Di Balik Fenomena Artis dan Prostitusi

Spread the love

Oleh. Sofia Ariyani, S.S

(Member Akademi Menulis Kreatif)

#MuslimahTimes –– Lagi, dan lagi kasus prostitusi daring menjerat artis. Masih hangat dalam ingatan pada tahun 2015 yang lalu masyarakat dihebohkan dengan terungkapnya sindikat prostitusi artis yang menyeret beberapa nama artis terkenal ibu kota. Kasus yang sama terulang kembali dengan ditangkapnya artis berinisial VA yang sedang melayani pengusaha lelaki hidung belang.

Dari TribunJateng.com, Seorang artis berinisial VA ditangkap di sebuah hotel di Surabaya, dalam upaya pembongkaran kasus prostitusi online oleh Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim. Dilansir dari Surya, informasi yang diperoleh dari kepolisian, menyebutkan, prostitusi terselubung itu melibatkan artis berinisial VA.
Wadirreskrimsus Polda Jatim, AKBP Arman Asmara Syarifuddin membenarkan anggotanya mengungkap kasus prostitusi online.

Terbongkarnya kasus prostitusi daring oleh Subdit V Siber Ditreskrimsus Polda Jatim adalah ibarat fenomena gunung es, kasus yang terbongkar saat ini baru bagian atasnya dari gunung es, yang belum terungkap mungkin lebih banyak lagi. Sejatinya aktivitas prostitusi sudah ada sejak lama hanya saja saat ini dikemas berbeda. Jika dulu prostitusi eksis di lokalisasi-lokalisasi, saat ini agar tidak mudah untuk diendus aparat penegak hukum dikemaslah melalui jaringan daring (online). Dan benar saja cara ini lebih disukai para penjaja syahwat karena tersembunyi. VA dan AV adalah segelintir pelaku yang tertangkap dan jumlah faktual ternyata lebih banyak dari yang diduga. Pengakuan dari mucikari yang kini menjadi tersangka membeberkan bahwa ia mengkoleksi 45 nama artis dan 100 nama model.

Detiknews.com melansir, Kapolda Jatim Irjen Pol Luki Hermawan menyebut ada 45 orang artis yang terlibat dalam prostitusi yang ditawarkan lewat media sosial ini. Bahkan tak hanya 45 artis, ada juga 100 model yang juga tergabung dalam jaringan tersebut.  Fakta ini terungkap dari pengakuan dua muncikari yang diamankan terkait kasus prostitusi Vanessa dan Avriellia, ES alias Endang (37) dan TN alias Tentri (28).

“Yang ES ini memang langsung berhubungan dengan oknum artis. Yang T dia yang dari model FHM, populer ini, ada 100 nama dari majalah populer, iklan, dan lain-lain,” kata Luki saat rilis di Mapolda Jatim, Senin (7/1/2019). Bahkan mereka tak hanya dapat menawarkan jasa prostitusi dari para artis atau model, tetapi juga selebgram.

Fenomena artis terjerat aktivitas prostitusi adalah kewajaran di alam sekuler ini. Sistem di mana manusia enggan diatur oleh aturan agama. Menganggap bahwa agama tak perlu mencampuri urusan duniawi. Agama cukup berada dalam masjid-masjid atau pada pengajian-pengajian.

Penutupan lokalisasi tak membuat mereka kehilangan cara mereka beralih ke prostitusi daring yang kecil kemungkinan untuk diendus masyarakat. Dan sebagian pelaku maksiat ini adalah artis, padahal artis adalah profesi seni yang mendapatkan penghasilan cukup besar. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa mau menjadi pelaku prostitusi yang biasanya aktivitas maksiat ini rentan terjadi pada masyarakat kalangan bawah?.

Tidak lain dan tidak bukan tuntutan gaya hiduplah yang mendorong mereka untuk menceburkan diri ke dalam kubangan lumpur. Belum lagi persaingan ketat antara para pelaku seni lainnya. Menjadi pekerja seni adalah pilihan yang menggiurkan bagi mereka yang ingin instan menjadi kaya. Akhirnya banyak artis-artis baru yang menggantikan seniornya. Demi keberlangsungan hidup mereka maka jalan hina pun dilaluinya.

Inilah buah dari pohon sekularisme yang rusak dan merusak. Sistem yang berasal dari akal manusia-yang notabene manusia adalah lemah-tidak akan mampu menyelesaikan problematika manusia. Sekularisme juga yang menumbuh suburkan segala kemaksiatan, pun prostitusi di dalamnya. Atmosfer persaingan hidup yang keras. Barang kebutuhan hidup serba mahal, serbuan produk-produk impor yang membuat masyarakat menjadi konsumtif akibat sistem Kapitalisme ibu dari Sekularisme-ideologi penjajah yang mencari keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan akibat sosial yang mengiringinya, ditambah pula serangan budaya asing yang merusak, dan tidak adanya peran negara yang memberikan solusi atas akibat itu semua. Sistem sekuler ini mengatur agar agama tidak perlu mencampuri urusan keduniaan. Akibatnya segala aktivitas jauh dari nilai-nilai keakhiratan, tidak peduli akan surga atau neraka.

Islam ketika menjadi sistem hidup maka ia akan menjaga umatnya dari segala kerusakan, kerusakan jasadiyah mau pun kerusakan aqidah. Penjagaan yang integritas, Islam memelihara aqidah, menjaga akal, menjaga kehormatan, jiwa, menjaga kepemilikan individu, keamanan dan negara. Islam akan memenuhi seluruh kebutuhan hidup, sandang pangan dan papan menjadi prioritas utama dalam menyejahterakan umatnya. Umat tidak akan dibiarkan begitu saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika umat sudah sejahtera maka umat tidak akan melakukan kemaksiatan. Inilah kemuliaan mabda Islam.

Wallahu’alam bishawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *