Fitrah Ibu yang Terbelenggu

Spread the love

Oleh : Henyk Widaryanti

(Pemerhati Masalah Ibu dan Anak)

#MuslimahTimes — Sebuah lagu tentang ibu karya Ibu Soed menggambarkan tentang kasih sayang ibu. Liriknya begitu menyentuh :

Kasih ibu, kepada beta

tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi, tak harap kembali,

Bagai sang surya, menyinari dunia.

Kasih ibu memang tak pernah usang. Tak akan pudar meski dimakan usia. Cintanya tulus, bagaikan sang surya yang menyinari dunia. Ibu, adalah penjaga paling utama dari seorang anak. Namun, bagaimana jika nama baik ibu ternoda?

Dilansir oleh Jatimnow.com (8/7/19), ditemukan orok bayi usia 5-6 bulan di Sungai Lanang, Sumberejo, Sine, Ngawi, Jawa Timur. Bayi tersebut telah tiada, diduga bayi tersebut dibuang setelah dilahirkan lebih cepat. Bukan yang pertama kejadian ini terjadi. Sebelumnya telah banyak peristiwa penemuan bayi, baik meninggal ataupun masih hidup. Kasus pembuangan bayi juga terjadi Jakarta Barat (Kompas.com, 23/0719). Dan masi ada di kota-kota lainnya.

Kapitalisme Merusak Fitrah Ibu

Sebuah perbuatan yang keji. Seekor hewan saja, akan rela melindungi anaknya agar tetap hidup. Bahkan rela jika harus kehilangan nyawa. Namun, naluri ibu seakan telah pudar ketika banyak bayi dibuang. Lebih miris lagi tidak sedikit yang terbunuh. Jiwa ibu seakan tidak merasa bersalah dengan semua itu.

Kejadian ini sering kita dapati pada ibu-ibu muda yang malu melahirkan anak hasil perzinaan. Mereka menganggap anak hasil perzinaan tidak layak dipertahankan. Lebih tepatnya malu kepada masyarakat jika diketahui hamil di luar nikah. Sehingga mereka nekat melakukan hal yang tidak manusiawi.

Rusaknya rasa keibuan ini adalah akibat kapitalisme-sekuler yang melanda. Racun ini telah merasuki setiap jiwa dalam bagian keluarga. Sebuah faham yang menilai segala sesuatu sebagai kebahagiaan material, dan memisahkan antara agama dan kehidupan. Mampu mengubah cara pandang setiap manusia.

Bagi para pezina, mereka merasa puas ketika naluri seks telah tersalurkan. Kepuasan materi saja yang ingin didapat. Namun, tidak mau menanggung malu jika perbuatan itu berbuah kehamilan. Mereka beranggapan agama hanya digunakan ketika beribadah, selebihnya disesuaikan dengan pandangan manusia sendiri. Oleh sebab itu, mereka  mudah sekali membunuh anaknya tanpa takut dosa.

Keluarga “broken home” lebih rentan menghadapi masalah ini. Karena anak-anak lebih sering kehilangan panutan dalam kebaikan. Hasilnya banyak dari mereka yang memilih hidup hura-hura sebagai pelampiasan kesedihan semata. Bisa saja kelak mereka meniru kelakuan kedua orang tuanya yang tidak memberikan kasih sayang kepada anaknya.

Selain peran pendidikan rumah, pendidikan sekolah pun memiliki kedudukan penting. Sekolah sebagai tempat “penggemblengan” seharusnya mampu mendidik dan membentuk kepribadian anak. Namun, harapan itu sirna ketika sekolah hanya disibukkan dengan urusan administrasi. Bukan penanaman budi pekerti.

Tidak sampai di situ, lingkunganpun mengambil peran pendidikan. Jika seseorang lahir pada lingkungan yang bebas, acuh, dan materialistis maka bisa dipastikan remaja akan terpengaruh. Sehingga tidak menutup kemungkinan muncul remaja-remaja yang bebas, dan materialistis.

Mengembalikan Peran Ibu Sebagaimana Fitrahnya

Ibu adalah madrasah awal bagi anaknya. Di tangannya tanggung jawab mendidik anak diberikan. Ia adalah seorang pengasuh dan pengatur rumah tangga. Jika peran ini dikembalikan pada tempatnya, niscaya akan lahir generasi-generasi hebat dari pangkuannya.

Perlu sekali kita mengembalikan fitrah ibu. Membersihkan jiwa para ibu dari pemikiran kapitalis-sekuler dengan mengajak ibu mengkaji Islam. Dengan Islam fitrah ibu dapat kembali. Islam menanamkan aqidah yang kuat. Mengajarkan bahwa tugas seorang ibu adalah mendidik anak dengan kasih sayang. Bukan kebencian.

Mengaktifkan kembali peran keluarga, sekolah dan lingkungan untuk mendidik generasi. Keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah akan mampu mendidik anak menjadi baik. Ayah sebagai kepala keluarga akan memastikan seluruh kebutuhan keluarga tercukupi, baik lahir maupun batin. Ibu sebagai pengatur rumah tangga akan dengan ikhlas mendidik anak-anaknya. Hingga menyiapkan psikologis anak agar mampu beradaptasi dengan lingkungan.

Sekolah didirikan dengan tujuan membentuk generasi beriman dan bertakwa. Selain menciptakan cendikiawan, ulama yang unggul, negara menyiapkan kurikulum yang mampu membentuk laki-laki dan perempuan berjalan sesuai tuntunan syariat. Seperti menyiapkan seorang perempuan agar siap menjadi ibu dan pengatur rumah tangga ketika dewasa. Menyiapkan laki-laki agar siap memimpin keluarga, mencari nafkah hingga memimpin masyarakat ketika dewasa. Sehingga tidak akan ditemukan generasi diusia baligh masih bersifat kekanak-kanakan.

Sedang lingkungan yang terjaga dari kemaksiatan akan menjaga setiap individu melakukan kesalahan. Sekaligus menjadi pengontrol setiap individu jika melakukan kesalahan. Tidak bisa dipungkiri. Adanya sanksi tegas perlu disiapkan agar segala kewajiban berjalan sebagaimana mestinya. Misalnya, hukuman rajam atau dera bagi para pezina, hukuman ta’zir bagi orang tua yang menelantarkan anaknya.

Menciptakan suasana tenang, nyaman dan bahagia, atas dasar Islam tidak bisa kita lakukan sendirian. Bahkan tidak mampu dilakukan beberapa keluarga saja. Perlu kerjasama semua pihak. Baik keluarga, sekolah, lingkungan dan negara. Oleh karena itu, kita butuh peran negara mengatur kebijakan. Baik memperbaiki sistemnya maupun memberikan sanksi bagi para pelanggar. Sehingga, jika kondisi terjaga dengan iman dan takwa maka fitrah ibu pun akan berjalan sebagaimana mestinya.

Negara yang bisa melakukan hal ini adalah negara berdikari. Yang memiliki ideologi kuat. Tentu saja bukan negara penganut kapitalis-sekuler. Tapi negara berdasar Islam, yang menerapkan Islam Kaffah. Yakni Khilafah. Wallahu a’lam bishowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *