Dibalik Realita Mudik

Spread the love

Oleh: Muzsuke Abdillah

#MuslimahTimes –– Mudik, menjadi rutinitas tahunan bagi masyarakat Indonesia. Setiap hari raya tiba, masyarakat pasti berbondong-bondong untuk pulang ke kampung halamannya. Baik itu skalanya masih dalam satu kota, luar kota, luar propinsi, ataupun luar pulau. Hampir semua pelaku urbanisasi akan mempersiapkan mudik ke kampung halamannya sebelum hari raya.

Menjelang arus mudik, segala jenis transportasi baik darat, laut, maupun udara biasanya telah habis dipesan. Banyak masyarakat yang rela memesan tiket transportasi dari jauh-jauh hari, sebab jika telah mendekati lebaran, biasanya semua tiket telah habis terjual.

Ada pula fenomena melonjaknya tarif transportasi setiap mendekati lebaran. Contohnya tarif bus dan travel yang bisa naik 3 kali lipat setiap musim mudik tiba. Biasanya pelonjakan tarif ini terjadi sebab banyaknya permintaan dari konsumen tidak berimbang dengan armada yang tersedia, sehingga perusahaan mengambil keuntungan dari momen tersebut.

Meskipun fenomena harga tiket transportasi naik tiap mendekati lebaran terjadi setiap tahun, namun ada yang berbeda dengan tahun ini. Seperti harga tiket pesawat yang telah naik dari bulan-bulan sebelumnya, dan juga mahalnya tarif tol yang banyak dikeluhkan masyarakat.

Bagaimana tidak? Tarif pesawat dan tarif tol kenaikannya tidak tanggung-tanggung, hampir 2 kali lipat. Ini jelas mempengaruhi daya beli masyarakat. Kalau untuk mudik saja butuh biaya berjuta-juta, akhirnya masyarakat mulai berpikir lagi apakah jadi mudik ke kampung halaman atau terpaksa harus menunda dan tak bertemu keluarga di hari raya.

Mengenai kenaikan tarif pesawat, pernah disampaikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bahwa sebelumnya tarif pesawat cenderung murah sebab adanya persaingan harga yang tidak sehat diantara maskapai penerbangan. “Memang selama ini mereka perang tarif, begitu harganya normal seolah-seolah tinggi,” ungkapnya. (Okezone 12/1/2019)

Maka, masyarakat diminta maklum terhadap adanya penyesuaian tarif pesawat meskipun kenaikannya hampir 2 kali lipat. Sebab kata pak menhub juga, tarif pesawat yang berlaku saat ini masih dalam batas tarif yang diperbolehkan.

Padahal, mahalnya tarif pesawat juga mempengaruhi tarif ekspedisi pengiriman barang. Perusahaan-perusahaan logistik seperti POS Indonesia, JNE, J&T, dan lain-lain juga ikut menaikkan tarifnya sejak semester pertama tahun 2019. Inipun banyak dikeluhkan oleh para pelaku bisnis online sebab ongkos kirim yang mahal mempengaruhi daya beli masyarakat.

Fenomena serupa juga terjadi pada tarif tol. Seperti diketahui, tarif tol trans Jawa juga banyak dikeluhkan masyarakat baik individu, perusahaan angkatan umum, maupun perusahaan logistik yang menilai tarif tol trans jawa masih mahal. Masyarakat jadi bimbang, apakah harus menggunakan tol dengan resiko tarif mahal, atau lewat jalan biasa dengan resiko banyak jalan berlubang.

Meskipun pada momen mudik lebaran ini pemerintah memberikan diskon tarif tol sebesar 15%, namun ini tidak lantas menyelesaikan persoalan mahalnya tarif tol. Sebab diskon ini sifatnya tidak permanen, melainkan hanya pada tanggal 27, 28, dan 29 Mei untuk arus mudik. Sementara saat arus balik diberikan pada 10, 11, dan 12 Juni.

Menjadi tugas pemerintah untuk mengadakan fasilitas-fasilitas yang diperlukan oleh rakyatnya secara gratis, atau dengan tarif seminimal mungkin. Sebab fasilitas menjadi salah satu faktor penting yang mempengaruhi kehidupan rakyat.

Ketika fasilitas-fasilitas seperti transportasi, kesehatan, keamanan, dan lain-lain dikapitalisasi, maka terjadilah kesenjangan harga, sebab para kapitalis pasti ingin mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Akibatnya, fasilitas-fasilitas ini tidak dapat dirasakan oleh semua kalangan. Hanya orang-orang yang mampu membayar yang bisa menikmatinya.

Seharusnya pemerintah menilik sejarah peradaban Islam yang telah terbukti agung dan mampu menyejahterakan rakyatnya. Seorang kepala negara yang baik tidak akan membiarkan rakyatnya kesulitan. Ia pasti menjadi orang yang paling mendengarkan keluhan rakyatnya, bukan malah saling lempar jawaban seperti: tiket pesawat mahal, tanya menhub.

Sayyidina Umar ra pernah mencontohkan lewat sebuah kisah yang masyhur, tentang seorang ibu yang memasak batu sebab anak-anaknya menangis kelaparan. Umar ra mengetahui hal itu sebab beliau selalu berpatroli melihat keadaan rakyatnya secara langsung.

Dan ketika beliau mengetahuinya, beliau tidak lantas berujar “ini bukan urusan saya”, namun beliau langsung sigap membawakan sendiri karung gandum di punggungnya agar si ibu dan anak-anaknya tidak lagi kelaparan.

Atau seperti yang pernah dilakukan oleh khalifah-khalifah dari Bani Abbasiyah yang mana mereka banyak membangun fasilitas-fasilitas umum seperti masjid, perpustakaan, dan rumah sakit dengan bangunan yang paling megah di masanya. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memberikan kemudahan pada rakyat, sebab mereka betul-betul memperhatikan kesejahteraan rakyat.

Oleh karena itu, menjadi sebuah keharusan bagi pemerintah untuk mengubah mindset kenegaraannya. Kepemimpinan Kapitalis sudah terbukti tak mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi rakyat, sedangkan Islam lewat sejarah peradabannya telah berhasil mencapai kegemilangan selama berabad-abad lamanya.

Maka, mindset kenegaraan yang Islami adalah suatu solusi yang niscaya. Sebab Islam sendiri memiliki seperangkat aturan yang datangnya dari Sang Pencipta. Jika Islam diterapkan secara menyeluruh dalam konsep kenegaraan, pastilah kesejahteraan dan kemakmuran dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat.

 

 

 

 

====================================

Sumber Foto : Merdeka

(Visited 9 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *