Berebut ‘Kursi’ Menjadi Karakter Politik Demokrasi?

Spread the love

Oleh : Yulida Hasanah

(FORSIMA (Forum Silaturahmi Ustazah dan Muballighoh), Tinggal di Jember)

#MuslimahTimes –– Berebut ‘kursi’ tenyata tak hanya terjadi di kelas baru. Terbayang kan, bagaimana ‘serunya’ rebutan kursi yang sering dialami oleh siswa siswi di sekolah baru mereka? Tentu saja sangat seru, sebab mereka hanya berebut ‘kursi’ tempat duduk ketika belajar di kelas. Dan hal ini tidak identik dengan keserakahan, melainkan lebih tepat dikatakan sebagai euforia anak-anak sebagai pelajar di sekolah barunya.

Namun, bagaimana jika yang diperebutkan adalah ‘kursi’ bermakna jabatan? Pasti semua dari kita juga sudah tahu, jika kursi tersebut saat ini juga sedang panas-panasnya saling diperebutkan. Bukan berniat untuk menjustifikasi negatif, hanya saja gambaran perpolitikan di negeri ini seakan tak ada habisnya mengurusi masalah ‘kursi’ tersebut. Lebih-lebih setelah fix hasil pemilu diputuskan pemenangnya adalahkubupetahana, artinya Komisi Pemilihan Umum telah memutuskan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin resmi menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2024 . Golkar sebagai partai pengusung Presiden dan Wakil Presiden yang meraih suara terbesar ketiga,dengan sigap mengusulkan 4 nama untuk menduduki empat kursi menteri (Hargo.co.id).

Tak mau kalah, Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin pun datang bersama Ketua-Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKB seluruh Indonesia, mereka datang mengusulkan 10 nama (calon) menteri kepada Jokowi (Kumparan.com).

Partai Nasdem tidak ingin kalah dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang meminta jatah sepuluh menteri di pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin. Anggota Dewan Pakar Partai Nasdem, Tengku Taufiqulhadi mengatakan, pihaknya akan meminta jatah kursi menteri lebih banyak. Hal itu dikarenakan jumlah kursi Nasdem di DPR lebih banyak ketimbang PKB (Jawapos.com).

Walaupun pernyataan Anggota Dewan Pakar Partai Nasdem itu dibilang ‘guyon’, namun tidak bisa ditutupi bahwa semua partai pendukung pastilah akan menagih ‘kursi’ yang telah dijanjikan. Sebab, tak ada ceritanya, di zaman politik saat ini istilah ‘makan siang gratis’, semua ada kompensasi dari jerih payah yang sudah mereka keluarkan demi memenangkan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Fakta menagih kursi atau bahasa tertutupnya adalah mengusulkan nama-nama menteri dari partai politik pendukung di atas adalah wajar dan biasa. Tidak menjadi masalah dalam demokrasi ketika parpol berebut kursi, karena mereka adalah parpol pengusung dari pasangan pemenang kontestasi. Inilah karakter politik demokrasi, tanpa malu lagi keserakahan untuk bisa mendapatkan jatah ‘kursi’ yang notabene, ‘kursi’ tersebut adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tapi justru malah merekaperebutkan. Mengapa demikan?

Demokrasi, Politik Manusia-manusia Serakah Jabatan

Politik dalam demokrasi disebutkan sebagai kekuasaan dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan makna ini, maka bisa dikatakan rakyatlah yang menentukan ‘standart’ benar salah dalam hukum yang menjamin perkara kekuasaan tersebut. Dan ketikapun harus serakah, maka hal itu wajar menurut pandangan mereka sebagai manusia. Justru, jika keserakahan itu tidak dimiliki oleh elit politik termasuk Parpol, maka hal itu yang akan menjadikan mereka tersingkir dari arena politik demokrasi.

Jelaslah bahwa ketika manusia yang memiliki sifat serakah ini dibiarkan mengatur urusan dunianya termasuk urusan politiknya, maka keserakahan itu akan terus menjadi karakter dari hukum politik yang diambilnya. Sedangkan demokrasi adalah aturan buatan manusia, jika sistem politik ini terus diadopsi, jangan salahkan politikusnya akan menjadi politikus serakah, termasuk serakah terhadap ‘kursi’ kekuasaan.

Terlebih, manusia oleh Allah memang diciptakan memiliki sifat serakah, yakni tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki dan selalu menginginkan agar dirinya mepunyai lebih banyak dari pada yang lain. Namun, ini bukan potensi yang harus dilestarikan, melainkan wajib dijauhkan dari manusia. Butuh cara dan aturan untuk bisa menjauhkan manusia dari sifat serakahnya. Dan yang jelas, aturan tersebut bukan berasal dari manusia sendiri melainkan harus berasal dari Sang Pencipta manusia.

Politik Islam, Memuliakan Dan Menjauhkan dari Sifat Serakah Terhadap Kekuasaan

Sungguh jauh berbeda ketika berbicara kekuasaan dalam politik Islam. Kekuasaan berupa Jabatan adalah sesuatu yang begitu berat bagi seorang muslim yang beriman, dan manusia telah diingatakan oleh Rasulullah Saw, betapa kursi kekuasaan itu bukan perkara yang main-main hingga dibuat ‘guyonan’. Hal ini tergambar dari beberapa sikap Rasulullah Saw ketika Abu Musa al-Asy’ari r.a. bersama dua orang dari Bani ‘Ammi menemui beliau. Lalu, salah seorang di antaranya meminta Nabi saw agar memberikan jabatan kepada mereka, maka  Nabi saw pun bersabda,hadits no. 4821).

Senada dengan hadits di atas, Rasulullah saw berpesan pada Abdurahman bin Samurah r.a,

يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ لاَ تَسْأَلِ الإِمَارَةَ فَإِنَّكَ إِنْ أُوتِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا وَإِنْ أُوتِيتَهَا مِنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا ، وَإِذَا حَلَفْتَ عَلَى يَمِينٍ فَرَأَيْتَ غَيْرَهَا خَيْرًا مِنْهَا فَكَفِّرْ عَنْ يَمِينِكَ وَأْتِ الَّذِي هُوَ خَيْرٌ.

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, Janganlah kamu meminta jabatan, sebab jika engkau diberi (jabatan) karena meminta, kamu akan ditelantarkan, dan jika kamu diberi dengan tidak meminta, kamu akan ditolong, dan jika kamu melakukan sumpah, kemudian kamu melihat suatu yang lebih baik, bayarlah kaffarat sumpahmu dan lakukanlah yang lebih baik.” (Hadits Riwayat Al-Bukhari, Shahih al-Bukhâriy, juz VIII, hal.  159, hadits no. 6622 dan Muslim, Shahîh Muslim, juz. V, hal. 86, hadits no. 4370, dari Abdurrahman bin Samurah r.a.).

Terkait dengan itu, dalam kitab Al-Imârah, Imam Muslim meriwayatkan tentang Abu Dzar r.a. yang bertanya kepada Nabi Muhammad saw,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلُنِى قَالَ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِى ثُمَّ قَالَ « يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْىٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيهَا »

“Wahai Rasulullah, tidakkah engkau memberiku jabatan? Kemudian Rasulullah menepuk pundak Abu Dzar, lalu beliau bersabda, ”Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau itu lemah, sedangkan jabatan itu amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memerolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajiban yang diembankan kepadanya.” (Hadits Riwayat Muslim dari Abu Dzar r.a., Shahîh Muslim, juz VI, hal. 6, hadits no. 4823)

Demikianlah Islam memuliakan manusia agar menjauhi sifat serakah dalam hal jabatan/kekuasaan. Sebab, Jabatan atau kekuasaan merupakan sebuah amanah yang harus ditunaikan dan dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawabannya tidak hanya kepada yang memberi jabatan tetapi juga kepada Allah SWT. Ini sekaligus menjadi catatan penting bagi kebutuhan manusia untuk kembali pada penerapan politik Islam dalam naungan Institusi Politik, Khilafah Islamiyah.

Wallaahua’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *