‘Aisyah Binti Abu Bakar ra. Potret Kecerdasan Dalam Bingkai Ketaatan

Spread the love

Oleh: Wulan Citra Dewi, S.Pd.

Aisyah Binti Abu Bakar ra., Siapa yang tidak mengenal Ummul mukmimin yang satu ini? Ia dijuliki Al-Humaira karena parasnya yang cantik dan kulitnya yang putih bersih. Ibunda Aisyah ra. adalah wanita soleha, ahli wara’, ahli zuhud, bertakwa, istri kesayangan Nabi Saw. Beliau pulalah istri Nabi Saw. yang mendapatkan salam dari malaikat Jibril karena ketakwaannya.

Ibnu Syihab menyatakan bahwa Abu Usamah berkata, ”Sesungguhnya ‘Aisyah pernah mengungkapkan bahwa pada suatu hari Rasulallah Saw. berkata kepadanya, ‘Hai Aisy, ini Jibril. Ia mengucapkan salam kepadamu.’ ‘Aisyah membalas, ‘Wa ‘alaihis Salaam wa Rahmatullah wa Barakaatuh (Semoga Jibril juga mendapat kesejahteraan, limpahan kasih sayang dan berkah dari Allah). Engkau (Rasulullah Saw.) melihat sesuatu yang tidak dapat kulihat.” (Muttafaq ‘alaih)

Hal lain yang tidak kalah populer, Ibunda Aisyah ra. juga Memiliki kecerdasan yang telah mahsyur diketahui dan diakui oleh para ulama hingga saat ini. tidak hanya di bidang agama, melainkan juga di bidang syair dan sejarah arab, bahkan dalam masalah pengobatan. Waw! dahsyat, kan?! Nah, Ini dia yang namanya profile muslimah sejati. Faqqih fiddin (ahli dalam ilmu agama), jago pula dalam keilmuan dunia. Wajib ditiru nih!

Ummul mukminin ‘Aisyah binti Ash-Shiddiq ra. ini adalah ulama wanita yang Rabbani dan sosok yang kesuciaannya diumumkan dari tujuh lapis langit. So pasti, tidak diragukan lagi dong kedudukan Beliau di sisi Allah Swt. Ibunda ‘Aisyah ditinggal wafat oleh Rasulullah Saw., pada usia yang masih sangat muda, yakni belum genap 19 tahun. Namun demikian, dalam usia muda tersebut beliau telah memenuhi segenap pelosok bumi dengan keilmuan yang dimilikinya. Untuk perkara periwayatan hadist, Ibunda ‘Aisyah adalah perawi ulung tanpa tanding. Hanya Abu Hurairah ra. yang meriwayatkan hadist lebih banyak dari beliau. Namun dengan catatan bahwa riwayat ‘Aisyah ra. lebih teliti dan lebih kuat darinya.

Imam az-Zuhri berkata: ”Seandainya ilmu Aisyah dikumpulkan dengan ilmu dari seluruh Ummahatul Mukminin, dan ilmu seluruh kaum wanita, niscaya ilmu Aisyah lebih utama.”

‘Atha’ berkata, ”‘Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan paling baik pendapatnya dalam persoalan-persoalan yang menyangkut masyarakat umum.”
‘Urwah bin Zubair berkata, ”Aku tidak pernah melihat orang yang lebih banyak ilmunya dari ‘Aisyah ra. dalam hal pemahaman masalah-masalah agama, kedokteran dan puisi.”

Masyaallah, begitulah keluasan ilmu ibunda ‘Aisyah ra., Ummul mukminin sekaligus kekasih Rasulullah Saw. ini. Tidak berlebihan jika beliau kita jadikan sebagai potret kecerdasan dalam bingkai ketaatan. Banyak pelajaran yang bisa kita ambil darinya. Dapat pula kita simpulkan bahwa seorang muslim yang berpegang teguh pada apa yang telah ditetapkan oleh Rabbnya, pasti tidak ada yang tersisa darinya kecuali hanya kebaikan.

Nah usut punya usut, ternyata buku ”Habis Gelap Terbitlah Terang” buah pikir Raden Ayu Kartini juga merupakan hasil dari kajinya terhadap Al Quran. Cara pandang, pola pikir bahkan pola sikap Beliau berubah tatkala nash-nash suci Al Quran merasuk lembut dalam sukma. Bukan sekedar membaca atau menghafal teksnya, namun Beliau berusaha memahami arti dan makna yang terkandung di dalamnya.

Perubahan pun terjadi. Kekaguman pada Eropa sirna. Kecintaan pada Islam semakin menggelora. Gelap yang selama ini beliau rasa, hilang seketika oleh terpaan cahaya Islam yang baru diperolehnya. Jalan yang dulunya sukar di tempuh, kini lapang seolah tiada rintang menghadang.

Ya, bersemayamnya takwa di dada menjadikan RA. Kartini bertekad untuk memperjuangkan hak-hak pendidikan bagi kaumnya. Bukan karena ingin menyaingi kaum lelaki sebagaimana digembar-gemborkan feminisme saat ini. Tapi karena niatan suci demi mendidik generasi. Karena seorang muslimah, memiliki kewajiban utama yakni sebagai Ibu dan pengatur rumah tangga sekaligus pendidik pertama bagi anak-anaknya. Hem, ternyata soalan hari Kartini bukan semata tentang kebaya dan konde, yes! Hal pentingnya, justru ada pada pola pikir dan pola sikap, sebelum dan setelah Putri Bangsawan tersebut mengenal Islam. Catat!

Takwa memang akan selalu memberi warna kebaikan dan kebermanfaatan bagi kehidupan. Produktif dalam karya demi mengamalkan dan meninggikan agama-Nya. Semakin mengkaji dan memahami, semakin banyak pula letupan-letupan kreasi. Beramal tiada lelah tersebab Lillah. Semata untuk satu kata, rida Allah Swt. yang didamba.

Maka salah besar jika dikatakan bahwa yang mengkaji dan mengamalkan Islam akan menjadi terbelakang dan tertinggal dalam berbagai bidang. Justru sebaliknya, siapa saja yang berusaha memahami, meyakini, mengamalkan dan menyebarkan Islam maka Ia akan menjadi terdepan dalam berbagai hal kebaikan. Insyaallah, kemuliaan pun akan diperoleh di dunia dan akhirat. Masya Allah!
Artinya, setiap muslim yang bertakwa tidak akan malas untuk menuntut ilmu. Ia akan torehkan semangat dalam dirinya untuk terus belajar, belajar dan belajar. Karena hakikatnya, menuntut ilmu adalah fardhu bagi setiap muslim. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.: ”Mencari Ilmu adalah wajib bagi setiap muslim.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Ady dan Thabrani dalam kitab Al-Kabiir dari Anas).

Jika RA. Kartini khatam mengkaji, Iapun pasti berbahagia menapaki jejak-jejak para syahabiyah semisal Ibunda Aisyah ra. Maka bersyukurlah kita yang hidup di era digital saat ini. Di mana terjemahan bahkan tafsir Al Quran sangat mudah kita dapati. Kisah-kisah inspiratif para syahabiyah pun bisa dengan instan kita nikmati. Lingkar-lingkar pengajian juga tidak susah dicari. Sudah selayaknya, perjuangan Kartini masa kini harus lebih bervisi. Yakni menjadikan Islam Kaffah sebagai perisai takwa dalam setiap tarikan nafasnya. Wallahua’lam***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *