Hanya Sistem Islam yang Mencetak Guru dan Generasi Berkualitas

Spread the love

 

Oleh. Masrah, S.Pd

(Pendidik)

 

MuslimahTimes– Pendidikan dalam suatu negara sangat penting, karena dari hasil pendidikan akan menentukan kesinambungan negara ke depan. Pendidikan adalah mesin produksi yang akan mencetak generasi berkualitas yang akan menyambung estafet kepemimpinan berikutnya. Pendidikan yang bagus akan membentuk calon-calon pemimpin masa depan yang berkarakter kuat dan menjadi problem solver serta memiliki skill dalam menjalani kehidupan. Bukan hanya generasi yang mampu mengumpulakan pundi-pundi uang tetapi tidak peduli lingkungan sekitarnya.

Lahirnya generasi yang berkualitas adalah impian setiap bangsa, tetapi itu tidak terjadi dengan sendirinya. Perlu proses yang panjang dan seperangkat sistem yang baik serta pelaksanaannya juga baik. Salah satunya adalah peran guru yang menjadi ujung tombak pendidikan.

Maka mungkin tidak salah wacana Menko PMK Puan Maharani yang mengatakan akan mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar. Karena mereka melihat besarnya peran guru yang menjadi ujung tombak dalam melahirkan generasi bangsa. Sehingga pemerintah Indonesia sudah bekerja sama dengan beberapa negara untuk mengundang para pengajar, salah satunya dari Jerman. Seperti inilah bentuk kepedulian pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan di negeri kita.

Tidak salah orang-orang yang selama ini bergelut dalam dunia pendidikan mengkritisi wacana tersebut. Seperti yang dikatakan oleh ketua umum IGI ( Ikatan Guru Indonesia) yaitu Muhammad Ramli Rahim. Menurut dia jumlah guru di Indonesia sudah mencukupi bahkan semakin bertambah setiap tahun karena bertambahnya jumlah lulusan, dia mengatakan “Guru-guru kita sebenarnya punya potensi baik, tetapi beban kurikulum dan beban administrasi yang begitu berat membuat mereka sibuk dengan hal-hal yang tidak perlu”.

Hal senada juga di tuturkan oleh Satriwan Salim sebagai Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mengatakan bahwa wacana pemerintah mengundang guru dari luar negeri adalah keliru, karena secara nasional kondisi Indonesia tidak kekurangan guru.

Menurut UU No.14 thn 2015 tentang guru dan dosen dan PP No.19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan disebutkan bahwa guru yang berkualitas harus memiliki 4 kompetensi, yaitu kompetensi pedagogic, kompetensi professional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Kompetensi pedagogik dalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik atau kompetensi pengelolaan pembelajaran. Kompetensi profesional adalah “kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam”. kompetensi sosial adalah “kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar”. Kompetensi kepribadian adalah “kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik”.jadi disimpulkan meliputi 2 hal yaitu sikap dan keteladanan.

Empat kompetensi guru itu akan menjadikan guru sangat bagus dan akan menjadikan sosok guru yang berkualitas. faktor lain juga banyak yang menghambat salah satu yang paling sering menjadi dilema bagi seorang guru. Ketika dihadapakan pada profesionalitasnya dengan faktor kesejahteraan guru merupakan aspek paling krusial dalam dunia pendidikan. Tingkat kesejahteraan guru tergolong rendah, bahkan amat rendah, tidak setara dengan pengabdian yang diberikannya. Kesejahteraan guru yang rendah berdampak tidak menguntungkan terhadap motivasi guru, status sosial profesi keguruan, dan dunia pendidikan secara keseluruhan. Gaji merupakan aspek utama dan paling pokok dalam kesejahteraan guru. Selain gaji, kesejahteraan guru juga meliputi kelancaran dalam kenaikan pangkat, rasa aman dalam menjalankan tugas, kondisi kerja, kepastian karier sebagai guru, dan hubungan antar pribadi.

Walaupun saat ini guru sudah ada tunjangan sertifikasi yang tujuannya akan meningkatkan kesejahteraan guru, tapi dengan begitu ribetnya syarat tidak semua guru yang bersertifikasi mendapatkan tunjangan tersebut. Pada akhirnya guru disibukan mengejar syarat itu tidak fokus dalam mencetak generasi.

Dalam pandangan pemerintah, sistem pendidikan kita gagal melahirkan tenaga pendidik yang berkualitas sampai perlu mengundang guru dari luar, dalam pandangan para pratisi pendidikan bahwa potensi guru-guru sudah baik, tapi sistem pendidikan dengan kurikulum dan beban administrasi yang membuat guru tidak bisa fokus pada tujuan pendidikan. Berbeda dalam memandang tapi setuju bahwa ada sesuatu yang salah dalam dunia pendidikan kita yang harus menjadi perhatian bersama.

Apa yang akan terjadi pada generasi kita sementara guru-guru disibukan dengan beban kurikulum dan administrasi yang banyak, sementara guru-guru dari luar negeri mulai masuk mendidik mereka. Sementara kita belum tahu bagaimana ideologi, budaya, agama mereka tidakkah akan membahayakan generasi nantinya.

Yang perlu kita cermati adalah kiblat sistem pendidikan kita adalah negara-negara kapitalis sekuler. Sehingga standar kualitas pendidikan akan terpengaruh dengan standar mereka. Termasuk standar kualitas atau kualifikasi guru yang baik itu akan mengikuti standar mereka. Ini akan berbahaya, saat ini saja belum ada guru-guru dari luar negeri generasi kita sudah banyak tepengaruh ide-ide sekuler (memisahkan agama dari kehidupan), liberalis (bebas berperilaku), permisivisme (hidup serba boleh tidak tahu aturan dan norma) , hedonis ( hidup hanya kesenangan sesaat), pluralisme (paham memandang semua agama sama) yang sangat jauh bertentangan dengan budaya ketimuran dan bahkan agama. Kalau nanti guru-guru luar negeri sudah masuk dan mendidik secara langsung anak-anak generasi kita. Mereka akan langsung melakukan transfer budaya, ide-ide dari ideologi mereka, sehingga ini akan membahayakan keberlangsungan negeri ini, bahkan kedaulatannya akan terancam. Pada akhirnya tidak akan melahirkan genrasi berkarakter kuat untuk menjadi pemimpin yang mampu memutuskan sendiri permasalahan bangsa, tetapi generasi pembebek yang akan selalu membebek pada negara-negara maju tanpa sadar bahwa bangsa dan negara kita sudah di jajah secara non fisik.

Dalam Islam sosok seorang guru begitu mulia bahkan seorang khalifah ( kepala negara ) saja sangat menghormati guru. itu terlihat bagaimana khalifah Harun ar-Rayid dan ayahnya Muhammad Alfatih yang menyerahkan pendidikan anak-anak mereka kepada guru. bahkan menanamkan kepada anak-anak mereka dengan posisi mereka tidak lebih baik dari guru mereka. Sehingga akhirnya dari tangan seorang Guru lahir para pemimpin tangguh yang memiliki karakter kuat dan di takuti lawan dan disegani kawan.

Peranan guru dalam menciptakan generasi terbaik sangat berpengaruh, karena lembaga sekolah dan guru berfungsi mengarahkan, membimbing dan membina potensi dasar ada pada manusia. Potensi dasar ini ditanamkan dalam Tsaqafah Islam seperti Aqidah, fiqih, al-Quran, tafsir, dll. Yang akan menjadi pondasi awal.

Kompetensi kepribadian yang melakat pada figur guru di antaranya berkepribadian Islam, berakhlak mulia dan berjiwa pemimpin serta menjadi teladan bagi anak didiknya. Akan mengantarkan peserta didik menjadi generasi berkepribadian Islam kuat yang mampu menjadi prolem solving untuk masalah dia dan orang disekitarnya.

Selain itu dukungan sistem pendidikan dan negara sangat berperan dalam menunjang itu semua. Penghargaan khalifah kepada guru dengan memberikan gaji yang sangat besar dan mencukupi kehidupan mereka. Seperti pada masa Umar bin Khattab ra. Yang memberikan gaji 3 orang guru yang mengajar anak-anak di Madinah dengan masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar= 4,25 gram emas) ( sekitar 38 juta dengan harga 1 gram emas sekarang Rp 600.000,-)

Walahu’alam bishawab.

[Fz]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *