Catatan Hati Putri Priyayi

Spread the love

Oleh : SITI SOFIAH

Selamat hari Ibu setiap hari untuk para Ibu HEBAT semua nya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para pahlawan wanita HEBAT di negeri ini, saya mau mengucapkan ‘Selamat Kartini’ pada bulan April (sebulan yg lalu) dimana pada tanggal 21 April kemarin adalah tanggal kelahiran beliau. Tulisan ini saya ikut sertakan First GA nya Bu Evi Indrawanto. Dan saya memilih artikel di blog nya Bu Evi Indrawanto yang berjudul Selamat Hari Kartini. 

RA Kartini dengan orang tua dan saudara2nya

(id.wikipedia)

Siapakah putri priyayi itu?

Raden Ajeng Kartini (RA. Kartini) adalah seorang putri priyayi (bangsawan Jawa) yang lahir pada tanggal 21 April 1879 di Jepara, Jawa Tengah. Beliau adalah putri pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat (Bupati Jepara) dengan M.A. Ngasirah. Beliau adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara, sampai usia 12 tahun RA. Kartini di perbolehkan sekolah di ELS (Europese Lagere School) sampai akhirnya dipingit hanya boleh tinggal di rumah saja. Dari sekolah inilah akhirnya beliau bisa berbahasa Belanda. Suatu hal yang istimewa menurut saya, karena pada saat usia seperti itu, saya belum belajar bahasa selain bahasa Indonesia di sekolah (baru lulus SD).

Aktivitas RA Kartini pada saat dipingit (diam di rumah)

Selama di rumah RA. Kartini banyak membaca karena beliau menerima leestrommel (paket majalah yang di edarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya ada surat kabar Semarang De Locomotief, majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Beliau  pun beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Di usia sebelum 20 tahun, RA Kartini sudah pernah membaca buku Max Havelaar dan Surat-surat Cinta Karya Multatuli yang pada november 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda. Sungguh prestasi yang Luar Biasa untuk ukuran seorang remaja saat itu (jaman kolonialis), saya tidak ada apa-apa nya dilihat dari kegigihan beliau untuk membaca dan menulis.

RA Kartini dan korespondensi

Keunggulan utama RA Kartini, dibanding kan dengan perempuan yang lain pada masa nya adalah tulisan tangan nya. Ya, tulisan tangan beliau membuktikan kecerdasan dan intelektualitas yang sangat tinggi untuk ukuran seorang perempuan yang hidup pada jaman penjajahan. Dengan bahasa Belanda yang dikuasai nya, RA Kartini berkorespondensi dengan teman-teman nya dari Belanda. Salah satunya, Rosa Abendanon. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang RA Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal persamaan hak antara wanita dan pria, tapi juga masalah sosial umum yang ada di sekitar nya.

Cita-cita RA Kartini sebelum menikah

Keadaan di sekeliling RA Kartini yang masih di kungkung oleh adat (Jawa), jurang perbedaan antara kalangan bangsawan dan rakyat jelata. Adat internal bangsawan sendiri membuat RA Kartini merasa kehidupan di luar (orang barat) lebih manusiawi.

Peduli apa aku dengan segala tata cara itu… Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaiman rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu…Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan”. [Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899]

Dalam suratnya yang lain, beliau juga sangat menyesali sikap Penjajah Belanda yang berhasil menanamkan rasa rendah diri kepada masyarakat pribumi. Diskriminasi yang dilakukan Belanda telah mengajarkan bahwa pribumi atau bangsa Timur adalah rendah dan bangsa Barat adalah mulia. Dan RA Kartini menyimpulkan bahwa pangkal kemunduran dan rasa rendah diri yang dialami oleh bangsa nya adalah mundur dan minimnya pendidikan yang mereka rasakan. Kaum pribumi adalah kaum terbelakang dan bodoh.Beliau merasa tertantang; untuk membenahi pendidikan di kalangan pribumi, tak terkecuali wanita. RA Kartini membuat nota yang berjudul ”Berilah Pendidikan Kepada Bangsa Jawa” kepada pemerintah kolonial. Dalam nota tersebut, beliau mengajukan kritik dan saran kepada hampir semua Departemen Pemerintah Hindia Belanda, kecuali Departemen Angkatan Laut (Marine). RA Kartini pun merasa perlu belajar ke Barat. ”Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih. [Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900]. Barat telah menjadi panutan dan kiblat RA Kartini untuk melepaskan diri dari kungkungan adat. ”Pergi ke Eropa. Itulah cita-citaku sampai nafasku yang terakhir”. [Surat Kartini kepada Stella, 12 Januari 1900].

Pertemuan RA Kartini dengan Kyai penerjemah kalamNya

Tahun-tahun terakhir sebelum RA Kartini wafat, beliau menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang bergolak di dalam pemikirannya. Ia mencoba mendalami ajaran yang dianutnya, yaitu islam. Ajaran Islam pada awalnya tak mendapat tempat di benak RA.Kartini. Hal ini dikarenakan pengalaman yang tak mengenakkan dengan Sang Ustadzah. Sang Ustadzah menolak menjelaskan makna ayat yang sedang diajarkan.

”Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikannya dengan umat agama lain. Lagi pula sebenarnya agamaku karena nenek moyangku  Islam. Bagaimana aku akan dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya?. Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan kedalam bahasa apapun. Disini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab.Disini orang diajar membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya itu. Sama saja halnya seperti engkau mengajarkan aku buku bahasa Inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah kata pun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya. Tidak jadi orang sholeh pun tidak apa-apa, asalkan jadi orang yang baik hati, bukankah begitu Stella?” [Surat Kartini kepada Stella, 6 November 1899]

 

Namun, pertemuannya dengan Kyai Haji Mohammad Sholeh bin Umar, Seorang ulama besar dari Darat, Semarang, telah merubah segalanya. RA Kartini tertarik pada terjemahan Surat Al Fatihah yang disampaikan sang Kyai. Kartinipun mendesak salah satu paman untuk menemaninya bertemu sang Kyai. Berikut petikan dialog antara RA Kartini dan Kyai Sholeh Darat.

”Kyai, perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?” Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan RA Kartini yang diajukan secara diplomatis itu. ”Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh balik bertanya. ”Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan main rasa syukur hatiku kepada Allah, namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa jawa. Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Setelah pertemuannya dengan RA Kartini, Kyai Sholeh Darat tergugah untuk menterjemahkan Al-Qur’an kedalam bahasa jawa. Pertemuan spiritual dengan Kyai Sholeh Darat ini mampu mempengaruhi pemikiran RA Kartini.

Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. “…Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin…” Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.

RA. kartini dan suami nya KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat

(id.wikipedia)

Pernikahan dan tiada di usia muda putri priyayi

RA Kartini dijodohkan oleh orang tua nya, menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah  memiliki tiga istri. Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian RA Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginannya. Dalam surat-suratnya, RA Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar beliau bisa menulis sebuah buku.

Pada hari pernikahan RA Kartini, pada tanggal 12 November 1903 Kyai Sholeh Darat menghadiahkan terjemahan Al-Qur’an (Faizhur Rohman Fit Tafsir Qur’an), jilid pertama yang terdiri  dari 13 juz, mulai dari Surat Al Fatihah sampai dengan Surat Ibrahim. Mulailah RA Kartini mempelajari Islam dalam arti yang sesungguhnya. Tapi sayang tidak lama setelah itu Kyai Sholeh Darat meninggal dunia, sehingga belum selesai diterjemahkan seluruh Al-Qur’an kedalam bahasa Jawa.

Andai saja RA Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Al-Qur’an) maka tidak mustahil jika beliau akan menerapkan semaksimal mungkin semua kandungan ajarannya.Karena RA. Kartini sangat berani untuk berbeda dengan tradisi adatnya yang sudah terlanjur mapan (priyayi). Beliau juga memiliki modal ketaatan yang tinggi terhadap ajaran Islam. Pada mulanya beliau adalah sosok paling keras menentang poligami. Tetapi setelah mengenal ajaran Islam, beliau mau menerimanya.

Suaminya mengerti keinginan beliau dan memberi kebebasan serta mendukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

“…tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa dibalik hal yang indah dalam masyarakat itu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai Peradaban?” [Surat Kartini kepada Ny. Abendanon,27 Oktober 1902]

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri dedalam tangannya: Menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.”[Surat Kartini kepada Pof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1902].

Allah, Sang Maha Hidup punya kehendak dengan takdirNya. Anak pertama dan sekaligus terakhir RA Kartini , Soesalit Djojoadhiningrat lahir pada tanggal 13 September 1904  (10 bulan setelah beliau menikah). Beberapa hari kemudian, 17 September 1904 beliau wafat. RA Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

RA Kartini bertekad untuk menjadi seorang muslimah yang baik dengan memenuhi seruan Surat Al-Baqarah ayat 257, Minazh-Zhulumaati ilan nuur (Habis Gelap Terbitlah Terang) yang berarti dari gelap kepada cahaya yang  telah mendorongnya untuk merubah diri dari pemikiran yang salah kepada  ajaran Allah. Tak berlebihan jika kita menyimpulkan bahwa tujuan RA Kartini adalah mengajak setiap wanita untuk menjadi muslimah yang memegang teguh ajaran agamanya. Wallahu A’lam bi ash-shawab.

Dan Inilah Puisi saya untuk menggambarkan sosok beliau sebagai salah satu panutan (pahlawan wanita) yang lahir di negeri ini :

Cahaya Asa Putri Priyayi

Ketika gelap menyelimuti negeri
Kolonial menjajah sesuka hati
Mencari simpati putri priyayi
Emansipasi dan gemerlap seberang negeri
Terkabar lewat korespondensi

Jatuh hati Kartini putri priyayi
Emansipasi wanita di seberang negeri
Mampu mengangkat harkat wanita pribumi
Hingga sejajar putra dan putri
Terbebas diri dan negeri dari tirani

Tetapi ada yang menggelitik hati
Kebebasan di seberang negeri berbeda dengan nurani
Sebagian Kalam Illahi terjemahan Mbah Kyai
Mampu menjawab sesuai hati yang fitri

Mina dzulumati ila nur dari gelap menuju cahaya
Itulah asa Kartini yang tiada di usia muda
Bukan kebebasan kaum nya yang di eksploitasi demi uang
Andai Kartini khatam mengaji KalamNya
Semakin nampak kodrat wanita yang sebenarnya
Diperlakukan mulia dan sholehah itulah perhiasan terindah dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *