Agent of Change, Tomorrow We Will be the Heroes

Spread the love

Oleh. Istiqomah

#MuslimahTimes — Bulan Agustus identik dengan hari kemerdekaan Indonesia. Tepat tanggal 17 Agustus 2019 Indonesia akan merayakan hari kemerdekaannya yang ke-74 tahun. Ini artinya selama 74 tahun sudah kita merdeka, terbebas dari segala bentuk penjajahan, mengalami kemajuan baik peradaban, pemikiran dan moral. Namun, harapan jauh dari kenyataan didepan mata,kita merayakan kemerdekaan justru ditengah keterpurukan.

Berlatar belakang hal di atas, Komunitas Sahabat Qur’anic  menyelenggarakan Meet Up Saqu ke-15 bertajuk  “Agent of Change: Tomorrow we Will be the Heroes” di Rumah Inspirasi Perubahan Probolinggo pada Ahad (4/08/2019).

Acara yang dihadiri oleh puluhan remaja dari Kota Probolinggo dan sekitarnya ini dibuka oleh Ukhti Ika dan Ukhti Indah. Untuk menambah keberkahan dilantunkan ayat suci Al Qur’an oleh Ukhti Isti Qomariyah.

Hadir sebagai pemateri, Ustadzah Mas’adah S.Pd. yang memberikan paparan tentang Makna Kemerdekaan Hakiki. Ia menyebut fakta di bulan kemerdekaan dijumpai banyak masyarakat dari muda maupun tua merayakan kemerdekaan dengan perlombaan dan berbagai kegiatan yang jauh dari nilai-nilai Islam dan edukasi. Seperti festival yang mengenakan kostum terbuka, dan penampilan laki-laki menyerupai perempuan.

Menurut KBBI kemerdekaan adalah bebas dari penjajahan, penghambaan, tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak terikat, tidak bergantung pada pihak tertentu, dan leluasa. Beliau juga mengutip dari Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani bahwa Penjajah (isti’mar) adalah pemaksaan penguasaan dominasi militer, politik, budaya dan ekonomi terhadap bangsa-bangsa yang terjajah untuk dieksploitasi.

Beliau menjelaskan bahwa ada 2 bentuk penjajahan. Pertama, penjajahan fisik. Mengingat sejarah VOC,  Penjajah Belanda  itu datang ke negeri kita atas nama sebuah misi yang dimotori oleh ambisi kekuasaan. Mereka tergiur dengan sumber daya alam bangsa Indonesia. Pun saat ini setelah merdeka Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia masih dikuasai oleh asing. Secara fisik, senjata fisik penjajah memang tidak menodong kita, namun tangan-tangan mereka dalam menentukan kebijakan-kebijakan negeri ini masih kental terasa.

Adapun bentuk penjajahan yang kedua yaitu Neo Imperialisme (Penjajahan gaya baru) yang ini lebih berbahaya karena menyebabkan hadirnya orang-orang yang apatis yang kurang peka pada keterpurukan, terlihat dari kebijakan-kebijakan multidimensi baik politik, hukum, budaya, pendidikan yang menguntungkan asing dan pemilik modal.

“Menurut Islam kemerdekaan hakiki adalah terbebas dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah baik dalam dimensi individu maupun negara. Hanya kepada Allah kita tunduk, patuh, dan menghamba. Oleh sebab itu kita harus berhijrah dari peraturan buatan manusia yang saat ini diterapkan menuju aturan yang berasal dari wahyu Sang Pecipta yaitu syariat Islam” terang ustadzah Mas’adah.

Semua itu akan menjadi nyata jika umat manusia mengembalikan hak penetapan aturan hukum hanya kepada Allah SWT dan Rasul saw dengan menerapkan syariat Islam. Namun, penerapan syariat Islam tersebut tidak akan terlaksana secara utuh kecuali jika kita mengganti neo-imperialisme yang terlahir dari pemikiran sekuler-kapitalisme dengan syariat Islam itu sendiri dalam bingkai Khilafah.

Oleh sebab itu, dibutuhkan agen perubah harapan bangsa. Pemuda harus menjadi agen perubah selain Allah lebihkan kepada potensi, kekuatan dan kecerdasannya. Karena Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Sebagaimana tokoh pejuang agama yang teladan dari kalangan sahabat dan sahabiyah yang kebanyakan adalah pemuda yang menyebarkan dakwah Islam hingga mereka terbebas dari bentuk penjajahan dan penghambaan apapun. “Jangan pernah takut menjadi pejuang islam, ataupun mendapatkan berbagai tantangan sebab kita harus yakin pada janji Allah bahwa, Dia akan menolong hamba-Nya yang menolong agama Allah. Sebab hanya dengan Islam kaum muslim akan merdeka dan mulia”, ungkapnya.

Peserta Kajian Meet Up semakin semangat saat diskusi berlangsung. Selanjutnya acara ditutup dengan doa oleh Ukhti Irna dan pembagian doorprize.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *