Bagaimana Pengaturan Transportasi dalam Islam?

Spread the love

 

Oleh: Al Ihya Yunus Putri, S.Sos
(Anggota Komunitas Muslimah Jambi Menulis)

 

MuslimahTimes— Belum lama ini di bidang penerbangan Indonesia, secara mengejutkan terjadi kenaikan harga tiket pesawat dan kebijakan bagasi berbayar. Tentu hal ini banyak mengundang perhatian dari berbagai pihak. Pasalnya penggunaan tranportasi pesawat dapat dikatakan sudah menjadi kebutuhan sebagian besar masyarakat di Indonesia, baik untuk keperluan pribadi maupun keperluan terkait pekerjaan.

Meski awalnya kebijakan penetapan tarif diklaim oleh maskapai akan disesuaikan dengan daya beli masyarakat dan tetap memerhatikan kelangsungan usaha, namun, klaim ini berbeda dengan kenyataan di lapangan. Banyak masyarakat yang mengeluhkan soal harga tiket pesawat terutama untuk rute domestik. Aksi protes terhadap mahalnya tiket pesawat domestik pun menggema, salah satunya dengan menggalang sebuah petisi. Melalui laman change.org, seorang warga bernama Iskandar Zulkarnain membuat petisi yang ditujukan kepada Presiden Joko Widodo, Menteri Perhubungan Budi Karya, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Direktur Utama Garuda Indonesia, CEO Garuda Indonesia, dan CEO Lion Air. Hingga kini, petisi yang digagas oleh Iskandar Zulkarnain tersebut telah ditandatangani lebih dari 16.000 orang, dari target 25.000 tandatangan. (sumber:detik.com).

Lalu, Dilansir dari laman Batam.tribunnews.com ternyata penyebab lonjakan tiket pesawat disumbang dari harga avtur yang dijual Pertamina lebih mahal dari yang dijual di Singapura. Harga Avtur memengaruhi 25 persen hingga 40 persen dari harga tiket pesawat. Presiden langsung menginstruksikan menteri terkait mengevaluasi harga avtur. Ketika ditanya apakah target kepada menterinya itu, presiden mengatakan yang terpenting kalkulasi harus dilakukan terlebih dahulu.

Selain itu, kementrian perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara telah mengadakan pertemuan dengan Indonesia National Air Carriers Association (INACA). Pertemuan itu diadakan untuk melakukan konfirmasi terkait tarif tiket penerbangan yang dikeluhkan sejumlah pihak sangat mahal, karena alami kenaikan yang tinggi. “Melalui pertemuan ini, Kemenhub menegaskan bahwa tarif maskapai yang berlaku masih sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 14 Tahun 2016 tentang Mekanisme Formulasi Perhitungan dan Penetapan Tarif Batas Atas dan Tarif Batas Bawah Penumpang Pelayanan Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri” kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Hengki Angkasawan dalam Keterangan resmi, Jumat (11/01/2019). (detik.com)

//Menjamin Kebutuhan Masyarakat adalah Tugas Negara//

Rencana presiden terkait kenaikan harga tiket pesawat yang sebagian besar dikarenakan kenaikan harga avtur yakni akan memanggil para pimpinan BUMN Migas ke istana. Menurutnya harga avtur harus sama dengan Nlnegara lain. “Ada yang namanya daya saing, competitiveness, kalau ini terus-terusan ya nanti pengaruhnya ke harga tiket pesawat” ujarnya. Tidak hanya itu, agar ada kompetisi, Jokowi juga berencana memasukkan pemain swasta untuk menjual avtur di bandara. (sumber:www.cnbcindonesia.com).

Seperti yang diketahui bahwa memang avtur yang disediakan oleh pemerintah harus diimpor dari negara lain seperti Singapura dan Korea Selatan. Hal ini disebabkan karena jumlah kilang produksi avtur di dalam negeri terbatas. Saat ini Indonesia memiliki 6 kilang. Dari 6 kilang minyak hanya 2 kilang yang memproduksi avtur, yaitu kilang minyak di Balongan dan Plaju. Agar Indonesia tidak bergantung pada impor, tentu harus ada tambahan kilang minyak baru. Namun butuh biaya tinggi yang mana masalah investasi yang cukup mahal membangun kilang baru menjadi pertimbangan pemerintah. (sumber:m.detik.com)

Lagi-lagi ini adalah konsekuensi yang harus diterima dari penerapan ekonomi neoliberal. Yang mana mendudukan negara dan pengusaha sebagai perpanjangan tangan kepentingan kapitalis. Tugas negara semeserinya adalah menjamin pemenuhan kebutuhan rakyatnya. Memenuhi kebutuhan rakyat dalam hal ini bukan berarti rakyat tinggal ongkang-ongkang kaki saja di rumah lalu negara menjamin kebutuhannya secara sepenuhnya, tentu tidak.

Namun dalam hal ini, negara menjamin bahwa rakyat terpenuhi kebutuhnnya dengan cara memperoleh apa yang ia butuhkan secara mudah. Yang tentu berbeda dengan hari ini, rakyat seperti anak ayam kehilangan induknya. Mengais sendiri kebutuhan yang diperlukan bahkan tak jarang dengan melakukan berbagai cara yang justru merugikan dirinya ataupun orang lain. Kebijakan yang dibuat oleh negara seharusnya disiasati untuk kesejahteraan rakyat bukan malah memeras rakyat. Karena negara bertugas mengurus rakyat, bukan seperti hubungan penjual dan pembeli yang atas dasar keuntungan.

//Transportasi dalam Islam//

Indonesia dengan sumber daya alam melimpah, maka bukan mustahil jika Indonesia bisa menjadi negara yang mandiri. Dengan pengaturan yang benar, maka akan menghasilkan produk yang benar. Islam sebagai agama yang sempurna dan paripurna tentulah memiliki aturan dalam segala bidang termasuk perihal transportasi. Lalu bagaimana pengaturan transportasi dalam Islam?

Berikut dikutip dari tulisan Dr. Fahmi Amhar, bahwa pertama, prinsip bahwa pembangunan infrastruktur adalah tanggungjawab negara, bukan cuma karena sifatnya yang menjadi tempat lalu lalang manusia, tetapi juga terlalu mahal dan rumit untuk diserahkan ke investor swasta.

Kedua, prinsip bahwa perencanaan wilayah yang baik akan mengurangi kebutuhan transportasi.  Ketika Baghdad dibangun sebagai ibu kota, setiap bagian kota direncanakan hanya untuk jumlah penduduk tertentu, dan di situ dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir, hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.  Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah juga tidak ketinggalan.  Sebagian besar warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta untuk menuntut ilmu atau bekerja, karena semua dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar.

Ketiga, negara membangun infrastruktur publik dengan standar teknologi terakhir yang dimiliki. Teknologi yang ada termasuk teknologi navigasi, telekomunikasi, fisik jalan hingga alat transportasinya itu sendiri.

Sedangka. untuk kendaraannya sendiri, sesuai teknologi saat itu, kaum muslimin telah menggunakan jenis kuda dan unta yang makin kuat menempuh perjalanan.  Untuk di laut mereka juga banyak mengembangkan teknologi kapal. Tipe kapal yang ada mulai dari perahu cadik kecil hingga kapal dagang berkapasitas di atas 1000 ton dan kapal perang untuk 1500 orang.  Pada abad 10 M, al-Muqaddasi mendaftar nama beberapa lusin kapal, ditambah dengan jenis-jenis yang digunakan pada abad-abad sesudahnya.

Bahkan untuk transportasi udarapun ilmuwan muslim sudah memikirkan.  Abbas Ibnu Firnas (810-887 M) dari Spanyol melakukan serangkaian percobaan untuk terbang, seribu tahun lebih awal dari Wright bersaudara, sampai Sejarawan Phillip K. Hitti menulis dalam History of the Arabs, “Ibn Firnas was the first man in history to make a scientific attempt at flying.”

Yang menarik, hingga abad 19 Khilafah Utsmaniyah masih konsisten mengembangkan infrastruktur transportasi ini.  Saat kereta api ditemukan di Jerman, segera ada keputusan Khalifah untuk membangun jalur kereta api dengan tujuan utama memperlancar perjalanan haji.  Tahun 1900 M Sultan Abdul Hamid II mencanangkan proyek “Hejaz Railway”.  Jalur kereta ini terbentang dari Istanbul ibu kota Khilafah hingga Mekkah, melewati Damaskus, Jerusalem dan Madinah.  Di Damaskus jalur ini terhubung dengan “Baghdad Railway”, yang rencananya akan terus ke timur menghubungkan seluruh negeri Islam lainnya.  Proyek ini diumumkan ke seluruh dunia Islam, dan umat berduyun-duyun berwakaf.  Kalau ini selesai, pergerakan pasukan khilafah untuk mempertahankan berbagai negeri Islam yang terancam penjajah juga sangat menghemat waktu.  Dari Istanbul ke Makkah yang semula 40 hari perjalanan tinggal menjadi 5 hari! Rel kereta ini mencapai Madinah pada 1 September 1908.  Pada 1913, stasiun “Hejaz Train” di Damaskus telah dibuka dengan perjalanan perdana ke Madinah sepanjang 1300 Km.  Namun penguasa Arab yang saat itu sudah memberontak terhadap Khilafah karena provokasi Inggris melihat keberadaan jalur kereta ini sebagai ancaman.  Maka jalur ini sering disabotase, dan pasukan Khilafah tidak benar-benar sanggup menjaga keamanannya. Perang Dunia-I mengakhiri semuanya.  Tak cuma Khilafah yang bubar, jalur kereta itupun juga berakhir.  Kini KA itu tinggal beroperasi sampai perbatasan Jordania – Saudi.

Maka sudah saatnya kita mencampakkan sistem ekonomi neoliberal yang kian menyengsarakan dan kembali kepada Islam, menerapkannya dalam segala lini kehidupan. agar Islam Rahmatan lil’Alamin dapat terwujud di negeri yang kita cintai ini. Wallahu’alam.

(Visited 36 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *