Gunakan Kesyirikan Demi Hidupkan Pariwisata Tuai Bencana

Spread the love
Oleh. Ummu Zaydan

(Seorang Manager Keluarga)
#MuslimahTimes –– Negeri yang dijuluki Zamrud Khatulistiwa ini sedang berduka. Tak kurang, dua bencana alam di Lombok dan Palu serta Donggala dalam waktu yang relative tidak terlalu lama berselang, tentu menimbulkan duka mendalam bagi bangsa ini. Korban pun berjatuhan, ada yang wafat, ada yang hilang belum jelas nasibnya, ibu terpisah dari anak-anaknya, anak terpisahkan dari orangtuanya. Tak terbayang bagi kita memilukannya kondisi mereka.
Gempa yang disertai tsunami memang menjadi momok yang menakutkan, dan tentu mengingatkan bangsa ini akan peristiwa besar yang menimpa Aceh pada 2004 silam. Sebagai negeri yang berpenduduk mayoritas Muslim, sudah sewajarnya kalau peristiwa bencana seperti ini dipandang dengan sudut pandang agama. Sudut pandang aqidah.
Ada beberapa hal menarik yang bisa kita jadikan bahan renungan. Negeri ini memang dikaruniai keindahan panorama alam yang luar biasa. Dunia tidak hanya mengenal Bali sebagai objek pariwisata di negeri ini tapi ada segudang potensi lainnya yang berlimpah dari Sabang hingga Merauke. Namun yang kita sayangkan adalah, ketika pariwisata justru dijadikan ajang untuk melestarikan kesyirikan berdalih kearifan lokal.
Sebut saja Ritual adat minta berkat leluhur (Husu Matak Malirin, Husu Is no beran) yang dilakukan Suku Laka Amanas di puncak Gunung Mandeu, Desa Mandeu Raimanus, Kecamatan Raimanuk yang dinilai memiliki nilai budaya tak terhingga. ( http://kupang.tribunnews.com/2017/11/20/tradisi-ritual-adat-minta-berkat-leluhur-di-gunung-mandeu-belu-punya-daya-tarik-wisata.).
Dan hal seperti ini bukan hanya ada satu tapi ada banyak sekali mengingat betapa banyaknya adat yang tersebar di sepanjang wilayah Indonesia. Ditambah lagi dengan beberapa aktivitas kemaksiatan yang juga turut hadir dalam upaya meningkatkan pariwisata seperti maraknya minuman keras, bahkan sampai hal yang berbau prostitusi.
Ketika terjadi gempa pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra ia berkata kepada penduduk Madinah, “Wahai Manusia, apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan (dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak akan bersama kalian lagi!”
Seorang dengan ketajaman mata bashirah seperti Umar bin Khattab bisa, merasakan bahwa kemaksiatan yang dilakukan oleh para penduduk Madinah, sepeninggal Rasulullah dan Abu Bakar As-Shiddiq telah mengundang bencana.
Umar pun mengingatkan kaum Muslimin agar menjauhi maksiat dan segera kembali kepada Allah. Ia bahkan mengancam akan meninggalkan mereka jika terjadi gempa kembali. Sesungguhnya bencana merupakan ayat-ayat Allah untuk menunjukkan kuasa-Nya, jika manusia tak lagi mau peduli terhadap ayat-ayat Allah.
Dari sini patutlah kita kembali refleksi diri dan bangsa ini. Cukup sudah bencana yang terjadi menjadi peringatan bagi kita semua. Cukup sudah bagi kita untuk segera kembali pada aturan Sang Pencipta alam semesta ini. Semoga kita benar-benar bisa mencintai negeri ini dengan mensyukuri segala nikmat yang telah dikaruniai Allah agar negeri ini menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun wa rabbun ghaffur.
========================
Sumber Foto : Tribun Kupang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *