Belajar Warna Kepribadian Hindari Perceraian

Spread the love

Oleh : Afrizal Agustina

#MuslimahTimes — “Ditepuk air didulang, terpercik ke muka sendiri.” Artinya, melakukan aktivitas namun merugikan diri sendiri. Peribahasa ini bisa menjadi gambaran akan banyaknya kesalahan-kesalahan yang terjadi akibat keputusan yang diambil oleh seseorang. Tidak hanya pada individu saja sebenarnya, akan tetapi masyarakat dan peran sistem yang diterapkan dalam kehidupan. Saling keterkaitan ketiganya sangatlah kuat. Sehingga tidak bisa menyalahkan satu pihak individu saja. Peran penting sebuah sistem di suatu negeri adalah efek terbesar munculnya berbagai macam persoalan yang muncul.

Ambil satu contoh saja adalah persoalan perceraian di masa pandemi yang kian bertambah angkanya. Perceraian saat ini merupakan polemik yang kian membuat miris.

Ambil contoh kasus di sebuah kota kecil di Ngawi. Mengutip dari SuaraIndonesia.co.id bahwa kasus perceraian Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkup pemerintah Kabupaten Ngawi selama tahun 2020 mengalami peningkatan di banding tahun 2019.

Tercatat total ada 41 kasus, dengan rincian yang menggunakan surat ijin cerai 16 orang (untuk ASN yang menggugat cerai), dengan surat keterangan cerai 8 orang (untuk ASN yang digugat cerai), kemudian yang telah melalui pembinaan dan rujuk kembali 1 orang, yang dalam proses pengajuan kepada Bupati Ngawi 4 orang, dan yang masih dibina untuk dapatnya rujuk kembali sejumlah 12 orang.

Demikian kutipan berita di sebuah kota kecil. Ini baru sala satu kota dan di situ belum seberapa padat penduduknya. Belum lagi kasus-kasus perceraian di kota-kota lain. Bahkan, tidak sedikit yang pasangan-pasangan yang telah berpisah, memilih untuk menjadi singel parents. Sayang, memang.

Menguak Penyebab Perceraian

Dalam banyak kasus ketidak cocokan antara suami-istri memang menjadi alasan utama, setelah alasan ekonomi. Namun, kuatnya arus pergaulan bebas (tanpa bebas) juga menjadi pemicu atas munculnya titik api yang menyulut keretakan rumah tangga. Seperti perselingkuhan, pelakor maupun pebinor yang telah merasuk menjadi sebuah tindakan yang “wajar.” Sungguh miris memang.

Tak sedikit dari ketidak cocokan ini menjadikan berbagai macam alasan untuk mengakhiri bahtera rumah tangganya. Cek-cok, adu mulut hingga kekerasan dalam rumah tangga tak lagi bisa dihindari. Dan anggapan perceraian adalah solusi menjadi satu tindakan yang dibenarkan. Padahal, efek buruk dari perceraian ini lebih merugikan banyak pihak.

Berbeda jauh ketika dua orang individu ini hendak menikah. Mereka seolah mencari kecocokan diatara keduanya. Mulai dari hal-hal sepele hingga hal-hal prinsip. Dari kesamaan-kesamaan pasangan laki-laki dan perempuan itu, akhirnya memutuskan untuk menikah.

Dan di tengah perjalanan kehidupan rumah tangga, muncullah persoalan-persoalan pelik yang seolah tidak bisa diselesaikan, menemui jalan buntu dari ketidak cocokan itu dan seolah hal yang “mutlak” menjadi pertimbangan sebuah keputusan besar, yaitu perceraian. Astagfirullah, nauzubillah.

Mengulik Sedikit Hal-hal yang Memantik Persoalan dalam Rumah Tangga

Jika ditilik lebih mendalam, pasangan suami istri memanglah bukan dua individu yang sama dan ini mutlak sudah kodrat manusia. Tidak ada satupun dua individu yang memiliki kesamaan (persis) di dunia ini meskipun mereka adalah saudara kembar. Berbeda itu adalah qadha’Nya.

Apalagi, pria dan wanita memang beda. Hal ini akan wajar terjadi. Dan biasanya tidak disadari oleh setiap pasangan. Hal-hal sepele seolah menjadi hal-hal penting yang harus diperdebatkan. Lambat laun, hubungan akan hambar dan bisa saja perbedaan itu memunculkan perdebatan yang panjang lama. Wajar jika luntur rasa percaya, cinta dan kasih sayang.

Bisa diawali dari masing-masing punya kesibukan yang harus ditunaikan. Kebersamaan hanya sebatas “lalu lalang biasa” atau rutinitas sehari-hari yang harus ditunaikan. Aktivitas suami istri hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Ini akan menggejala menjadi aktivitas keseharian yang “hambar.”

Hambarnya hubungan ditambah dengan minimnya komunikasi antara suami istri. Masing-masing punya alasan untuk tidak saling bertegur sapa. Entah karena egoisme (naluri mempertahankan diri), ada orang lain yang lebih nyaman diajak komunikasi atau alasan lain yang akhirnya membuat mereka menjadi individualis di rumah sendiri.

Setelahnya, muncullah kebosanan dan dorongan untuk berpisah. Alasan-alasan yang ringan hingga alasan kuat menjadi bermunculan. Merasa paling benar dan merasa paling memiliki kemampuan untuk melakukan apa saja. Merasa paling menderita hingga merasa paling tersakiti. Dan, pilihan terakhir adalah meja pengadilan. Bercerai.

Belajar Perbedaan Teori Kepribadian Manusia dalam Buku Surrounded by Idiots (Thomas Erikson)

Perbedaan, menjadi alasan utama mengapa suami istri memilih jalan perceraian. Memang, dari masing-masing individu memiliki kepribadian yang berbeda. Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu atau keduanya tidak bisa saling mengendalikan diri dan menyelesaikan persoalan dalam rumah tangganya. Perbedaan kepribadian yang seharusnya dipahami oleh kedua belah pihak bisa saja luput dari perhatian.

Ada empat kepribadian yang dijelaskan oleh Thomas Erikson. Yaitu Red, Yellow, Green dan Blue.

  1. Red dalam kepribadiannya

Orang Merah adalah individu yang dinamis dan bersemangat. Dia memiliki tujuan dalam hidup yang mungkin sulit dibayangkan oleh orang lain. Karena tujuannya sangat ambisius, pencapaiannya tampaknya mustahil. The Reds berjuang maju, selalu mendorong diri mereka sendiri lebih keras, dan mereka hampir tidak pernah menyerah. Keyakinan mereka pada kemampuan mereka sendiri tidak tertandingi.

  1. Yellow dalam Kepribadiannya

Yellow Behavior: How to Recognize Someone Whose Head Is in the Clouds and Get Him Back to Reality Again“That Sounds Fun! Let Me Do It!”

Dalam terminologi Hippocrates, kita sekarang telah sampai pada pribadi yang disebut optimis (sanguine). Kata-kata apa yang bisa digunakan untuk menggambarkan dia? Optimis dan ceria. Seseorang dengan pandangan hidup yang cerah. Inilah orang-orang yang selalu menemukan peluang untuk kesenangan. Mereka didorong oleh kegembiraan dan tawa. Dan kenapa tidak? Matahari selalu bersinar di suatu tempat.

  1. Green dalam Kepribadiannya

Green Behavior: Why Change Is So Difficult and How to Get Around It“How Are We Going to Do This? It’s Not Urgent, Right?”

Orang Hijau yang paling umum.

Anda akan bertemu dengannya hampir di mana saja. Apa cara termudah untuk menjelaskan siapa dia? Dia adalah rata-rata dari semua warna lainnya.Reds adalah pemimpin agresif, Yellows adalah orang-orang yang kreatif dan bersemangat, dan Blues perfeksionis, Hijau adalah yang paling seimbang. Mereka mengimbangi sifat-sifat perilaku yang lebih ekstrim lainnya dengan cara yang elegan. Hippocrates menyebut mereka orang apatis (phlegmatic).

  1. Blue dalam Kepribadiannya

Blue Behavior: In Pursuit of Perfection

“Why Are We Doing This? What’s the Science Behind It?”

Yang terakhir dari empat warna adalah warna yang menarik. Anda mungkin pernah bertemu dengannya. Dia tidak pernah meributkan dirinya sendiri, tetapi dia selalu mengawasi apa yang terjadi di sekitarnya. Sementara Hijau hanya akan mengikuti arus, Biru memiliki semua jawaban yang benar. Di balik layar, dia menganalisis, mengklasifikasikan, mengevaluasi, menilai. Anda tahu bahwa Anda pernah bertemu dengan Blue jika Anda mengunjungi rumah seseorang dan semuanya diatur dengan cara tertentu.

Jika belajar dari sisi kepribadian di atas, memang masing-masing individu tidaklah sama. Memang tidak mutlak pula seseorang berada di satu warna, akan tetapi ada kecenderungan pada salah satu warnanya. Dan itu semua, bisa dijadikan pembelajaran bahwa masing-masing individu harus memiliki rasa “bisa menerima” (legowo).

Perbedaan yang muncul adalah sebuah kewajaran. Perbedaan bisa menjadi pelengkap satu sama lain. Ibarat sebuah puzzle yang saling melengkapi sebuah bentuk, pemandangan atau apa saja yang pada akhirnya memunculkan suatu hal yang enak dipandang mata. Demikian pula untuk urusan rumah tangga. Yang berbeda hendaknya menjadi pewarna yang indah. Menjadi pelangi yang indah dipandang mata.

Syetan dan iblis itu pinter dalam menggoyang bahtera rumah tangga. Hanya dengan sedikit beda, dengan sedikit kesalahan, mereka bisa masuk ke sana dan membuatnya menjadi masalah besar.

Mereka selalu mencari celah dari hal-hal sepele yang luput dari perhatian.

“Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah berpisah (talak) dengan istrinya.’ Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.” (HR. Muslim)