Coreng Moreng Wajah Pendidikan Indonesia. Bagaimana Cara Memperbaikinya?

Spread the love

Oleh : Tri Silvia (Pemerhati Sosial dan Masyarakat)

Wajah pendidikan Indonesia kembali tercoreng. Belum selesai berbagai masalah yang terkait dengan sistem zonasi, kini muncul kasus memalukan yang menambah coreng moreng dunia pendidikan di Indonesia.

Sebagaimana yang diberitakan Liputan6.com (26/6/2019), bahwa telah terjadi pesta seks di sekolah yang melibatkan tiga oknum guru dan tiga siswinya. Hal itu dilakukan di ruang laboratorium sekolah. Kapolres Serang AKBP Indra Gunawan mengungkapkan bahwa tiga oknum guru SMP di Serang yang terlibat pesta seks tersebut, yang berinisial OM, DA dan AS sudah berhubungan badan berkali-kali dengan tiga siswi sejak November 2018 hingga Maret 2019 berdasarkan suka sama suka. Nahas, namun hal itu adalah fakta yang terjadi di Indonesia.

Sekolah adalah institusi pendidikan yang seharusnya mengangkat citra baik negara dan bangsa serta membawa keteladanan dan penghargaan. Namun nyatanya lembaga ini justru kini terpuruk, terhempas dengan sistem yang mengedepankan sekulerisme dan kebebasan. Guru sebagai sosok yang wajib di gugu dan ditiru, kini berubah selayaknya monster yang siap menerkam para murid dan mengambil keuntungan dari mereka. Begitupun para murid, kesan terpelajar telah lama tergerus dari mereka, berganti dengan kesan manja, nakal dan brutal. Tak sedikit kita temui video yang menunjukkan kekerasan dan pelecehan murid terhadap guru, begitupun sebaliknya. Belum lagi masalah tawuran yang tak pernah bisa dihilangkan. Bahkan sebagian besar masyarakat menganggap itu sebagai bagian dari semacam budaya.

Berbagai fakta di atas, tentunya menunjukkan kondisi dunia pendidikan yang begitu jauh dari kata ideal. Eksistensinya yang seharusnya menjadi penyokong utama perihal kepemimpinan dan prestasi, justru kini menjadi bumerang yang siap untuk menghancurkan bangsa ini. Oleh karena itu, mencari penyebab dari kondisi di atas menjadi sangat penting untuk dilakukan. Berbagai penyebab dan solusi telah diberikan oleh para pemimpin dan pemegang kuasa bangsa. Alih-alih menyelesaikan permasalahan, hal tersebut justru menambah kekacauan.

Maka dari itu, butuh pemikiran mendalam untuk mengidentifikasi masalah sebenarnya dari dunia pendidikan saat ini, sehingga solusi yang ditawarkan pun menjadi sangat berarti.

Coreng moreng dunia pendidikan hakikatnya tak lepas dari kondisi sistem yang diterapkan di negeri ini. Yakni sistem kapitalisme yang membuat para pelajar dan orang tuanya menjadikan sekolah hanya sekedar batu loncatan untuk meraih gelar dan pekerjaan yang layak. Hal tersebut telah menggeser tujuan pendidikan kepada tujuan yang bersifat komersial. Adapun turunan-turunan sistemnya pun tak kalah memengaruhi kualitas para pelajar yang ada. Sekulerisme telah membuat para pelajar jauh dari ajaran Islam, jauh dari pengajaran tentang adab, pun perilaku yang sesuai dengan syariat. Mereka menganggap berbagai peraturan yang ada hanya sebagai legalitas belaka, bahkan semboyan bahwa aturan dibuat untuk dilanggar menjadi pedoman utama mereka. Bukankah menjadi tak aneh, jika kelak para pelajar ini menganggap aturan Ilahi Robbi pun hanya sekedar kata-kata tanpa makna, yang tidak perlu diresapi dan diterapkan.

Adapun liberalisme atau kebebasan telah berhasil membuat liar para pelajar, begitupun guru. Mereka seakan terlepas dari berbagai kerangkeng aturan, dan bebas untuk melakukan apapun yang mereka inginkan. Berpegang pada HAM (Hak Asasi Manusia), mereka terus menuntut segala hal yang sebenarnya telah melampaui hak hakiki mereka. Lihatlah saat guru marah atas tingkah pelajarnya yang tidak sopan di zaman ini, maka tanpa diragukan lagi bahwa gurulah yang pasti akan disalahkan. Begitupun masalah pergaulan bebas (sebagaimana fakta pertama yang diungkapkan), mereka anggap itu sebagai hak kebebasan, sebab apa yang terjadi adalah berdasarkan suka sama suka. Alhasil, hal seperti itu baru dilaporkan saat ada salah satu pihak yang merasa dirugikan.

Kapitalisme, sekulerisme, liberalisme dan berbagai paham turunannya adalah masalah sebenarnya yang dihadapi oleh dunia pendidikan Indonesia saat ini. Oleh karena itu, memutusnya dan menggantikannya dengan sistem yang lebih baik adalah solusi wajib bagi negara. Adapun sistem yang tepat untuk menggantikannya adalah Islam. Sistem Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan, secara nyata sudah pernah diterapkan di dunia, bahkan hingga 13 abad lamanya.

Selama 13 abad tersebut, dunia Islam mengalami masa-masa kejayaan yang bahkan terjadi jauh sebelum dunia Barat. Saat dunia Barat masih berada di zaman kegelapan, dunia Islam berada di zaman keemasan dan telah melampaui kehebatan berbagai peradaban yang pernah ada di dunia.
Pada saat itu, dunia pendidikan menjadi faktor pendukung utama kemajuan Daulah Islam. Sistem terbaiknya telah melahirkan para pelajar dan pengajar yang berkualitas. Para pelajar dengan banyak karya yang dikenal bahkan membawa perubahan bagi dunia, sedikit di antaranya adalah Ibnu Sina, Al-khawarizmi, Jabir Ibn-Hayyan, Ibnu Khaldun, Al-Zahrawi, Ibnu Haitsam, dan banyak lagi yang lainnya. Begitupun para pengajar, mereka diberikan penghargaan yang setimpal atas apa yang mereka usahakan untuk murid-muridnya, sehingga setiap ilmu yang mereka ajarkan begitu maksimal sampai kepada para murid.

Sejarah telah mencatat bahwa guru dalam naungan Daulah Islam mendapatkan gaji yang sangat tinggi. Di riwayatkan dari Ibnu Abi Syaibah, dari Sadaqoh ad-Dimasyqi, dar al- Wadl-iah bin Atha, bahwasanya ada tiga orang guru di Madinah yang mengajar anak-anak dan Khalifah Umar bin Khattab memberi gaji lima belas dinar (1 dinar = 4,25 gram emas; 15 dinar = 63,75 gram emas; bila saat ini 1 gram emas Rp. 500 ribu, berarti gaji guru pada saat itu setiap bulannya sebesar 31.875.000). (VOA-Islam.com, 29/11/2017)

Luar biasa aturan pendidikan yang diterapkan dalam sistem Islam. Dengan penerapan aturannya yang mumpuni, tidak hanya para pelajar dan pengajar berkualitas yang tercipta, namun adab antara keduanya pun akan terjaga. Oleh karena itu, penggantian sistem harus segera dilakukan agar coreng moreng dunia pendidikan saat ini akan segera hilang, berganti dengan kebangkitan yang akan membawa perubahan besar bagi masyarakat dan negara. InsyaAllah.
Wallahu A’lam bis Shawab.

[Mnh]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *