan sesungguhnya, banyak yang pintar tapi sangat rapuh, mudah tersulut emosinya, kurang peka dengan lingkungan, individualisme dan egois, serba instan dan apapun dilakukan untuk mencapai kesenangan yang diinginkan terlepas baik atau buruk.

 

Tentu ini sangat meresahkan orang tua sebab anak yang kecanduan game akan sulit dikendalikan, cenderung membangkang, mudah terbawa perasaan dan marah, sulit dinasehati, apalagi disuruh untuk mengerjakan sesuatu, malas bergerak karena keasyikan bermain game.

 

Hanya saja adiksi game pada anak, tentu tidak dengan sendirinya, ada peranan orang tua maupun lingkungan. Ketika sejak dini anak telah dibiasakan untuk memegang smartphone sebagai media untuk menenangkan anak ketika rewel apalagi orangtua sibuk kerja, maka yang terjadi adalah anak akan marah bahkan ngamuk ketika tidak diberikan ponsel sebab telah terbiasa dan terpapar teknologi serta konten yang ada pada smartphone.

 

Maka game dapat memengaruhi kepribadian anak, hal ini dapat berdampak pada disharmonisasi dalam keluarga karena orang tua gagal meredakan adiksi anak pada game, akhirnya menjadi pemicu perselisihan dalam keluarga antara ayah dan ibu.

 

Sebenarnya bukan hanya salah orang tua, sebab di satu sisi mereka juga diperhadapkan pada tuntutan hidup yang sangat tinggi, mereka akan sulit untuk survive jika hanya berperan dalam sektor domestik. Ada yang berkarir disebabkan tuntutan kebutuhan yang harus dipenuhi, mulai dari kebutuhan primer seperti sandang, pangan ,papan, pendidikan, kesehatan dan lainnya, yang tentu biayanya tidak murah apalagi gratis.

 

Sementara tidak ada jaminan negara dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya secara totalitas, akhirnya ini memaksa sebagian keluarga untuk terjun langsung mencari pekerjaan demi memenuhi kebutuhan keluarga, tak terkecuali Ibu sebagai benteng pertahanan keluarga dalam hal pengurus dan pendidik anak.

 

Akhirnya karena kesibukan bekerja tidak sedikit orang tua yang menyerahkan pengasuhan anaknya pada teknologi, berharap bahwa anak tenang dan belajar dengan cerdas ditemani internet, kenyataannya peranan orang tua dalam memberikan edukasi, proteksi dan afeksi tidaklah dapat digantikan dengan teknologi secanggih apapun itu, sebab anak bukanlah robot yang dapat direkayasa dan dikontrol melalui teknologi.

 

Anak memiliki pemikiran dan perasaan dan itu tidak dapat dipenuhi hanya dengan mengandalkan teknologi cerdas, fakta membuktikan banyak anak yang akhirnya terpapar teknologi dan berdampak negatif pada hidupnya misalnya adiksi game, gangguan kecemasan, emosi yang sulit dikontrol, imajinasi yang tidak jelas, kesulitan belajar, Inferior, kesulitan bersosialisasi, kesehatan yang menurun adalah beberapa kasus yang banyak dialami generasi Y dan Alpha akibat terpapar teknologi.

 

Jika dibiarkan maka peradaban ini akan kehilangan generasi emas yang unggul secara sains teknologi tapi juga mampu bertahan dalam arus kehidupan sekeras apapun tantangannya. Sebab dalam hidup bukan hanya kemampuan pengetahuan yang menjadikan seseorang berhasil tapi bagaimana emosi dan spiritualnya dapat memberikan harapan yang besar untuk dapat bertahan mengarungi kehidupan.

 

Hal ini pernah dibuktikan dengan keunggulan peradapan Islam yang banyak melahirkan para Ahli karena mendapat pendidikan terbaik mulai dari keluarganya, masyarakat dan negara, sebut saja Muhammad al-Fatih, Thariq bin Ziyad, Imam Syafi’i, Abu Raihan Al-Biruni, Muhammad bin Musa al-Khawarizmi, Abu Musa Jabir bin Hayyan, Ibnu Rusyd, dan masih banyak lagi.

 

Mareka semua adalah generasi emas di zamannya hingga mampu mengantarkan peradapan Islam pada peradapan gemilang dari segi sains teknologi juga berpengaruh terhadap kekuatan iman yang mendalam hingga cahaya kegemilangan Islam menyebar ke seluruh penjuru dunia berkat kualitas generasinya yang sangat unggul.

 

hal ini menjadi sebuah kewajaran sebab sistem yang berlaku saat itu menjadikan pemikiran dan perasaan individu yang merupakan bagian dari masayarakat terbentuk ketakwaannya, disamping itu masyarakat benar-benar berfungsi sebagai media kontrol ketika ada kebijakan atau masalah yang bertentangan dengan aturan Islam.

 

Sehingga Negara selalu melaksanakan setiap kewajibannya berpedoman pada aturan yang ditetapkan, konsisten dalam mengurusi dan melindungi rakyatnya bahkan tanpa sungkan penguasa sendirilah yang turun langsung memenuhi kebutuhan rakyatnya tanpa pengawal apalagi kamera pencitraan.

 

Para penguasa Islam berupaya dengan sangat kuat untuk memenuhi tanggung jawab kekuasaanya, sebab mereka paham bahwa kekuasaan akan diminta pertanggungjawabanya di akhirat.

 

Maka solusi untuk menyelamatkan generasi Z dan Alpha dari kebingungan akibat arus modernisasi dimana perkembangan teknologi sangat cepat dan masif tanpa filter hingga menyebabkan kegersangan afeksi dan edukasi emosi serta spiritual, yakni dengan merujuk pada apa yang pernah terjadi di zaman kegemilangan generasi pada kejayaan peradaban Islam. Wallahu a’lam (***)