Bercanda Sesuai Syariat

Spread the love

Oleh. Kurnia Asih Agostin

Belakangan ini kata bullying menjadi familiar di telinga kita. Terutama di kalangan anak anak dan remaja di sekolah. Bullying juga marak terjadi di media sosial.

Pada awalnya bullying terjadi bukan karena kemarahan, atau karena adanya konflik yang harus diselesaikan. Kebanyakan bullying berawal dari hanya sekedar mencari kesenangan untuk lucu lucuan, menarik perhatian teman yang lain, atau berawal dari sekedar candaan. Kemudian dari sana muncullah perlakuan merendahkan, menghina, dan menjadikan kekurangan orang lain sebagai objeknya. Lalu pada tahap selanjutnya mengarah kepada kekerasan fisik dengan perasaan superior merasa lebih hebat dari yang lain sehingga merasa mampu untuk menyakiti atau mengendalikan orang lain yang dianggap lemah, rendah, tidak berharga, dan tidak layak untuk mendapatkan rasa hormat tersebut. Inilah yang di sebut dengan bullying.

Pandangan Islam tentang Bullying

Islam sangat jelas melarang keras dan sangat tidak menganjurkan perilaku merendahkan orang lain apalagi sampai mengarah kepada kekerasan. Hal ini sebagaimana penjelasan dalam firman Allah swt surat Al-Hujurat ayat 11:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
(Q.S. Al-Hujurat: 11)

Mencari kesenangan dan lucu-lucuan tidak dilarang dalam Islam , Baginda Rasulullah SAW teladan kita pun senang bercanda dan membuat sahabatnya tertawa. Namun beliau adalah orang yang begitu santun sekalipun dalam bercanda bahkan candaan beliau adalah candaan yang membuat para sahabat merasa tersanjung dengan candaan tersebut.
Sebagaimana salah satu contoh candaan Rasulullah dengan salahsatu sahabatnya sebagai berikut :

Suatu ketika Rasulullah Saw. mendatangi seseorang yang bernama Zahir bin Hizam atau Haram yang saat itu tengah menjual barang dagangannya. Zahiradalah sahabat yang bertubuh mungil namun Rasul Saw.menyukainya. Tiba-tiba Rasulullah Saw. mendekapnya dari belakang dan Zahir tidak mengetahuinya. “Lepaskan! Siapa ini?” tanya Zahir. Lalu ia menoleh ke belakang dan mengetahui bahwa yang mendekapnya adalah Rasuli Saw. Seketika itu ia tidak lagi melawan dan membiarkan punggungnya menempel dengan dada Rasul.

Ketika sadar bahwa Zahir telah mengetahuinya, Rasul pun berseloroh, “Siapa yang mauy membeli hamba ini?” “Kalau engkau menjualku wahai Rasul, demi Allah aku tidak akan laku,” Sahut Zahir. Kemudian Rasul mengatakan, “Namun tidak di hadapan Allah, kamu adalah barang mahal yang pasti laku.” (Hadis ini diriwayatkan oleh sahabat Anas bin Malik dalam Sahih ibn Hibban, Sunan al-Bayhaqi, dan Musnad Ahmad bin Hanbal.)

Terkait hadis di atas, al-Harawi dalam Jam’ul Syamail fi Syarhil Syamail memberikan penjelasan berkenaan dengan kalimat “Siapa yang mau membeli hamba ini?” hamba yang dimaksudkan adalah hamba Allah karena semua manusia pada kenyataannya adalah hamba Allah.

Seperti itulah Rasulullah teladan kita memberikan contoh terbaik kepada kita ketika bercanda, tetap dalam kesantunan, menyanjung dan menghargai orang lain. Sehingga rasa kasih sayang di antara mereka akan selalu tumbuh dan berkembang. Bukan dengan merendahkan, menghina, atau menyakiti orang lain hanya untuk tujuan sekedar mencari kesenangan.

Allah dan RasulNya pun memerintahkan kepada kita untuk lebih memilih perkataan yang baik dan benar.

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barang siapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar” (Qs Al Ahzab : 70-71)

Wallahua’lam bi shawab

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *