Gerhana Picu Gegana

Spread the love

Oleh: Shafayasmin Salsabila
(Pengasuh MCQ Sahabat Hijrah Indramayu)

Hadir pada jam Cinderella. Dini hari, gerhana mencuri perhatian masyarakat. Antusiasme mereka tak terbendung. Menikmati dan mensyukuri pesona gerhana bulan. Ramai-ramai berfoto. Mengabadikan fenomena langka ini dengan kamera. Mengapa dikatakan langka?

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan peristiwa gerhana bulan yang terjadi pada 28 Juli 2018 dini hari merupakan peristiwa langka, karena merupakan gerhana bulan total terlama pada abad ke-21.

Gerhana bulan yang bersifat total atau Gerhana Bulan Total (GBT) berlangsung selama 103 menit,
GBT kali ini merah, micro blood moon atau mini gerhana bulan. Beda dengan yang terjadi bulan Januari 2018 lalu super blood moon. Ini disebabkan karena jarak terhadap bumi jauh maka terlihat kecil. Diameter bulan sama tapi kelihatannya saja kecil atau besar. Bulan tertutup menjadi merah seperti darah. (TEMPO.CO, 27/7/2018)

Gerhana menjadi salah satu kejadian alam yang luar biasa. Apakah cukup hanya sebatas mengagumi? Atau adakah makna mendalam di balik pesonanya?

Pesan Tersirat Mini Gerhana

Tak aneh jika masyarakat nampak sumringah. Merasa sangat beruntung bisa menjadi saksi sejarah. Sebagian lain, memilih tersungkur bersujud. Melakukan salat sunah gerhana. Tentu ada alasan mengapa umat Islam dianjurkan untuk melaksanakannya.

Di masa Rasulullah Saw, gerhana bulan pernah terjadi. Total gerhana yang dialami Rasul Saw ada 5 kali. Empat gerhana masing-masing terjadi sebelum Rasul Saw. hijrah ke Madinah dan hanya satu yang terjadi setelah Rasul Saw. hijrah ke Madinah, (hamzahjohan.blogspot.com/2016/03).

Diriwayatkan oleh al-Bukhari (H.N. 986) dari Aisyah r.a. bahwa Nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah disebabkan adanya hidup atau matinya seseorang. Maka jikalau kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bersalatlah.”

Tiadalah gerhana kecuali menjadi satu bukti kekuasaan Allah. Bahwa Allah selain menciptakan juga mengatur ciptaanNya. Bulan dan matahari yang sangat besar mampu dikendalikan. Keduanya tunduk terhadap ketetapan Penciptanya.

Di sinilah akal akhirnya membawa hati kepada perasaan gegana (gelisah, galau, merana). Fenomena berbarisnya matahari, bumi dan bulan dalam satu garis, semestinya memicu kegelisahan. Rasa galau yang melanda. Bukan hanya sebatas kekaguman.

Jika akal kita berhasil menangkap pesan dari gerhana, yakni satu peringatan bahwa Allah Maha Kuasa. Maka hati mana yang tidak bergetar? Planet, bintang, satelit yang ukurannya besar melemah di bawah ketentuan Sang Pencipta. Lantas bagaimana dengan kita, manusia? Dengan tubuh yang tak jauh lebih besar dari rembulan namun kebanyakan enggan menuruti perintah Allah Ta’ala? Memilih ingkar dari ketaatan. Tidak mau terikat dengan aturanNya.

Menantang Kekalahan

Merana. Saat faktanya begitu banyak kemaksiatan dilakukan oleh para manusia. Anak Adam hobi berbuat kerusakan. Menyepelekan kewajiban dan akrab bersama dosa besar. Jika ada kesalihan, maka disimpannya hanya dalam kesendirian. Saat bermasyarakat, aturan Islam tabu untuk dibicarakan apalagi sampai diterapkan.

Padahal manusia, adalah salah satu makhluk hasil ciptaan Allah. Sikap menutup diri dari syariat (red. Aturan Allah) adalah pembangkangan. Seharusnya seorang hamba, rela menjalani hidup sesuai kehendak Penciptanya. Menjadikan ajaran Islam sebagai prinsip dalam kehidupan. Melaksanakan setiap kewajiban dan jijik saat melakukan keharaman.

Riba, zina, korupsi, pembunuhan, aborsi, mabuk, narkoba, gaul bebas adalah perkara yang dilarang. Tapi lihatlah, negeri ini begitu subur dari semua yang Allah haramkan.
Tak sadar saat menafikan ketaatan, sejatinya manusia tengah menantang Tuhannya. Kelak akan pulang dengan mendulang kekalahan. Kalah terhadap hawa nafsu yang membuat matanya menjadi buta, telinganya tuli dan hatinya mati.

Sedianya patut untuk menjadi introspeksi bersama satu ayatNya yang mulia:
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (TQS. Al-A’raf: 179)

Tak ada seorang pun yang ingin dipersamakan dengan binatang ternak. Untuk menghindarinya, mari kita gunakan hati (red. Akal), mata dan telinga untuk memikirkan ulang kejadian gerhana mini tempo hari. Dan tidaklah fenomena ini terjadi kecuali agar menjadi pelajaran berharga. Koreksi terbaik atas laku manusia. Agar kembali ingat pada hakikat Pencipta dan posisi hamba.

Kembali hidup dalam sistem terbaik buatan Allah. Menjauhi maksiat. Tunduk dan taat pada hukumNya, adalah pilihan terbaik agar terbebas dari gegana. Mari bersama melangkah dalam satu jalan yang berujung pada kemenangan, Surga.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *