Berakhirnya Era Kegelapan Awal Bangkitnya Era Kegemilangan

Spread the love

Penulis : Dina Evalina
(Aktivis Dakwah)

 

MuslimahTimes– Dalam kancah Internasional, dunia ini dikuasai oleh negara adidaya. Dimana kebijakan-kebijakan yang ada di berbagai negara tak lepas dari campur tangan Negera tersebut. Saat ini Amerika Serikat menduduki posisi sebagai negara adidaya dengan ideologi Sekuler-kapitalisnya. Untuk mempertahankan kedudukannya sebagai negara adidaya maka strategi-strategi politik internasional, salah satunya dengan penjajahan begitu apik mereka lakukan. Sehingga negeri Paman Sam ini mampu bertahan pada posisi paling atas selama hampir satu abad.

Saat runtuhnya Uni Soviet dengan ideologi Sosialis-Komunisnya, belum ada negara yang mampu menyamai kedudukan Amerika di hadapan dunia Internasional. Namun Amerika sendiri belum bisa bernafas lega, karena negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa, selain itu ada Rusia, Cina, India, Brazil, Inggris tak kan tinggal diam melihat Amerika dengan kepongahanya menduduki posisi Negara adikuasa.
Seperti halnya Cina, Cina merupakan negara adidaya tetapi hanya di dalam wilayah regionalnya. Artinya, Cina dapat disifati sebagai negara adidaya regional. Karena itu, pengaruh Cina terhadap permasalahan Internasional adalah pengaruh yang lemah, kecuali di wilayah regionalnya.
Namun saat ini, negeri Tirai bambu mulai melebarkan sayapnya ke kancah internasional lewat jalur ekonomi. Majunya perdagangan Cina di percaturan dunia menjadi ancaman yang serius untuk Amerika, terlebih investasi-investasi dengan dana yang besar sudah dilakukan Cina ke berbagai negara-negara berkembang maupun negara yang berkonflik. Kita tahu Cina menganut Sistem Komunis, akan tetapi dari segi ekonomi Cina mulai mengambil paham Kapitalis. Hal ini telihat bagaimana Cina ingin menancapkan hegemoninya dengan hutang-hutang yang diberikanya ke berbagai negara, seperti proyek One Belt One Road (OBOR) untuk menguasai 60 negara lebih di Asia, Timur Tengah, Eropa, dan Afrika.

Dilansir dalam CNBC Indonesia, Cina dikabarkan menggelontorkan dana sebesar US$150 miliar atau setara Rp 2.137,6 triliun per tahun. Dana itu bisa dipinjam negara peserta program tersebut untuk membangun infrastruktur mereka. Cina dengan mudah memberikan pinjaman ke berbagai negara, bahkan negara yang sedang berkonflik seperti Afganistan, Irak, Yaman, yang notabenenya negara-negara tersebut mengalami krisis ekonomi dan membutuhkan dana.
Bukan masalah besar bagi Cina jika negara yang berhutang tak dapat membayar pinjaman yang telah disepakati. Karena Mega proyek yang digalakkan Cina bertujuan lebih dari sekedar ambisi ekonomi, tetapi jauh dari itu Cina ingin menancapkan pengaruh-pengaruh politik di berbagai negara yang menjadi targetnya. Maka, jika sebuah negara tak mampu melunasi hutang dengan Cina, Cina akan mengambil alih Infrastruktur yang dibuat negara tersebut dari hasil pinjaman kepada Cina. Seperti Sri Lanka yang harus melepas Pelabuhan Hambatota. Sehingga kelak, Cina akan lebih leluasa masuk ke negara tersebut, kemudian mencampuri pembentukan kebijakan-kebijakan.

Menjadi Negara Superpower harus memiliki kekuatan dari segi ekonomi, memilik pengaruh politik Internasional serta benteng pertahanan militer yang unggul. Dalam hal teknologi dan perdagangan, Cina mampu bersaing dengan Amerika, distribusi serta logistik Cina mampu selangkah lebih unggul dari Amerika. Cina bahkan mampu menciptakan layanan jejaring sosial untuk negerinya sendiri.
Di Amerika, tingkat ketergantungan terhadap produk Cina lumayan tinggi sekitar 40 %. Menurut prediksi oleh Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve, Jerome Powell, memperkirakan ekonomi Amerika akan melambat dengan tajam di 2019 sementara inflasi akan bergerak semakin lemah. The Fed memperkirakan ekonomi terbesar di dunia itu hnay akan tumbuh 2,1 persen tahun ini. Angka ini jauh dari capaian tahun lalu sekitar 3 persen. Selain itu juga angka pengangguran 2019 ada di kisaran 3,7 persen atau sedikit lebih tinggi dibandingkan prediksi yang dibuat beberapa bulan yang lalu.
Proyeksi The Fed kemudian diperkuat oleh sebuah Survey yang dirilis oleh Asosiasi Nasional Ekonomi Bisnis (National Association of Business Economics/ NABE) menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Amerika diukur dengan produk domestik bruto (PDB) riil, diproyeksikan melambat 2,4 persen pada 2019 dan semakin melambat menjadi 2,0 persen pada 2020.

Walaupun dari segi ekonomi bahkan pengaruh Amerika terhadap dunia kian menurun, hanya saja dari segi Militer Amerika masih berada di posisi teratas. Cina perlu usaha yang lebih keras menyaingi kekuatan militer Amerika jika ingin merebut posisi negara adidaya pertama.
Tekanan besar dari Cina, semakin Amerika rasakan melihat perkembangan ekonomi Cina Yang meningkat. Memutuskan untuk mengibarkan bendera perang militer dengan Cina pun terlihat beresiko lantaran lemahnya ekonomi di Amerika. Karena perlu dana yang besar untuk membiayai perang. Terlebih Cina yang memiliki jalur sutra dari OBOR yang dibuat dan dati proyek ini Cina dapat mengambil alih pelabuhan, bandara, dari negara yang gagal membayar hutang kepada Cina, membuat Cina akan lebih mudah menggerakkan militernya serta berkoalisi dengan para militer negara-negara yang terikat hutang denganya.
Di sisi lain, proyek-proyek yang dilakukan Cina dengan gaya ekonomi kapitalis menguntungkan Amerika. Dengan hal itu, ideologi yang juga selama ini Amerika emban semakin kokoh di berbagai negara jajahanya. Terutama untuk mengamankan wilayah Asia dan Eropa. Sehingga ada kemungkinan bukan perang militer yang diputuskan Amerika tetapi kerjasama dalam menguasai dunia untuk waktu yang lama secara bersama-sama.

Sebagai seorang Muslim, seharusnya kita tak pernah ridho dengan berkuasanya orang-orang kafir atas diri kita. Siapapun yang mampu berada di posisi sebagai negara adidaya, selama yang berkuasa itu mengemban ideologi yang salah seperti sekuler-kapitalis atau pun sosialis-komunis, maka takkan mampu menciptakan tatanan dunia yang ideal yang dapat memberikan kesejahteraan umat manusia. Sebaliknya negara adidaya dengan ideologi yang rusak tersebut akan selalu mencengkeram negara-negara di bawah kendalinya dalam istilah penjajahan secara pemikiran maupun fisik. Dari sana mereka akan menghisap kekayaan-kekayaan alam serta sumber daya manusianya untuk bekerja memenuhi kepentingan mereka.
Kaum Muslim memiliki Janji dari Allah SWT serta bisyaroh dari Rasulullah SAW berupa kembalinya kejayaan Islam dalam bingkai Khilafah. Rasulullah SAW bersabda : ” …kemudian akan ada khilafah yang mengikuti tuntunan kenabian. Setelah itu, beliau diam.” (HR. Ahmad).

Era kejayaan Khilafah yang dulu pernah menguasai hingga 2/3 dunia selama lebih dari 1300 tahun lamanya, mendapat gelar sebagai negara adidaya, mampu menaklukkan dua imperium besar Persia dan Romawi akan segera kembali. Negara yang menggentarkan musuh-musuh Islam. Mampu mewujudkan kesejahteraan, keadilan, keamanan umat manusia. Muslim maupun orang-orang kafir yang hidup dalam lindungan Daulah Khilafah.

Mengacu pada hadits tersebut, setelah negara-negara yang berkuasa dengan kesombonganya saat ini runtuh, bahkan kehancurannya pun semakin terlihat dengan adanya konflik-konflik yang terjadi antar mereka, terlihat bahwa saat ini perekonomian yang mereka kelola dengan sistem yang rusak mulai menghancurkan diri mereka sendiri, terlihat pula bagaimana saat ini umat semakin sadar bahwa sistem yang mengatur mereka selama ini ternyata tak dapat mewujudkan apa yang mereka harapkan seperti kesejahteraan, keadilan, serta keamanan.

Geliat kebangkitan umat menuju era khilafah yang kedua inilah sejatinya ancaman terbesar bagi negara-negara yang berkuasa saat ini. Bangkitnya ideologi Islam dalam naungan Khilafah mendapat perlawanan sengit tak hanya oleh satu negara tetapi dari berbagai negara yang mengemban ideologi Sekuler-Kapitalis. Bahkan Pada Desember 2004, Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (Nationa Inteligent Council/NIC) membuat dokumen bertajuk Mapping The Global Future yang meramal masa depan dunia di tahun 2020, salah satunya mereka meramalkan bangkitnya kembali Khilafah Islamiyah.
Berakhirnya era kegelapan akan segera terwujud, yang artinya dimulainya era kegemilang Islam. Ideologi Islam akan diterapkan secara kaffah dalam Daulah Khilafah. Walaupun pada awalnya Khilafah yang kedua memiliki wilayah yang belum sebanding dengan negara-negara adidaya saat ini. Namun dengan pertolongan Allah serta penerapan sistem-sistem dari Sang Maha Sempurna maka kekuasaan Islam akan melingkupi dari barat hingga timur seperti yang Allah janjikan.

Dulu pada masa Rasulullah SAW, Daulah Islam pertama berdiri di Madinah dengan wilayah yang kecil, yang pada akhirnya sepeninggal Rasulullah dilanjutkan kepemerintahan Islam itu oleh para Khalifah dengan Istiqomah menerapkan Sistem Islam dalam tatanan aturan negaranya. Kekhilafahan mampu menguasai lebih dari setengah dunia.

Maka untuk mewujudkan kembali Khilafah, sebagai pengemban dakwah tak ada kata untuk mengendurkan perjuangan. Semakin giat dan bersemangat menyampaikan ke pada umat akan bobroknya sistem saat ini dan memberikan solusi Sistem Islam secara rinci dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Menyampaikan kepada umat bahwa negara adidaya saat ini sudah menuju ajalnya, hingga pertolongan Allah kelak datang yang menghancur leburkan era kegelapan ini dengan memberikan nikmat kepada kita dengan dimulainya era kegemilangan Islam berupa tegaknya Khilafah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *