Agar Muslimah Pengemban Dakwah Tak Sekedar Julukan Mewah

Spread the love

Oleh. Kanti Rahmillah

 

#MuslimahTimes –“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah [9]: 71)

Ayat di atas, sungguh telah menggambarkan dengan jelas. Kewajiban dakwah bagi muslimah. Tak ada keraguan di dalamnya. Siapa yang menyangkal, berarti sedang tak mengindahkan seruanNya. Begitupun arena dakwah. Tak ada dalil yang menyebutkan, bahwa wanita hanya boleh berdakwah di rumah.

Walaupun kewajiban dakwah dialamatkan pada setiap mukallaf. Namun ayat diatas menjelaskan, sesungguhnya hanya sebagian saja yang mengambil peran ini. Oleh karena itu. Bagi para pengemban dakwah, berbahagialah. Ditengah umat sibuk menyelesaikan urusannya sendiri. Kalian malah berjibaku dengan urusan umat. Bukan berarti para pengemban dakwah tak mempunyai urusan. Namun, urusan pribadinya telah tertumpuk oleh derasnya problematika umat.

Bukan tanpa alasan, mereka lebih mengutamakan umat, ketimbang diri dan keluarganya sendiri. Karena balasannya telah nyata dalam keyakinan mereka. Para penolong agama Allah itu, sedang menyusun batu istana megah di JannahNya.

Muslimah Pengemban dakwah, sejatinya harus meyadari kedudukannya sebagai pemimpin umat. Menjadi sosok yang diteladani sikapnya. Oleh karena itu, dia harus meningkatkan kualitasnya, sehingga benar-benar layak menjadi role model umat.

Muslimah pengemban dakwah harus menyelaraskan semua peran yang ada pada dirinya. Sebagai anak. Sebagai Istri dan Ibu. Sebagai bagian dari masyarakat. Ketimpangan dalam menjalani peran ini, akan menjadi noktah hitam di tengah umat. Dan bisa jadi, membahayakan dirinya sebagai hamba Allah dan keberlangsungan dakwah.

 

// Peran sebagai Anak //

Tak bisa dipungkiri, dakwah Islam di Indonesia semakin meningkat. Geliat umat terhadap kebangkitan Islam semakin nyata. Kini, Dakwah Islam mudah menyentuh anak muda. Melalui gawai dan teknologi digital lainya. Pemuda milenial, mampu mengakses konten Islam.

Tak menutup kemungkinan. Si anaklah yang dahulu menemukan cahaya Islam. Orang tuanya justru masih bersama kepercayaan atau ritual nenek moyang. Maka dibutuhkan kreativitas anak dalam mendakwahkan Islam pada orangtuanya. Berat? Tentu. Namun dengan kekuatan doa dan ikhtiar seluas samudra, tak ada yang mustahil.

Jadilah anak yang berbakti. Membimbing ayah dan ibu menuju Jannah abadi, sungguh penuh onak dan duri. Sabar adalah kunci sukses dari Ilahi. Berilah hak mereka untuk di kasihi. Yang merantau, jangan lupa pulang, minimal kasih kabar. Sekalipun, engkau tampak berilmu. Jangan pernah menghardiknya. Diam lebih baik, saat nasihat orang tua terasa usang. Karena ridho Allah ada ditelapak kakinya.

 

// Peran Sebagai Istri //

Istri teladan adalah yang maksimal dalam pelayanannya terhadap suami. Dia memahami kebutuhan suami. Dan menjadi yang terdepan dalam menyelesaikan seluruh gundahnya. Walaupun sama-sama pengemban dakwah. Suami istri adalah juga manusia. Punya sisi kemanusiaanya.

Hubungan suami istri dalam Islam seperti Sohbah, persahabatan. Bukan atasan bawahan. Apalagi tuan dan pelayan. Sehingga harmonis dan suasana romantis harus senantiasa kita jaga. Perempuan telah Allah anugerahkan kelembutan dan kepekaan yang tinggi. Maka, jagalah kesakinahan keluargamu.

Penuhilah hajat seorang pria yang kini telah menjadi imam kita. Ridhanya adalah ridha pemilik semesta. Berpenampilan baik, tak harus mahal. Berkata yang lembut. Dia selalu menyampaikan kabar gembira. Ketika ada berita yang sekiranya menyedihkan. Ia akan pandai mencari waktu yang tepat untuk menyampaikan.

Istri teladan, dialah yang menjadi pendorong suami untuk berada di garda terdepan dalam dakwahnya. Dalam kebaikannya. Bukan malah menjadi penghambat dakwahnya. Dorong suami agar menginfakkan yang terbaik di jalan dakwah. Bukan malah, ketakutan uang belanja berkurang. Saling memberi semangat. Saling fastabiqul khairat.

Istri teladan, juga harus bisa mengambil peran terbaik, menjadi seorang menantu dan Ipar. Karena, mereka kini adalah keluarga besar kita, yang wajib kita pelihara silaturahminya. Begitupun dengan tetangga. Karena merekalah orang pertama yang akan menolong kita dalam kesusahan.

Begitupun suasana rumah. Harus menjadi tempat yang nyaman ditempati. Jika belum sanggup, karena urusan begitu banyak. Komunikasikanlah. Karena sebuah rumah adalah milik setiap penghuninya. Apapun harus dikomunikasikan. Karena tak sedikit rumah tangga hancur, lantaran komunikasi yang tak lancar.

 

// Peran Sebagai Ibu //

Ibu adalah madrasatul ula bagi anak-anaknya. Sekolah pertama bagi keturunanya. Teladan ayah dan ibu, menjadi mutlak diperlukan bagi buah hati mereka. Dari tangan Ibu hebat, akan lahir anak-anak yang hebat. Walaupun Ibu adalah seorang pengemban dakwah. Hak anak tetap tak boleh terabaikan.

Penuhi hajatnya. Penuhi gizinya. Cermati tumbuh kembangnya. Karena hadonahmu, adalah amanah besarmu. Lalainya kita dalam pengasuhan adalah urusan kita dengan Allah. Bukan mustahil, seorang ibu yang lalai, mendapati anaknya sukses. Begitupun sebaliknya. Ibu yang cermat, menyaksikan anaknya terpuruk. Sungguh hasil diluar kuasamu. Allah hanya menghisab proses pengasuhanmu.

Dalam berdakwah, tentu penuh cerita. Tak bisa dipungkiri, ketika berdakwah, demi meredam balita yang minta perhatian. Dijejali Lah jajanan non toyib dan HP. Tentu hal demikian adalah kurang tepat. Pembiasaan makan makanan yang thayyib dan anak terlepas dari gawai, tentu butuh proses. Mari mengawali prosesnya.

Namun, bukan berarti akhirnya memilih tidak berdakwah lantaran anak merengek minta HP. Karena itu ibarat memilih tidak sholat karena anak rewel. Tentu, pemikiran demikian harus dibuang jauh-jauh. Dakwah wajib. Shalat wajib. Hadonah wajib. Maka, manusia cerdas nan kreatif pasti punya jalan untuk mengatasinya.

Tapi kan sholat 5 menit, dakwah bisa 2 jam? Sungguh, pengemban dakwah sedang bertransaksi dengan pemilik anak kita. Jangan lupakan, ada Allah yang menjaga anak kita. Ketika ikhtiar telah diupayakan. Sungguh Allah maha pemberi pertolongan. Apakah jaminan, seorang ibu yang full 24 jam mengasuh anak. Dirumah ada ART dan bukan pengemban dakwah, lantas anaknya menjadi hebat?

Tolonglah agama Allah, niscata Allah akan menolong hambanya. Urusan yang terlihat sulit. Maka mudah bagi Allah. Libatkan Allah dalam setiap aktivitas kita. Matematika Allah tak bisa kita terka.

 

// Muslimah dalam Aktivitas Dakwah //

Setiap Muslimah dalam proses aktivitas dakwah, harus senantiasa membangun dirinya agar memiliki karakter pemimpin yang baik. Kemampuan manajerial. Pintar mengatur uang, waktu, tenaga dan seabrek urusan yang diamanahkan padannya.

1. Menjadi pemimpin yang baik.

Dalam sebuah organisasi. Pastilah kita akan menemukan peran pemimpin dan yang dipimpin. Maka karakter pemimpin sejati harus dipahami sedari awal.

Pemimpin yang baik harus melakukan pendekatan yang benar terhadap sekelilingnya. Dia harus berbaur dan menyatu dengan orang-orang yang dipimpinnya, bukannya mengambil jarak dan menjadi mercusuar bagi sekelilingnya.

Kepemimpinan bergaya instruksi dan diktator, yang hanya mengandalkan controling dan monitoring tidak akan berhasil. Kepemimpinan seperti itu hanya akan menghasilkan suasana penuh ketakutan. Rasa ketakutan akan mematikan potensi seseorang, karena selalu hidup dalam suasana penuh tekanan dan keterpaksaan, bukan kepatuhan.

Kepemimpinan dakwah harus menggunakan pendekatan ide, karena kepemimpinan dakwah adalah kepemimpinan berpikir. Aktivis dakwah harus dapat menggerakkan orang-orang di sekitarnya. Jadi, pemimpin yang baik harus bisa menjadi inspirator dan motivator, bukan diktator. Orang-orang yang dipimpinnya pun bergerak karena kepemimpinan berpikir, bukan karena taklif (instruksi).

  1. Selalu berprasangka baik.Aktivis dakwah tidak boleh diliputi prasangka buruk (suudzon), tetapi selalu diwarnai prasangka baik (husnuzzhan). Jangan hanya melihat kesalahan atau kelemahan dari orang-orang di sekelilingnya. Tetapi harus bisa berprasangka baik. sehingga selalu berpikir optimis dan selanjutnya akan menimbulkan rasa percaya diri untuk bisa meraih kesuksesan.

    3. Permudahlah, Jangan Mempersulit.

    Buatlah segala sesuatu menjadi mudah, dan jangan dipersulit. Rasulullah saw. ketika menyeru kepada manusia tidak pernah memaksa, tetapi selalu mengingatkan pada janji-janji Allah. Pada saat Perang Khandaq, ketika Beliau meminta-minta berulang-ulang kepada para Sahabat agar ada yang memata-matai musuh untuk mencari informasi, dan tidak ada yang merespon, Beliau tidak mencela para Sahabat, tetapi mengingatkan dan terus mengingatkan bahwa Allah akan memberikan kebaikan kepada kita kalau kita melakukan perintah-Nya. Akhirnya Beliau mengutus Huzaifah untuk tugas spionase tersebut.

Begitupun sebaliknya, para sahabat termotivasi untuk selalu terdepan dalam perjuangan. Karena pahala itu tak akan pernah tertukar.

4. Memberikan kenyamanan kepada siapapun

Pengemban dakwah yang baik, ketika berada dimanapun dia disukai, dicintai, bahkan ditunggu-tunggu sebagai tempat curhat, mencari solusi; bukan sebaliknya, menimbulkan ketakutan dan kejengkelan. Ia memiliki kemampuan empati kepada orang lain dan mau mendengarkan masukan-masukan. Ia pun berusaha mencari tahu kesalahannya dan legowo jika dinasehati.

5. Bagian dari tim yang solid.

Tujuan dakwah yang agung, yaitu melanjutkan kembali kehidupan Islam, memerlukan sebuah kerjasama tim yang solid. Oleh karena itu, setiap anggotanya perlu mengkondisikan hubungan tim dalam dakwahnya. Diperlukan upaya pemetaan terhadap potensi dan kondisi yang ada pada setiap individu oleh pemimpinnya. Kemudian merencanakan bersama apa yang bisa dilakukan dengan potensi dan kondisi yang ada.

Selayaknya sebuah tim, kekurangan dari yang satu akan ditutupi oleh kelebihan dari yang lain. Dengan karakteristik pengemban dakwah yang dipaparkan di atas, maka setiap muslimah akan termotivasi dengan mengatakan, “Apa yang bisa kita berikan untuk Islam dan dakwah ini”. Bukan, apa yang bisa saya dapatkan dari dakwah ini.

 

// Khotimah //

Mudah-mudahan, tulisan singkat ini. Mampu menjadi penyemangat para muslimah pengemban dakwah. Menjadi motivasi agar kita semakin layak dikatakan pengemban dakwah.  Karena sejatinya, perniagaan yang terbaik adalah perniagaan denganNya. Menjadi pengemban dakwah adalah transaksi langit yang menghantarkan pada JannahNya.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *