Ampunan Untuk Nabi Adam di Hari Asyura

Spread the love

Oleh : Lilik Yani

#MuslimahTimes — “Satu kesalahan Nabi Adam as membutuhkan waktu ratusan tahun menangis taubat. Bagaimana dengan dosa-dosa kita? Sudah siapkah menanggung resiko ?”

********

Allah menciptakan Hawa untuk menemani dan menjadi istri Nabi Adam. Kemudian Allah memerintahkan agar Nabi Adam dan Hawa bertempat di surga. Apa saja yang ada di surga, Nabi Adam dan Hawa diperbolehkan memakannya. Hanya satu yang buahnya tidak diperbolehkan dimakan yaitu pohon khuldi (pohon tetap).

Allah berfirman : “Hai Adam, diamlah oleh kamu dan istrimu di surga ini dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik, di mana saja kamu sukai. Dan janganlah kamu dekati pohon khuldi ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (TQS Al Baqarah : 35)

Selain itu ada ayat lain yang mengkisahkan bahwa Nabi Adam tidak akan kelaparan selama di surga dan tidak mengalami kepanasan matahari.

“Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak pula akan ditimpa panas matahari di dalamnya.” (TQS Thaha : 118-119).

Di dalam surga Nabi Adam dan istrinya mendapatkan kenikmatan yang memuaskan dan tidak terbatas. Maka timbullah rasa hasud (dengki) dalam hatinya iblis. Kemudian dia berusaha bagaimana caranya agar segala nikmat Allah yang diberikan kepada Nabi Adam beserta istrinya itu bisa lenyap.

Iblis berupaya keras untuk menghilanglan nikmat surga itu secara keseluruhan dengan cara mengeluarkan Nabi Adam beserta Hawa dari surga Allah.

Kemudian iblis berjuang untuk bisa bertemu Nabi Adam dan Hawa di surga. Iblis memberikan rayuan manis dengan kata-kata yang lemah lembut penuh tipu daya dan bujuk rayu yang halus menghanyutkan.

Dan iblis berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekat pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi orang-orang yang kekal dalam surga.” (TQS al A’raf : 20)

Kemudian syetan membisikkan pikiran jahat kepadanya dengan berkata, “Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa? (TQS Thaha : 120)

Upaya syetan untuk meyakinkan Nabi Adam hingga berani  bersumpah kepada Nabi Adam dan Hawa, kalau dia bermaksud baik.

“Dan dia (syetan ) bersumpah kepada keduanya, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua.” (TQS Al A’raf : 21)

Iblis pantang menyerah untuk menggoda Nabi Adam dan Hawa. Semua jurus rayuan dikeluarkan agar bisa menaklukkan hati mereka berdua.

Kemudian Allah memberitahu kepada Nabi Adam dan Hawa bahwa sesungguhnya iblis adalah musuhnya. Karena itu janganlah sampai tertipu oleh bujuk rayu iblis.
Kemudian Kami berfirman, “Wahai Adam! Sungguh ini (iblis) musuh bagimu dan bagi istrimu, maka sekali-kali jangan sampai dia mengeluarkan kamu berdua dari surga, nanti kamu celaka.” (TQS  Thaha : 117)

Tetapi karena pandainya iblis menggoda dengan segala jurus rayuannya, hingga Nabi Adam beserta istrinya mengikuti bujuk rayu iblis. Mereka lupa kalau iblis itu musuhnya, hingga berani melanggar larangan Allah swt yaitu makan buah pohon khuldi. Seketika itu kelihatan auratnya dan mencari daun-daun di surga untuk menutupinya.

“Lalu keduanya memakannya, maka tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun yang ada di surga dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia.” ( TQS Thaha : 121)

Allah marah kepada Nabi Adam dan istrinya, karena mereka telah melanggar larangan Allah swt. Nabi Adam dan Hawa sangat menyesal atas perbuatannya yang dilarang oleh Allah swt yaitu makan buah khuldi, mengikuti bujuk rayu iblis.

Kemudian Allah mengeluarkan mereka berdua dari surga.
Allah berfirman, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagiannya akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Jika datang kepadamu petunjuk dariKu, maka ketahuilah barang siapa mengikuti petunjukKu, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”

Nabi Adam dan Hawa sangat menyesal atas perbuatan yang terlanjur dilakukannya, kemudian mereka bertaubat pada Allah dengan taubat yang sungguh-sungguh

Keduanya berkata : “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (TQS Al A’raf : 23).

Setelah turun ke bumi, semua kenikmatan surga dicabut. Nabi Adam dan Hawa merasakan lapar dan dahaga, dan harus berupaya untuk mendapatkannya. Mereka ditempatkan berbeda negeri yang jaraknya sangat jauh.

Mereka berdua berpisah jarak dan waktu, hingga ratusan tahun. Selama itu mereka selalu berdoa dan memohon ampunan atas dosa yang dilakukannya.

Mereka bertahun-tahun menangis sambil mengucapkan doa taubat sebagai tanda penyesalan yang mendalam.

Setelah beratus-ratus tahun, memanjatkan doa dan melakukan taubat tanpa putus asa. Tak lupa mereka selalu mengharap rahmat Allah, maka akhirnya Allah menerima taubat Nabi Adam dan Hawa.

Kemudian mereka dipertemukan Allah di Jabal Rahmah padang Arafah. Tempat yang akhirnya dipergunakan untuk muhasabah pada saat wukuf di Padang Arafah.
Jabal Rahmah disebut juga bukit kasih sayang, sebagai tempat bertemunya Nabi Adam dan Hawa, pada tanggal 10 Muharram hari Asyura.

Saudaraku, demikian kisah pertaubatan Nabi Adam dan Hawa. Kalau kita perhatikan, mereka melakukan satu kesalahan yaitu melanggar aturan Allah. Agar tidak mendekati pohon khuldi.

Nabi Adam dan Hawa tergoda bujuk rayu iblis, hingga berani melanggar aturan Allah. Hanya dengan satu kesalahan, mereka berdua diusir dari surga. Hanya dengan satu kesalahan, mereka harus hidup bersusah payah penuh perjuangan.

Hanya dengan satu kesalahan Nabi Adam dan Hawa harus berpisah dan melakukan pertaubatan ratusan tahun. Mereka berdua ditempatkan berpisah, tapi keduanya menangis terus sebagai bentuk penyesalan dan khawatir taubatnya tidak diterima Allah.

Bagaimana dengan kita? Seberapa banyak dosa yang kita lakukan? Seberapa sering melanggar aturan Allah? Apakah yang kita rasakan?
Sudahkah berdoa dan memohon ampunan seperti Nabi Adam dan Hawa? Jangan-jangan kita 9merasa biasa saja, padahal dosanya banyak.

Apakah kita sudah menangis terus sebagai bentuk penyesalan atas dosa-dosa yang kita lakukan, karena khawatir dosa tidak terampuni? Atau jangan-jangan masih merasa tenang-tenang saja, karena merasa hidup masih panjang. Taubat nanti saja kalau sudah tua.

Saudaraku, ingatlah kisah Nabi Adam. Untuk satu kesalahan saja, perlu ratusan tahun pertaubatan. Jadi janganlah kita merasa nyaman dengan kondisi dosa yang menumpuk. Kita tidak tahu kapan ajal tiba. Maka jangan biarkan setiap detik terlewat kecuali selalu ada istighfar, doa taubat dan  berharap rahmat Allah.

Hingga, suatu saat ketika kita harus menghadap Allah, maka kondisi kita dalam keadaan suci. Karena Allah sudah berkenan mengampuni dosa-dosa kita.

Saudaraku, untuk mengenang hari Asyura, mari kita menjalankan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram dan ditambah puasa Tasu’a tanggal 9 Muharram, untuk membedakan dengan Yahudi atau Nasrani. Semoga berkah Allah selalu menyertai kita semua.
In syaa Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *