Agama Baru; Ketika Penderita NPD Muncul ke Permukaan

Spread the love

Oleh : Helmiyatul Hidayati

(Mahasiswi FISIP Ilmu Komunikasi UT Jember, Pemerhati Remaja)

 

#MuslimahTimes – Banyak orang tidak asing dengan kata selfie dan narsis. Menyeruaknya kepopuleran media sosial merangsek ke dalam berbagai aspek, memberi pengaruh termasuk kepada remaja-remaji zaman sekarang. Hingga banyaklah yang mereka pamerkan, mulai dari benda hingga diri sendiri.

Tidak dipungkiri eksistensi diri merupakan salah satu naluri alami manusia. Perasaan ingin menjadi pusat perhatian dalam skala kecil maupun besar pastilah ada dalam setiap diri.

Sebenarnya terdapat perbedaan antara selfie dan narsis, serupa namun tak sama. Selfie sendiri adalah prilaku memotret, namun merupakan bagian dari narsis.

“Selfie mewakili satu elemen narsistik, selfie kan prilaku memotret. Narsis adalah lebih kepada mencintai diri sendiri. Pamernya nggak cuma wajah, bahkan berhadapan dengan orang maunya menang sendiri, yang penting diri sendiri daripada orang lain. Itu kan narsis,” jelas Kasandra, seorang psikologis klinis dan forensik dari ‘Kasandra & Associates’ (detik.com).

Narsis sendiri adalah gangguan kejiwaan atau psikologis yang biasa disebut Narcisstic Personality Disorder (NPD). Seseorang yang menderita gangguan narsistik biasanya diiringi juga dengan pribadi yang emosional, lebih banyak berpura-pura, antisosial dan terlalu mendramatisir sesuatu. Mereka cenderung arogan dan terus-menerus mengharapkan pujian dari orang lain. Mereka akan membanggakan dan melebih-lebihkan prestasi yang dicapai. Ketika merasa ada orang lain yang lebih unggul daripada mereka, penderita gangguan kepribadian narsistik akan merasa sangat iri.

Untuk terus eksis menonjolkan kelebihannya, seorang narsis tergantung pada yang disebut sebagai Narcissistic Supply. Yaitu pandangan orang-orang di sekitarnya yang menampilkan ilusi bahwa ia seorang yang penting, unik, dan istimewa (psyline.id).

 

// Kisah Para Penderita NPD //

Dibalik penyakit menyedihkan ini, konon istilah narsis pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud yang merujuk pada sebuah mitologi Yunani. Mitologi tersebut adalah kisah Narcissus dan Echos. Narcissus adalah pria super tampan sehingga membuat dewi Echos jatuh cinta. Namun sayang cintanya bertepuk sebelah tangan, karena Narcissus lebih mencintai dirinya sendiri. Narcissus tak bisa berhenti mengagumi banyangannya yang terpantul di kolam hingga akhirnya ia tenggelam dan mati.

Dalam kisah nyata terdahulu, NPD telah ditunjukkan oleh seorang Firaun. Betapa ia membanggakan dirinya sendiri hingga mengaku Tuhan. Narcissistic Suply ia dapat melalui kekuasaannya. Takut akan sebuah ramalan tentang seorang anak laki-laki yang akan meruntuhkan singgasananya, ia pun membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir. Persekusi dakwah kerap kali dilakukannya kepada Musa. Bahkan hingga Musa mengalahkan para penyihir, Firaun tetap angkuh dan tidak mau beriman.

Firaun adalah contoh nyata akibat komplikasi penyakit NPD. Mengaku menjadi tuhan adalah usaha menjadi pusat perhatian terparah, padahal ia tidak lebih dari seorang manusia yang bisa mati. Sedangkan Sang Maha Pencipta adalah azali dan wajibul wujud.

“Katakanlah, Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak, tidak pula diperanakkan. Dan tidak seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlas 112 : 1-5)

Musailamah, Sajah, Thulaihah dan masih banyak lagi adalah sederet nama orang-orang penderita NPD parah yang mengaku sebagai nabi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Padahal hakikat keberadaan rasul adalah untuk menyampaikan aturan dari Sang Khalik kepada umat manusia. Bagaimana bisa ada nabi dan rasul lagi bila Sang Khalik sendiri telah mengirimkan nabi penutup.

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab (33): 40)

 

// Penderita NPD pada Zaman Modern //

Bahkan di zaman modern, plagiat tidak hanya dilakukan pada sebuah karya tulis, namun juga pada penyakit NPD. Lebih mudahnya penyakit ini pun menjangkiti manusia hingga masa kini. Segelintir orang mengaku sebagai nabi, ada juga yang merasa sebagai “kompetitor” Tuhan dalam menciptakan aturan kehidupan, termasuk dalam menciptakan agama baru setelah agama-Nya disempurnakan kurang lebih sejak 1400 tahun lalu.

Menurut KBBI, agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Bila memperhatikan produk elektronik, maka setiap produk tersebut memiliki panduan penggunaan yang berasal dari produsen. Panduan penggunaan tidak ditentukan oleh produk itu sendiri. Begitu juga dengan manusia, sistem pengaturan kehidupan manusia telah ada melalui sistem yang disebut agama, dan buku petunjuknya adalah Al-Qur’an dengan perantara Sang Rasull. Sistem ini berasal dari produsen manusia (Allah SWT).

Zaman sekarang, manusia yang terjangkit NPD akibat penghambaan buta-nya kepada sesama manusia lain terkadang membuatnya merasa mampu membuat sebuah sitem tandingan seperti yang telah diciptakan oleh Sang Maha Kuasa. Contohnya remaja-remaji alay yang merasa bisa membuat agama hanya karena cintanya pada sosok yang pandai membuat video pendek dalam sebuah aplikasi tidak penting. Atau merasa telah “beragama baru” karena merasa “rumahnya” merupakanyang terbesar dan memiliki sumbangsih besar pada negara.

Padahal sistem semacam ini mustahil bisa dibuat oleh manusia yang –hanya- merupakan produk dari Allah. Kalaupun ada maka pastilah itu tidak benar. Apalagi sistem ini telah disempurnakan (risalah itu telah turun/diwariskan semua tanpa ada yang tersisa, utuh dan lengkap) sesuai dengan sebuah ayat yang berbunyi, ““…Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu…” [Al-Maa-idah: 3]

 

// Solusi bagi Penderita NPD //

Tentu saja penderita NPD merupakan hal yang berbahaya, karena bisa saja menulari ummat. Sehingg ummat perlu vaksin untuk membuatnya kebal dari penyakit satu ini.

Vaksin tersebut dimulai dari pembentukan iman yang diperoleh dengan proses berpikir. Karena seorang Muslim wajib menggunakan akal di samping perasaannya, serta melarang bertaqlid dalam masalah akidah. Di samping itu untuk memperingatkan agar tidak sembarang mengambil jalan nenek moyang tanpa meneliti dan menguji sejauh mana kebenarannya.

Selain vaksin, umat juga butuh asupan nutrisi yang sempurna dan lengkap kebaikannya, yaitu Islam Kaffah. Karena perkara iman tidak sama dengan hidangan prasmanan saat pesta, dimana setiap orang bisa mengambil yang dia suka dan mengabaikan yang tidak dia suka. Kehilangan salah satu nutrisinya (tidak Kaffah) seperti kehilangan salah satu anggota tubuh yang membuat hidup tidak lengkap bahkan timpang. Bisa juga menimbulkan komplikasi penyakit kejiwaan seperti merasa superior sehingga merasa bisa membuat agama baru.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)

Jember, 16 Jul 18

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *